UPT Pasar Pandansari, Olah Sampah Organik Jadi Kompos

94

MINGGU, 2 APRIL 2017

BALIKPAPAN — Dalam sehari, volume sampah di Pasar Pandansari, Balikpapan, mencapai 25 hingga 40 ton. Dengan tingginya volume sampah itu, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Pasar Pandansari sejak 2013 mengelolanya untuk dijadikan kompos.

Ride, Bagian Unit Pelaksana Teknis Pasar Pandansari Kota Balikpapan (baju biru)

UPT Pasar Pandansari, Ride, mengatakan saat ini yang dilakukan yaitu sampah organik dikelola menjadi kompos, kemudian sampah plastik dikumpulkan oleh petugas dan tim dari bank sampah. “Sekarang kita baru bisa kelola sampah organik seperti bekas sayuran dan sampah yang basah, untuk diolah menjadi kompos. Sekitar 1000-1500 kilogram per hari. Kalau dibandingkan volumenya sampah per hari di pasar masih jauh,” jelasnya, saat ditemui Minggu, (2/4/2017).

Menurut Ride, proses kompos pertama dilakukan dengan pemilahan sisa sayuran kemudian dicacah. Selanjutnya bahan baku 1000-1500 kilogram itu difermentasi selama dua hari sekali dan dibalik agar masak. Apabila sudah kecoklatan atau kehitaman dijemur 2 hingga 3 hari untuk menghilangkan kadar airnya sebanyak 70 persen.

“Memang proses fermentasinya, membutuhkan waktu yang panjang sekitar 12-15 hari. Kendalanya kalau sudah proses fermentasi menimbulkan bau, sehingga dikeluarkan sedikit-sedikit. Sudah kering kita giling dihaluskan kemudian dianginkan selanjutnya dikemas. Kalau bahan bakunya 2000-3000 kilogram, bisa menjadi 20-30 kilogram kompos,” paparnya, sembari mencacah sampah organik yang sudah dipilah.

Kompos yang sudah dikemas itu digunakan untuk memupuk tanaman yang dikelola Pemerintah Kota, mengingat usaha kompos ini didanai oleh APBD Kota. “Biayanya tidak banyak, yang paling banyak itu BBM di dua mesin berbahan bakar bensin dan solar. Kapasitas mesinnya juga kecil 1000 kilogram, harga per mesin Rp7 jutaan,” katanya.

Ride menambahkan rumah kompos berukuran 2 x 3 meter ini berlokasi di belakang Pasar Pandansari. Sedangkan sampah plastik untuk sementara dikumpulkan menggunakan gerobak yang nantinya dipisahkan saat akan diangkat ke TPA.

Jurnalis: Ferry Cahyanti/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ferry Cahyanti

Komentar