Adiwiyata, Hijaukan Lingkungan Sekolah

0
45

RABU, 10 MEI 2017

MALANG — Penghargaan Adiwiyata adalah salah satu penghargaan tertinggi bidang lingkungan hidup yang khusus diberikan kepada sekolah-sekolah yang dianggap mampu mendidik siswa-siswinya menjadi individu yang bertanggung jawab terhadap lingkungan hidup. Sedangkan program Adiwiyata sendiri merupakan program dari Kementerian Lingkungan Hidup untuk mendorong kesadaran seluruh warga sekolah dalam upaya pelestarian lingkungan hidup.

Suasana menanam Toga.

Agar bisa mewujudkan program tersebut di tingkat Sekolah Menegah Pertama (SMP), Ikatan Mahasiswa Pecinta Alam Universitas Brawijaya (IMPALA UB) menggelar sebuah Aksi Lingkungan Hidup di SMPN 17 Malang yang berlokasi di Jalan Pelabuhan Tanjung Priok, Kelurahan Bakalan Krajan, Kecamatan Sukun, Kota Malang.

Menurut Lius Alviando, selaku ketua panitia menyampaikan, aksi lingkungan hidup dari IMPALA UB ini ditujukan sebagai pengenalan dan sosialisasi tentang program Adiwiyata. Tidak hanya itu, kegiatan ini sekaligus juga sebagai bentuk aksi nyata untuk membantu SMPN 17 supaya bisa memenuhi kriteria sekolah Adiwiyata khususnya untuk di tingkat provinsi.

Lius Alviando dan Andi Aryananda Wahab.

“Aksi lingkungan hidup ini memang fokusnya di sekolah-sekolah terutama di SMP di Kota Malang, kali ini kita pilih SMPN 17,” jelasnya kepada Cendana News, Rabu (10/5/2017).

Saat ini, sudah ada undang-undang dari Pemerintah mengenai lingkungan hidup yang diutamakan lebih ke kegiatan partisipatif dari masyarakat itu sendiri. Fokusnya mulai dari pendidikan dulu, yakni di sekolah-sekolah. Kita ajak mereka secara langsung praktik di lapangan.

“Terus juga tujuan lain dari kegiatan ini adalah untuk memajukan Adiwiyata tingkat kota dari SMPN 17 ke tingkat provinsi,” ungkapnya.

IMPALA bersama dengan siswa SMPN 17.

Dikatakan dalam aksi lingkungan hidup tersebut ada kegiatan penanaman pohon dan Tanaman Obat Keluarga (Toga). Selain itu terdapat pula penyampaian beberapa materi mengenai hidroponik, vertical garden dan pengolahan sampah. Tidak hanya berupa materi, IMPALA UB juga langsung mempraktikkan bersama-sama dengan siswa SMPN 17.

“Untuk pemateri langsung dari anggota IMPALA sendiri yang  telah mendapatkan bekal dari para dosen yang sudah ahli di bidang tersebut,” katanya.

Lebih lanjut Lius mengatakan, usai kegiatan aksi lingkungan hidup ini berakhir, akan ada monitoring dari pihak IMPALA untuk melihat hasil dan respon warga dari sekolah tersebut seperti apa. Kalau hasilnya baik, tahun depan pihaknya akan mengadakan lagi di sekolah yang lain.

Sementara itu, Andi Aryananda Wahab sebagai koordinator lapangan mengaku, pemilihan SMPN 17 sebagai lokasi aksi lingkungan hidup  berdasarkan survei yang sebelumnya mereka lakukan.

Taman Toga.

“Dari hasil survei tersebut, SMPN 17 ternyata Adiwiyatanya masih di tingkat kota. Jadi, kita melakukan aksi lingkungan hidup di sini untuk meningkatkan Adiwiyata SMP 17 ke tingkat provinsi,” akunya.

Menurut Andi, kondisi SMPN 17 secara umum sudah cukup bagus, karena sudah banyak tanamannya. Hanya masih ada beberapa kekurangan dari sekolah tersebut yang perlu dibenahi yakni belum adanya Toga, kemudian tanaman vertikal gardennya belum tertata rapi dan belum adanya hidroponik sebagai ikon untuk bisa naik ke Adiwiyata provinsi.

“Masalah utama yang ada di SMPN 17 adalah sampah. Karena di sini masih minim pengolahan sampah, jadi kita berharap dengan adanya kegiatan ini kesadaran warga SMPN 17 terhadap sampah bisa lebih meningkat. Sehingga melalui aksi ini pula diharapkan nanti SMPN 17 bisa maju ke Adiwiyata provinsi,” tuturnya.

Andi mengatakan, siswa-siswi SMPN 17 sangat antusias dengan kegiatan aksi lingkungan hidup ini. Para siswa tidak hanya melihat, tetapi mereka turut terjun langsung ikut menanam pohon, toga, membuat vertical garden dan hidroponik. Kebanyakan siswa yang ikut berpartisipasi dalam aksi tersebut adalah siswa kelas 7 dan 8.

“Tadi ada 10 pohon yang ditanam yang terdiri dari Mahoni dan Sengon. Sedangkan untuk toganya ada 25 tanaman yang terdiri dari lima jenis tanaman yakni Temu Kunci, Kunyit, Kumis Kucing, Serai dan Jahe,” pungkasnya.

Jurnalis: Agus Nurchaliq / Editor: Satmoko / Foto: Agus Nurchaliq

Source: CendanaNews

Komentar