Yochy, Si Pena Emas Black Brothers

246

SENIN, 3 APRIL 2017

JAYAPURA — Yochy Pattipeiluhu si penulis lagu paling produktif dalam grup band legendaris Black Brothers yang dijuluki Pena Emas era 1976-1978. Tak hanya ahli main musik dan ciptakan lagu, laki-laki berambut kriwil ini juga ahli di seni lukis. Ingin tahu lebih jauh, simak penelusuran Cendana News berikut ini.

Yochy Patypeiluhu, pemain keyboard dijuluki Pena Emasnya grup band legendaris Black Brother.

Laki-laki kelahiran Sorong Doom, Papua Barat ini, menepak karir musiknya belum terlihat saat ia mencicipi dunia pendidikan pada masa Gubernur Pertama Irian Barat tahun 1956 di Sekolah Dasar (SD) Europe Leger School dengan bahasa sehari-hari yaitu bahasa Belanda. Enam tahun sudah dirinya jalani pendidikan dasar, naik tingkat menengah pertama ia masuk ke SMP Katolik (saat ini SMP YPPK Paulus) Padang Bulan.

Saat itulah militer Belanda meninggalkan Irian Barat sekitar tahun 1962 dan militer Indonesia mulai masuk. Selang tiga tahun kemudian, ia masuk SMA gudang (saat ini SMA Negeri 1 Jayapura). “Dulu sering disebut SMA gudang, karena bentuknya seperti gudang,” kata Yochy kepada Cendana News, belum lama ini.

Ingin menambah ilmu pengetahuan, dirinya pun masuk ke perguruan tinggi Universitas Cenderawasih Negeri (Uncen) Jayapura dan memilih jurusan sastra Inggris. Sayangnya, ia tak sampai selesai, dan hanya semester akhir di universitas tersebut, dengan alasan yang masih belum diketahui.

Berbicara musik, pria yang lahir di Sorong Doom (Irian Barat, saat ini Papua Barat) 7 September 1950 silam ini, mengenal dunia musik sejak duduk di bangku sekolah menengah pertama. Kala itu dirinya bergabung dalam grup sekolah tersebut dan itu berlanjut terus hingga dirinya duduk di bangku sekolah menengah atas.

Musik bagaikan pelampiasan kepenatan dan buah pikiran inspirasi kehidupan sosial. Saat itulah menjadi roh keluarnya talenta menghibur orang melalui musik, bahkan di perguruan tinggi saat dirinya aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Uncen, ia juga bergabung di band universitas itu.

Yochy Pattipeiluhu (paling kanan) saat berpose bersama kerabatnya.

“Saya tidak sampai lulus di Uncen, saya cuma sampai semester terakhir saja, tra (tidak) mau lanjutkan. Nanti jadi dosen, jadi lebih baik berangkat pigi (pergi). Kan kalau saya selesai, saya jadi dosen, sa tra (tidak) bisa jadi pemain musik lagi,” tutur pria yang miliki akta kelahiran berbahasa Belanda itu.

Baca juga: Amry Muraji Kahar, Si Peniup Terompet Black Brothers


Pertemuan almarhum Hengky Sumanti Miratoneng dengan Benny Bettay saat grup band Uncen melakukan tur keliling Irian Jaya tahun 1974 lalu. Nah, saat di Biak dirinya bertemu dengan almarhum Hengky MS. Dirinya saat itu manggung solo gitar dan setelah itu dirinya diajak almarhum ke Night Club Martini tempat almarhum menghibur tamu di sana.

“Saya sampai night club, lihat Hengky main musik.  Wah dia (almarhum)  boleh juga, main gitar sambil bernyanyi. Sama dengan saya juga main alat musik sambil nyanyi,” kata Yochy Phu, sapaannya saat itu.

Saat dirinya dipanggil untuk bernyanyi, sontak almarhum berikan gitar yang ia pegang untuk dimainkan Yochy. Almarhum Hengky sontak kaget, lantaran Yochy dapat memainkan alat musik keyboard sesuai keahlian Yochy yang dijuluki Pena Emas karena dalam grup legend itu dialah pencipta lagu terbanyak.

Sebelumnya, tahun 1972  saat berlangsungnya pop singer kontes se-Irian Jaya, si Tinta Emas itu ditunjuk sebagai pengiring kontestan-kontestan gunakan piano. Kesenangannya dalam bermusik tanpa kenal lelah, ia buktikan iringi seratusan lebih kontestan saat dalam babak penyisihan even tersebut.

Mustami sahabat si Pena Emas personil grup band legendaris Black Brothers.

“Saya iringi sendiri, kontestan satu persatu maju, saya iringi mereka punya pilihan lagu masing-masing seperti lagu Brass, lagu cinta bulan merah,” tutur pria yang hanya kuasai beberapa alat musik itu.

Alat musik yang ia kuasai saat itu hanyalah gitar melodi, keyboard, drum dan gitas bass. Sembari kuasai empat alat musik itu, yang paling utama ia suka memainkannya hanyalah gitar melodi dan keyboard. “Dulu pernah main terompet, sedikit-sedikit. Tapi saya tak dalami itu. Tai kalau melalui program semua irama alat musik saya kuasai,” demikian diungkapkannya.

Pria ini tak hanya mahir menciptakan sebuah syair lagu, melainkan dia ahli juga Face Painting  atau melukis wajah seseorang. Bahkan lukisan tersebut mirip dengan obyek yang ia lukis. Talenta lukis wajah itu ia dapat secara turun temurun dari keluarganya. “Lukis wajah itu turunan dari Bapak saya,” kata penikmat kacang merah di Negara Belanda itu.

Perkenalannya dengan almarhum Hengky  MS, ditambah dengan Benny Bettay menjadikan mereka bertiga akrab dan tak jarang menyanyi bersama di Night Club (Klub Malam) Cenderawasih Ria (kini Ajudan Jenderal-Ajend Kodam XVII Cenderawasih). “Dulu night club besar dengan kompleks hostes (wanita kelab malam) itu dari tahun 1972-1975,” kata Yochy yang telah bermusik sejak duduk dibangku SMP dan memiliki grup band dari sekolah itu.

Baca juga: Peniup Saksofon Black Brothers Memilih Jaga Rumah Papua Indonesia


Lahir zaman Belanda, ia sejak kecil gunakan bahasa Belanda, hingga saat ini pencipta lagu Irian Jaya 1 yang telah melanglang buana ke belahan Eropa, Asia Pasifik itu menguasai beberapa bahasa di antaranya Inggris, Belanda, Fijin (bahasa English-pasifik PNG), dan bahasa Indonesia. Sayangnya, bahasa asal daerahnya Maluku tak ia kuasai dengan baik. “Saya hanya logat Ambon saja campur Papua,” kata Yochy sambil tertawa.

Tahun 1974 ia yang telah akrab bersama almarhum Hengky MS, Benny Bettay, Stevie Mambor membentuk grub band Lost Iriantos yang dikumpulkan melalui proses seleksi oleh Andy Ayamiseba anak dari Dirk Ayamiseba, Ketua Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPR-GR) Irian Barat itu.

Andre Liem, pecinta seni dan alam Papua.

Ia pun melepas masa lajangnya bulan November 1978 dengan menikahi Imully Ridwan kelahiran 4 Juni 1962. Dari pernikahan tersebut si Pena Emas dikarunia tiga orang anak, masing-masing Diana Moresbiany Rosiana, Leslie Tohu Netherly dan Michael Edward Phillip.

Setahun kemudian, ia membawa istrinya hijrah ke negara kincir angin Belanda, ketika itu istrinya masih berusia 17 tahun. Saat di Belanda itulah ia meminta pemerintah setempat untuk naturalisasi kewarganegaraan dirinya yang sejak lahir zaman Belanda di Irian Barat.

“Jadi saya kembali ke warga negara Belanda, saat saya lahir di Irian Barat. Jadi dulu kan Belanda, terus Indonesia masuk, jadi saat ke Belanda saya minta kembali jadi warga negara Belanda,” kata Yochy yang telah bermukim di sana terhitung 37 tahun sampai saat ini.

Baca juga: Ini Perjalanan Grup Band Legendaris ‘Black Brothers’


Selama dua tahun sejak kedatangannya di Belanda, ia tak mempunyai pekerjaan dan dilarang pemerintah setempat untuk bekerja. Sehingga selama dua tahun itu ia dan istrinya dibiayai dinas sosial negara Belanda. Nah, tahun 1983, ia bersama Andy Ayamiseba ke daerah pasifik dan meninggalkan anak istri di Belanda.

“Kami keliling ke daerah pasifik diundang Vanuatu Partai. Kami tiba langsung di Port Vila ibu kota Vanuatu, di sana kami keliling Solomon Island Bridis, saat balik ke Belanda saya sudah data ijin kerja dari pemerintah di sana,” kata laki-laki yang gemar makan rendang sapi ini.

Penuhi undangan Vanuatu Partai itu, ia bersama Hengky MS, Benny Bettay dan Stevie Mambor membawa nama Black Brothers. Sayangnya dua personil Black Brother si Amry Kahar dan David Rumagesan tak ikut bersama keempat rekannya. Ia menyesali dua rekannya tak ikut, lantaran tak diajak oleh Andy Ayamiseba.

“Dia tra (tidak) bilang dong (mereka) dua Amry dan David. Saat kumpul di bandara Belanda, sebelum ke Vanuatu. Saya sudah Tanya ke Andy, mana Amry dan David. Andy Cuma bilang dong tra (mereka tidak) ikut,” tutur pria yang kuasai sebagian besar bahasa Eropa itu.

Yochy di Mata Sahabatnya 
Mustami pria kelahiran Enrekang, Sulawesi Selatan yang kesehariannya menjual jasa perbaikan jam tangan menjadi saksi hidup bagi empat teman yang tergabung dalam grup legendaris Black Brothers. Ia mengisahkan empat teman yang sudah dianggap saudara seperjuangan hidup di era 1970-an masing-masing Hengky MS, Benny Bettay, Stevie Mambor dan Yochy Patypeiluhu.

“Yang saya kenal baik itu Yochy, Hengky, Steve dan Benny. Karena mereka semua dari Jayapura baru lepas ke Jakarta. Kalau Amry dan David saya tak kenal,” kata Taming saat ditemui Cendana News, Senin (3/4/2017).

Perkenalan dirinya dengan si ‘Pena Emas’ julukan Yochy Patypeiluhu di tahun 1971, kala itu Yochy dengan tampilan rambut gondrong datang ke ke tempat usaha perbaikan jam tangannya di Pasar Abe (kini Polsek Abepura) untuk memperbaiki jam tangan. Yochy yang cukup gaul ini tak diketahui identitas kerjanya oleh Taming. “Dari dulu memang Yochy itu berambut gondrong, sampai sekarang saya lihat dia masih gondrong,” kata Taming sapaan sehari-hari saat ini di emperan toko Abepura.

Beberapa hari kemudian, datanglah Yochy dan meminta pertolongan sedikit uang yang akan ia gunakan naik bis ke komando daerah kepolisian yang sekarang Kepolisian Daerah (Polda) Papua. Saat itu tak ada angkutan umum sangat susah, lanjutnya hanya ada Damri dan hanya ada Kombi. “Dia (Yochy) bilang latihan di tempatnya polisi, saya bilang latihan apa? Dia bilang latihan band,” kata Taming yang belajar main gitar bass di Makassar tahun 1967-1968 lalu.

Waktu saya main di Night Club Cenderawasih, baru sahabatnya Yochy mengetahui dirinya bisa bermain alat musik. Ia akui saat hiburan malam saat itu di sepanjang jalan menuju night club banyak sekali perempuan hiburan malam atau yang biasa disebut hostes.

“Banyak sekali hostes di night club itu, tapi saya tak pernah lihat Yochy meminum minuman keras dan main perempuan. Orang tidak ada yang tahu kalau sampai sekarang kalau saya ini tak suka minum dan main perempuan,” tuturnya.

Jadi, kata Taming, sahabatnya itu tergabung dalam grup band milik Polri waktu itu. Sementara dirinya tergabung ke grup band Cenderawasih milik Kodam. “Sampai sekarang kalau Kodam ada kegiatan besar dan gunakan band, biasa saya dipanggil untuk bergabung,” ujarnya.

Melalui media ini pula, ia infokan kepada Yochy bahwa betapa kerinduannya untuk bertemu yang sudah puluhan tahun tak mendengar suara Yochy, bahkan melihatnya. Sungguh perpisahan yang cukup lama membuat tukang memperbaiki jam itu, hanya bisa menanti sahabat lama yang tak kunjung datang.

“Yochy… saya kangen kamu. Kapan saya bisa ketemu kamu. Baru-baru ini saat Yochy di Kota Jayapura, saya bisa bertemu, karena saya sakit,” demikian dikatakan Taming sambil mata berkaca-kaca seakan hendak luapkan tangisnya.

Yochy dinilai teman-temannya yang masih setia menunggu di kota Jayapura, sebagian besar anak-anak dari Makassar, Sulawesi Selatan. Cara bergaulnya yang diacungi jempol itu membuat rekan-rekan sebaya Yochy kala itu selalu setia, walaupun dalam keadaan sulit di zaman itu. “Yochy itu cara bergaulnya bagus. Saya tahu semua saudara Yochy, mulai dari Boy pemain drum, Yophie pemain keyboard, Eddy juga main keyboard di masing-masing band,” kata Taming.

Perpisahan dengan dirinya pun terjadi di tahun 1975 saat Yochy dan Hengky MS berangkat ke Jakarta gunakan kapal laut. Nah, saat dirinya menikah sempat terkejut dengan perasaan bangga, karena sahabatnya yang tergabung dalam Black Brothers telah membuat album.

“Saya tahu karena saat itu kasetnya banyak beredar. Saya menyesal tak simpan kaset-kasetnya, karena waktu itu saya pikir, nanti pasti banyak dijual. Lagu yang paling suka di album Black Brothers lagu keroncong Gunung Syclop,” ujarnya.

Sejak itu hingga kini ia tak ada kontak lagi  dengan Yochy. Dirinya hanya mengetahui kabar mereka melalui berita-berita yang beredar. Seiring berjalannya tahun, ia tetap menjadi pemain gitas bass grub band Cenderawasih hingga tahun 2012.

Andre Liem salah satu saksi mata melihat Yochy di era mereka tahun 1972, juga sering menonton konser lokal di Abepura. “Stevie Mambor, Yochy, Hengky MS sering saya nonton mereka manggung. Tidak manggung juga saya sering lihat mereka berkeliaran di wilayah Abepura. Mereka orangnya ceria dan serius sekali dalam berseni, karena saya juga sering lihat mereka latihan,” kata Andre yang mempunyai jiwa cinta alam Papua kini berusia 54 tahun.

Saat puluhan tahun tak bertemu, dirinya dapat bertemu di tahun 2017, saat mereka berkunjung ke Kota Jayapura, Papua. “Tak ada yang berubah dari jiwa seni mereka, karena karya mereka terus mereka nyanyikan setiap duduk dan bercanda ria bersama penggemarnya di sini. Sayang sekali Yochy dan Amry cepat balik ke negara Belanda,” tutur Andre.

Kembali ke Taming, kini dirinya setia menunggu sahabat tercintanya itu untuk bertemu dan melepas kerinduan mereka pada satu tempat, entah di mana. Semoga pertemuan yang diharapkan dapat terkabul, mengingat usia mereka telah masuk senja. 

Jurnalis: Indrayadi T Hatta / Editor: Satmoko / Foto: Indrayadi T Hatta

Komentar