Terindikasi Tercemar, Pemda Tegal Diminta Serius Perhatikan Pokdakan

109

SENIN, 3 APRIL 2017

SLAWI — Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Benur Pur’in mengharap pada Pemerintah Kabupaten Tegal serius mendampingi kelompok perikanan. Karena selama ini terkesan kelompok perikanan terpinggirkan dibanding dengan kelompok pertanian yang mendapat pembinaan khusus dari dinas terkait.

Mualif menunjukkan kolam pembenihan udang.

Hal tersebut dikatakan oleh Waryono selaku Ketua Pokdakan Benur Pur’in saat dikunjungi di kompleks budidaya perikanannya di Desa Purwahamba, Kecamatan Suradadi, Kabupaten Tegal pada Cendana News, Senin (3/4/2017).

Kelompok Benur Pur’in merupakan Pokdakan yang bergerak di bidang pembenihan Udang Vannamei dan Udang Windu yang sebenarnya sudah ada sejak tahun 1990-an, tapi baru dibentuk kelompok pada tahun 2011. Sekarang beranggotakan 13 orang dengan total kolam lebih dari seratus kolam pembenihan.

Proses pembudidayaan benih udang adalah dengan cara mengambil air laut yang terlebih dahulu disaring baru kemudian dimasukkan dalam kolam penampungan air. Sedangkan benih telur diambil dari Cilacap. Usaha yang digeluti sejak tahun 1990-an ini pernah mengalami perkembangan yang sangat pesat, bahkan hampir setiap orderan dari berbagai daerah bisa diterima baik untuk dirinya ataupun kelompoknya.

Namun sekarang meski orderan banyak, tapi Pokdakan Benur Pur’in belum tentu mampu memenuhi kebutuhan konsumen. Karena semenjak berdirinya pabrik-pabrik di Pantura yang diduga banyak mengalirkan limbah ke laut, menyebabkan tingkat kematian yang cukup tinggi pada proses pembenihan udang mereka.

“Kami seringkali mencium bau air laut yang sangat amis setiap musim angin barat datang. Ini semenjak adanya pabrik-pabrik yang kami duga mengalirkan limbah pabrik. Sehingga saat kami melakukan penarikan air laut dan dimasukkan ke kolam pembenihan, maka hampir 50% dari benih udang langsung mati,” kata Waryono.

Mereka pun pernah menyampaikan hal ini kepada dinas terkait, namun dari dinas menyatakan bahwa air laut tidak tercemar mengandung racun. Dia juga menuturkan bahwa tidak mungkin kelompok budidaya salah urus dalam pembudidayaan udang.

“Kami telah melakoni usaha ini selama puluhan tahun dan sebelum adanya pabrik-pabrik yang dimungkinkan mengalirkan limbah racun usaha kami baik-baik saja. Bahkan 4 anggota dari Pokdakan sudah mengantongi sertifikat CPIB (Cara Pembenihan Ikan yang Baik) dengan kualitas excellent, serta kami juga memperoleh penghargaan juara I kategori kinerja kelompok tingkat Provinsi Jawa Tengah,” tegas Waryono.

Waryono

Hal tersebut juga dibenarkan oleh Mualif, salah seorang anggota Pokdakan Benur Pur’in. Dia mengatakan bahwa dulu mencari uang dari hasil pembenihan udang Vannamei dan Udang Windu sangat mudah.

“Kami membeli telur dari Cilacap dan kami tetaskan dalam masa 21 hari sudah panen. Jika dulu tingkat hidup benih ± 80% hidup, tapi sekarang tingkat kehidupan benih udang maksimal 50%. Sehingga usaha kami berkutat untuk gali lubang tutup lubang. Kami berharap pemerintah serius dengan kondisi yang kami alami saat ini,” katanya.

Waryono juga menambahkan bahwa kelompoknya selama ini menyediakan benih udang untuk memenuhi kebutuhan daerah Tegal, Brebes, Cirebon, Indramayu, dan beberapa daerah lainnya. Sehingga dia berharap dinas terkait serius dalam pendampingan pokdakan tidak sekadar mencari data kemudian tanpa tindak lanjut.

Jurnalis: Adi Purwanto / Editor: Satmoko / Foto: Adi Purwanto

Komentar