Warga Ojang di Sikka, Swadaya Bangun Jembatan Darurat

71

MINGGU, 9 APRIL 2017

MAUMERE — Jembatan yang menghubungkan Desa Timu Tawa dan Ojang di Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, putus akibat banjir besar pada Minggu (2/4/2017), lalu. Warga pun kemudian berinisiatif membangun jembatan darurat dari kayu, agar jembatan yang selama ini merupakan satu-satunya akses menuju Desa Ojang ini bisa dilewati masyarakat dan sepeda motor.

Sepeda motor yang kesulitan melintasi jembatan dan terpaksa didorong akibat tertahan tumpukan kayu di badan jembatan.

Demikian disampaikan Yoseph Hurint, warga Desa Ojang yang ditemui Cendana News di lokasi jembatan. Dikatakan Yoseph, banjir mengakibatkan gorong-gorong rusak dan menyebabkan badan jembatan ambruk ke kali dan terbawa banjir. “Warga kumpul uang sebesar 50 ribu rupiah setiap rukun tetangga untuk biaya tebang pohon dan bangun jembatan darurat, agar masyarakat bisa melintasinya sementara waktu,” ujarnya.

Pembangunan jembatan dikerjakan secara darurat dengan bergotong-royong oleh masyarakat Desa Ojang hingga selesai, dan bisa dilewati kendaraan roda dua dan masyarakat yang menuju jalan negara Trans Flores, untuk melanjutkan perjalanan ke Kota Maumere atau Larantuka.

Hal senada juga disampaikan Yanti Muda Lewar, warga lainnya. Dikatakan, seorang kontraktor yang sedang mengerjakan proyek di Desa Ojang menyumbang dana 500 ribu rupiah agar jembatan darurat bisa dibangun, meski hanya dari kayu saja. “Petugas dari Dinas Pekerjaan Umum Sikka, pernah datang membawa alat berat dan menggusur tanah di sekitar jembatan agar kendaraan roda empat bisa melintas melewati kali di sisi timur jembatan darurat,” ungkapnya.

Yoseph Hurint, warga desa Ojang, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka.

Rafael Raga, SP., Ketua DPRD Sikka saat dihubungi Cendana News mengaku sudah mengusulkan agar jembatan ini dibangun kembali menggunakan dan dalam APBD 2018. “Saya sudah mengusulkan agar dianggarkan di 2018, agar kendaraan roda empat tidak kesulitan memasuki Desa Ojang, sebab ada kendaraan truk yang mengangkut penumpang sekalian hasil kebun milik warga,” ungkapnya.

Kayu yang digunakan warga berukuran besar dan ada yang merupakan kayu setengah bulat dan tidak rata, sehingga sepeda motor yang melintasi jembatan harus berjalan pelan dan terkadang harus didorong. Sebuah truk pengangkut pasir terlihat bersusah payah melewati jalan di samping kali dan terpaksa harus berulangkali mencoba hingga bisa sampai ke badan jalan. Setelah tanah di depan roda kendaraan ditimbun batu, roda kendaraan yang awalnya tergelincir karena licin dan tertanam di tanah akhirnya bisa bergerak maju.

Jurnalis: Ebed De Rosary/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ebed De Rosary

Komentar