SELASA, 16 MEI 2017

SLAWI --- Kondisi ekonomi kreatif di kabupaten Tegal mulai menunjukkan geliatnya. Arief Rahman Hakim,ST contohnya. Pemuda kelahiran Desember 1986 ini terbilang cukup berhasil di bidang usaha kaos Tegalan.

Hakim pelaku usaha
Pemuda yang juga berprofesi sebagai seorang guru ini mengaku menjalankan bisnis kaos Tegalan sejak dua tahun lalu. Hakim mengatakan, awalnya hanya untuk memberdayakan pemuda-pemuda desa setempat, tapi ternyata kaos Tegalan produksinya mendapat respon baik di pasaran, khususnya kalangan anak muda dan mahasiswa.

"Awalnya saya hanya sekedar untuk memberdayakan keterampilan pemuda-pemuda di desa kabunan kecamatan Dukuhwaru Kabupaten Tegal. Mereka mempunyai keterampilan tapi masih pada menganggur, jadi kita bekerjasama bagaimana agar menjadi produktif," sebutnya kepada Cendana News, Selasa (16/5/2017).

Kaos-kaos produksinya ini terbilang khas karena mengambil tema dan gambar klasik produk dan bahasa Tegalan.

"Saya mempunyai desain khas, dari mulai gambar produk khas Tegal dan juga kata-kata atau bahasa Tegalan yang sudah terkenal dengan ngapak-nya. Dan peminatnya pun sudah mulai banyak, khususnya kalangan pemuda dan mahasiswa yang sudah mulai percaya diri (PD) sebagai orang ngapak."

Meski belum mempunyai toko, tapi penjualan dari ARH Clothing sebagai besutan branding-nya ini sudah sampai keluar kota. Bahkan dalam sebulan tidak kurang dari seratus kaos dan puluhan jaket bisa dipasarkan dengan total omset mencapai delapan hingga 10 juta rupiah.

"Usaha saya ini termasuk usaha home industri yang memanfaatkan media sosial sebagai ujung tombak pemasaran. Dengan itu saya bisa menekan harga produksi di bawah harga pasaran. Jika di toko kaos dengan kualitas yang sama dibanderol Rp.75.000- Rp.80.000 tapi di tempat saya harganya cuma Rp.60.000. Sehingga dengan harga tersebut cukup terjangkau oleh kalangan pelajar dan mahasiswa," jelasnya.

Meski demikian, Hakim mengatakan bahwa usaha kaos ini tidak selamanya berjalan lancar, adakalanya menemui hambatan dan tantangan. Seperti fanpage di medsos nya tidak bisa diakses kembali karena di hack oleh oknum yang tidak dikenal. Selain itu juga, peralatan yang masih relatif sederhana, manual juga menjadi tantangan dalam memenuhi permintaan dalam jumlah partai besar.

"Seperti kemarin, saya pernah mendapatkan permintaan kaos sebanyak 200 buah, tapi karena peralatan masih sederhana, kami kerja keras lembur untuk mengejar deadline permintaan," sebutnya.

Hakim menambahkan bahwa usahanya ini menerima desain sendiri, jika pembeli membawa desain dan kaos sendiri maka harga satuan 35.000, tapi jika dalam jumlah lebih dari satu lusin maka biaya sablon Rp. 20.000 per satuan. Tapi untuk pembeli yang hanya membawa desain sendiri, dikenakan harga Rp. 75.000 per satuan dan harga lusinan Rp.55.000 per satuan.

"Selama ini banyak pelajar dan mahasiswa yang juga membuat desain sendiri baik untuk komunitas Tegalan ataupun komunitas Ikatan mahasiswa Tegal yang kuliah diluar daerah," kata Hakim.

Sementara itu, Ahmad Jumadi (29) salah seorang pembeli mengatakan bahwa sudah beberapa kali membeli kaos dan jaket produksi Hakim, karena dengan kualitas yang sama di pasaran tapi bisa mendapatkan dengan harga grosir.

"Saya sering membeli beberapa kaos produksi mas Hakim, selain karena merupakan sahabat saat kuliah, kaos yang saya beli juga bisa saya jual kembali karena memang harga grosir," kata Jumadi.
Jurnalis : Adi Purwanto / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Adi Purwanto
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours