Banyak Pendaki Gunung tak Peduli Lingkungan

56

RABU, 17 MEI 2017

MAKASSAR — Di banyak tempat, organisasi pecinta alam di luar sekolah atau kampus juga berkembang. Misalnya, adanya Organisasi Pecinta Alam (OPA) Bumi. Organisasi ini didirikan pada 28 November 2015 lalu.

OPA Bumi saat beraktivitas di Bawakaraeng.

Didirikan oleh Ariandi. Organisasi ini juga bertujuan untuk menyatukan orang-orang yang memiliki hobi sama. Hingga kini sudah memiliki 23 orang anggota terdiri dari berbagai usia.

“Karena kami telah lulus sekolah sehingga saya dan teman-teman membentuk organisasi ini untuk menyatukan kami,” ungkap Ariandi saat ditemui Cendana News di sekretariat OPA Bumi di Jalan Gunung Nona Baru Nomor 12.

Organisasi ini mengajarkan anggotannya mencintai alam tanpa kekerasan. Mengingat beberapa waktu lalu Mapala UII Yogya melakukan kekerasan pada anggota barunya. Di komunitas ini cukup dengan materi mountenering kepada anggota.

Ariandi menambahkan, apa yang dilakukan oleh Mapala UII semestinya tidak terjadi.

“Latihan fisik juga cukup dengan memberikan materi pada peserta anggota Mapala seperti surviver, sefty, dan packing. Jadi untuk mengajarkan anggotanya dengan kekerasan itu tidak baik,” imbuh Ariandi.

Untuk para anggota baru, OPA Bumi melakukan diksar dengan latihan fisik dan mental. Seperti pemberian materi tentang mountenering dan latihan fisik serta persiapan mental. Hal inilah yang diajarkan pada anggota barunya.

Yuda Pratama Satria, salah satu anggota OPA Bumi mengungkapkan, awal pertama gabung dirinya kurang mengerti tentang organisasi ini.

Aksi bersih-bersih pantai.

“Setelah saya bergabung dengan organisasi OPA Bumi saya lebih jatuh cinta lagi dengan alam dan ingin menjaganya,” ungkap Yuda yang sekaligus koordinator lingkungan hidup.

Tidak tanggung-tanggung, organisasi OPA Bumi ini sudah melakukan ekspedisi ke 4 puncak. Gunung-gunung yang tinggi di Sulsel, seperti Gunung Nona, Gunung Lantimojong, Gunung Bambapuang, Gunung Sesang.

Sepanjang ekspedisi yang dilakukan di gunung-gunung tersebut, OPA Bumi melihat banyak pecinta alam lain yang masih kurang kesadarannya. Karena pecinta alam lain rupanya hanya memaknai sekadar mendaki.

Yuda menambahkan, banyak pecinta alam asal mendaki saja, namun tidak memperhatikan sampah-sampah.

“Hal ini perlu ditindaklanjuti dan jika dibiarkan, ini bukanlah tindakan pecinta alam namun merusak alam,” jelas Yuda.

Organisasi ini juga menceritakan ekspedisi yang paling berkesan yang dilakukan. Adalah saat mendaki Gunung Lantimojong. Sebab menempuh trip yang berat dan menghadapi cuaca yang terik saat itu.

Yuda juga menuturkan, dalam melakukan pendakian diperlukan fisik, mental, serta alat sefty yang memadai.

Salah satu ekspedisi OPA Bumi.

“Untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan dalam mendaki dan mengurangi risiko kecelakaan pada saat mendaki,” tambahnya.

Untuk memperingati Hari Wanadri, OPA Bumi  akan melakukan kegiatan bersih-bersih alam. Seperti di pantai dan pulau-pulau kecil yang ada di sekitar Makassar. Hal ini dilakukan untuk menyadarkan orang betapa penting menjaga alam tempat tinggal. Bahkan ke depan, OPA Bumi ingin menambah materi rock climbing.

Jurnalis: Nurul Rahmatun Ummah / Editor: Satmoko / Foto: Nurul Rahmatun Ummah

Source: CendanaNews

Komentar