TMII, Gagasan Visioner Ibu Tien dan Pak Harto Satukan Keberagaman

0
28
Jajaran Direksi dan Karyawan TMII foto bersama di halaman Museum

SELASA, 4 APRIL 2017

YOGYAKARTA — Didirikan atas prakarsa Ibu Tien Soeharto dan dukungan Pak Harto, pada 42 tahun, silam, Taman Mini Indonesia Indah (TMII) yang berada di bawah naungan Yayasan Harapan Kita, memiliki peran penting sebagai alat pemersatu bangsa. Sebagai sebuah proyek visioner dengan pandangan jauh ke depan, TMII hingga kini masih dibutuhkan sebagai sarana pendidikan berbasis budaya, untuk menemukan jati diri bangsa. 

Direktur Utama TMII, Dr. AJ. Bambang Soetanto, mengatakan, sejak awal TMII dibangun sebagai sebuah wadah bagi seluruh elemen bangsa yang beraneka ragam, baik suku, agama maupun kebudayaan. TMII merupakan sebuah representasi bangsa Indonesia yang menggambarkan seluruh masyarakatnya di 33 provinsi, dari Aceh hingga Papua. TMII diibaratkan sebagai gambaran kecil dari keragaman Indonesia yang sangat besar.

“TMII didirikan dengan gagasan visioner yang luarbiasa dan tidak main-main. Selain untuk mengembangkan dan melestarikan budaya bangsa, serta sarana rekresasi wisata budaya, TMII juga didirikan sebagai sarana pendidikan bagi masyarakat agar cinta tanah air. TMII juga didirikan untuk mempererat rasa persatuan dan kesatuan bangsa demi tegaknya NKRI, melalui pendekatan budaya,” paparnya.

Dengan sejumlah anjungan yang menampilkan kebudayaan berupa anjungan rumah adat dari 33 provinsi, 20 anjungan museum, serta 7 bangunan ibadah agama dan atau kepercayaan dari seluruh Indonesia, TMII rutin menggelar 1000-1200 kegiatan kesenian setiap tahunnya, dan setiap daerah diberikan kesempatan secara bergiliran untuk menampilkan keseniannya masing-masing. “Dengan melihat dan mengenal budaya dari semua daerah, masyarakat akan merasa bangga, hingga akhirnya cinta pada bangsa dan tanah air. Karena hal seperti ini hanya ada di Indonesia. Tidak ada di negara lain,” katanya.

Kunjungan Direksi dan Karyawan TMII Jakarta di Museum Soeharto

Sementara itu berkait perkembangan TMII dari tahun ke tahun, Bambang mengatakan, jika TMII terus mengalami peningkatan. Di usia yang ke-42 tahun ini, jumlah pengunjung TMII saat ini tercatat mencapai sekitar 5,4 juta pengunjung setiap tahunnya. Jumlah tersebut meningkat dari tahun sebelumnya sebanyak 5,2 juta per tahun pada 2016, dan 4,7 juta per tahun pada 2015.

Sejak masa Orde Baru hingga kini, dukungan Pemerintah kepada TMII dikatakan juga semakin baik. Hal itu dibuktikan dengan banyaknya dukungan Pemerintah saat ini melalui penguatan fungsi TMII, dengan adanya 9 kementerian yang menjadikan TMII sebagai kawasan pemasangan prasasti persatuan dan kesatuan bangsa. Misalnya, penetapan TMII oleh Kementerian Agama sebagai kawasan toleransi umat beragama, hingga penetapan TMII oleh Kementerian Kehutanan sebagai Lembaga Flora dan Fauna.

“Memasuki usia 42 tahun ini, kita akan terus mengembangkan TMII sebagai kawasan pendidikan seni dan budaya. Tidak hanya kuantitasnya saja, namun juga kualitasnya. Termasuk ajaran nilai nilai-nilai filosofis yang dimiliki setiap daerah. Misalnya, karakter tentang kelembutan, saling toleransi, saling menghargai, dan sebagainya. Karena semua itu pasti dimiliki setiap daerah,” pungkasnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Jatmika H Kusmargana

Komentar