Warga Kesal, Pembangunan SDN Kolit, Asal-asalan

62

MINGGU, 9 APRIL 2017

MAUMERE –  Kontraktor pelaksana pembangunan gedung dan 4 ruang kelas SDN Kolit, Desa Ojang, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, CV. Raiyan, perlu diberi sanksi tegas agar para kotraktor lain tidak dengan mudah menelantarkan sebuah proyek setelah mendapatkan uang.

Atap bangunan SDN Kolit yang belum selesai dikerjakan dan terkesan asal jadi.

Demikian dikatakan salah seorang warga Kolit, Heri, yang mengantar Cendana News melihat lokasi sekolah di Dusun Kolit, Desa Ojang, Sabtu (8/4/2017) siang. Dikatakan pula, para pekerja yang direkrut dari Dusun Lewomudat dan Dusun Ojang tidak mendapatkan upah. “Semen yang dititipkan di rumah warga juga sudah diambil oleh pihak pemilik, sebab katanya belum dibayar dan para pekerja juga belum dibayar, sehingga pengawas juga tidak berani datang mengambil mobilnya yang mogok di depan sekolah,” ujarnya.

Selain itu, kata Heri, kontraktor pun sudah mengambil mesin pencampur semen dan hanya meninggalkan rangkanya saja. Selain itu, daftar hadir pekerja hanya dicatat di tembok memakai kapur tulis dan terkesan tidak profesional. Pihak kontraktor juga mengerjakan tembok asal jadi, dan banyak yang miring. Bahkan, lanjutnya, tiang penyangga di bagian depan juga dikerjakan setelah atapnya selesai, sehingga tingginya tidak sesuai dan harus ditambah lagi dan diragukan kekuatannya.

“Anehnya, lagi, tiang bukannya dicor memakai semen dengan campuran batu dan kerikil, tapi hanya disusun dengan batu bata dan diplester atau ditutupi dengan campuran semen,” terang Heri.

Heri juga mengatakan, plafon atap dari bahan triplek yang hendak runtuh dan saat disentuh dengan kayu plafon tersebut hendak runtuh, sehingga diperkirakan tidak ada kayu penyangga yang dipasang untuk menahan plafon tersebut. Tembok bangunan pun terlihat bengkok dan ada selisih sekitar 30 centimeter, sehingga terlihat bengkok. Juga pemasangan pintu di ruang kelas, tidak lurus. Di bagian atas terlihat sisinya semakin mengecil, sehingga terlihat miring. “Banyak item pekerjaan yang tidak sesuai, sehingga bila digunakan dikhawatirkan bangunannya akan ambruk,” ungkapnya.

Heri, seorang warga Kolit menunjukkan plafon di ruang kelas yang hampir ambruk setelah dikerjakan.

Lasaraus Pala dan para guru lainnya yang ditemui Cendana News, berharap, agar pihak Inspektorat dan Dinas Pendidikan segera turun ke lokasi melihat langsung bangunan yang terlantar, agar bisa ditempuh langkah selanjutnya. “Harus ada tim penilai yang mengeceknya, apakah bangunan ini layak ditempati bila pekerjaannya dilanjutkan ataukah dibangun baru, sebab kami juga takut bila saat proses belajar mengajar bangunannya runtuh,” tutur Lasarus.

Pada papan proyek yang dipungut di semak belukar di sekitar sekolah menyatakan, pembangunan sekolah dilakukan oleh CV. Raiyan, dengan dana dari APBD II Sikka sebesar Rp521. 476.000, dengan masa kerja 120 hari kalender sejak September 2016, dengan konsultan pengawas CV. Bina Cipta Utama. Atap seng di bagian ujung atap belum terpasang dan terlihat kayu-kayu masih menjulur keluar. Jendela dan pintu di empat ruang kelas belum terpasang sama sekali, begitu pula lantainya masih ditimbuni tanah dan belum diratakan serta pemasangan pintu pun terlihat miring. Semua tembok pun belum diplester.

Tampak rangka dua mesin pencampur semen yang ditinggalkan di depan sekolah. Mesinnya sudah dilepas dan dibawa pergi. Dua sak semen yang mengeras serta beberapa besi cor tergeletak di dekat Posyandu serta beberapa kayu yang sudah mulai lapuk dimakan rayap.

Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary

Komentar