Bangkitkan Nasionalisme, Mercu Buana Gelar Even 'Back to War'

0
25

KAMIS, 18 MEI 2017

JAKARTA – Memperingati Hari Kebangkitan Nasional, Fakultas Ilmu Komunikasi Pemasaran dan Periklanan Universitas Mercu Buana Jakarta menggelar even bertajuk ‘Back to War’. Even yang digelar pada Kamis-Sabtu (18-20/5/2017), ini, memamerkan perjalanan sejarah perang, serta dua seminar bertema ‘Membangkitkan Semangat Nasionalisme dalam Menghadapi MEA dan Membangkitkan Semangat Nasionalisme Generasi Millenial.

Soehardjo menjelaskan miniatur pameran

Ananta Hari Noorsasetya, Kurator Pameran, menjelaskan, tujuan diadakannnya pameran ini di antaranya ingin memperkenalkan sebuah alat dunia melalui grand design dan estetika alat-alat perang yang diciptakan oleh manusia. Menurutnya, kita sebagai manusia tidak lepas dari keinginan untuk membuat sesuatu yang berbeda, karena di tiap negara memiliki kebangsaan sendiri-sendiri. Misalnya, Indonesia, bangga dengan operasi Aceh, Trikora, Serangan Umum 1 Maret, yang ketika itu andil Belanda cukup kuat untuk menguasai Indonesia dengan alat-alat perangnya, salah satunya pasukan trooper.

Ananta melihat, sebagian besar orang-orang tidak memikirkan tentang grand design yang pada dasarnya grand design yang diciptakan pada masa itu justru memiliki nilai estetika yang sangat tinggi. Namun, kita tidak pernah lupa dengan apa yang namanya arti dari estetika kendaraan perang tersebut. Misalnya, kita kekurangan dengan adanya alutsista yang kita ciptakan sendiri yang akhirnya kita juga tidak bisa atau tidak mau mengikuti para drafter-drafter muda yang hebat untuk menciptakan grand design alutsista yang ada di Indonesia.

“Untuk membuat sebuah gaya alat-alat perang di dunia, saya memperkenalkan pameran tentang mainan-mainan perang, yang menurut saya itu merupakan alat komunikasi antar bangsa,” jelasnya.

Tema yang diangkat pada pameran kali ini adalah Back to Unite, menurut Ananta, memiliki arti ‘kita kembali bersatu’ setelah adanya perang dunia. Pada akhirnya kita kembali kepada satu kesatuan umat manusia.

Selain itu, manfaat pameran bagi mahasiswa, di antaranya dari sisi marketing komunikasi. Mereka akan banyak belajar bagaimana memproduk atau memasarkan alat-alat perang yang diciptakan oleh bangsa kita yang sebenarnya tidak kalah teknologinya dengan bangsa lain.

Tandatangan peresmian pameran

Artinya, mereka (mahasiswa) tidak lepas dari marketingnya. Jika dilihat dari Seni Rupa, seharusnya teman-teman (mahasiswa desain) juga paham tentang diorama-diorama yang diciptakan, karena diorama itu merupakan andil besar untuk membuat teman-teman broadcasting membuat sebuah film yang berkaitan dengan perang. Dengan adanya diorama, orang akan tahu situasi yang terjadi pada masa itu.

Awalnya, pameran ini sebenarnya mengundang hampir sebagian besar komunitas. Namun, maju mundurnya para komunitas disebabkan kurangnya atau tidak terlalu banyak jumlah miniatur mainan perang yang mereka miliki, serta kekhawatiran terkait keamanan miniatur, yang dimiliki yang susah mendapatkannya.

“Pameran ini sangat terbantu sekali dengan peranan Bapak Soehardjo yang merupakan kolektor miniatur sejarah terbesar di Indonesia. Bisa dikatakan se-Asean dengan mau menampilkan koleksinya di pameran ini, sehingga kita tidak terlalu sulit untuk mendapatkan miniatur yang kita perlukan dalam pameran ini. Persiapan pameran ini sekitar 4 bulan, dan setiap mahasiswa yang menjaga di ruang pameran sudah dibekali pengetahuan seputar miniatur yang ditampilkan untuk dapat dijelaskan kepada pengunjung yang hadir,” kata Ananta.

Sementara itu, menurut Dr. Kusuma, pejabat Pusat Sejarah TNI, pameran ini sangat baik. Dengan menampilkan museum sejarah perang dengan koleksi yang ditampilkan sangat bagus, yang di Indonesia sendiri belum banyak ada koleksi seperti ini. Bila dibandingkan dengan yang berada di pusat sejarah TNI, kalau yang ditampilkan di sini lebih menyeluruh, sementara di pusat sejarah TNI hanya yang pernah digunakan oleh TNI. Pameran miniatur ini juga menyangkut tentang dunia, seputar perang dunia.

Dikatan Kusuma, pameran ini sangat menarik karena visualisasinya bukan hanya alat alutsistanya saja, tetapi juga penggambaran terhadap kejadiannya. Untuk generasi muda, dengan adanya pameran ini sangat bagus sekali untuk mengetahui sejarah dunia. Bisa dilihat, alutsista tank-tank ini, mungkin anak-anak hanya mengenal dari bentuk mainan, tetapi dengan adanya pameran ini dapat melihat langsung tank yang digunakan dalam suatu perang dunia. “Pameran ini sangat bagus untuk edukasi bagi anak-anak generasi sekarang ini,” katanya.

Senada, Mayjen TNI (Purn) Agus Gunaedi P., yang pernah menjabat sebagai Pangdam II/Sriwijaya, menilai pameran ini dari dua pihak. Pertama adalah orangtua kita, yakni Bapak Soehardjo, yang dengan ketekunannya mengumpulkan koleksi-koleksi ini dengan background ketertarikan beliau seputar kemiliteran dan sejarah, baik sejarah Indonesia maupun luar negeri, terutama dalam perang dunia pertama dan kedua, sehingga beliau banyak memiliki koleksi-koleksi yang tak ternilai harganya.

Agus Gunaedi

Kedua, yakni penyelenggara pameran, yaitu para mahasiswa yang belajar dalam bidang komunikasi. Perpaduan keduanya antara mahasiswa yang merupakan generasi penerus bangsa menyerap apa yang dipikirkan oleh Pak Hardjo, sehingga menjadi bekal bagi para calon pemimpin bangsa ke depan, dengan tidak meninggalkan atau melupakan sejarah. “Pameran ini salah satu bentuk pendidikan untuk calon generasi penerus bangsa dengan mengetahui sejarah yang terjadi di masa lalu,” jelasnya.

Jurnalis: M Fahrizal/ Editor: Koko Triarko/ Foto: M Fahrizal

Source: CendanaNews

Komentar