Berjualan Kacamata Keliling, Marinus Kantongi Rp 5 Juta Per Hari

0
19

KAMIS, 18 MEI 2017
 
YOGYAKARTA —  Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri — Sepintas, Marinus Wau (40) hanyalah seorang penjual kaca mata keliling biasa. Warga Dusun Mancingan, Desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul ini, setiap hari menggantungkan hidup dengan menjajakan kacamata di sekitar lokasi wisata Pantai Parangtritis yang terletak tak jauh dari rumahnya. Siapa sangka, dari usahanya itu, Marinus bisa menghidupi keluarga dan mendapatkan penghasilan jutaan rupiah setiap hari.

Marinus.

Sebelum memulai usaha menjual kaca mata sekitar 10 tahun lalu, Marinus bekerja sebagai seorang sales. Setelah menikah, ia memutuskan berhenti bekerja dan mulai membuka usaha di Desa Parangtritis yang merupakan desa tempat tinggal istrinya. Ia memilih berjualan kaca mata, karena saat itu belum ada penjual kacamata di Pantai Parangtritis. Bermodal uang seadanya, ia pun membeli dagangan kacamata untuk ia jual kembali. Sasarannya adalah para wisatawan yang banyak berkunjung ke Pantai Parangtritis.

Setiap hari, Marinus berkeliling dengan berjalan kaki menyusuri hamparan pasir Pantai Parangtritis di bawah terik sinar matahari menyengat. Setiap pengunjung yang baru datang, satu per satu ia tawari dagangan kaca mata. Setelah bertahun-tahun menjalani dengan penuh ketlatenan, usaha Marinus mulai berkembang. Ia pun mulai memiliki karyawan yang ikut menjualkan dagangan. Tak heran, karena ia boleh dibilang merupakan satu-satunya penjual kaca mata di Pantai Parangtritis kala itu.

“Saat awal berjualan itu sehari saya paling mendapat pemasukan Rp500 ribu. Setelah berjalan bisa naik, jadi Rp2 juta. Kini setelah memiliki 10 orang yang menjualkan dagangan saya, sehari bisa dapat Rp5 juta. Kalau pengunjung sedang ramai bisa lebih. Sampai-sampai banyak yang heran dan tidak percaya,” ujar lelaki asal Sumatra Utara itu, belum lama ini.

Marinus mengaku, biasa membeli dagangan kaca mata dari toko grosir di Yogya. Satu buah kaca mata ia jual mulai dari Rp15 ribu hingga Rp50 ribu tergantung jenis dan kualitas. Meski telah memiliki 10 anak buah, ia tetap rutin berkeliling untuk menjajakan sendiri dagangannya pada para pengunjung. Dalam sehari, ia mengaku, bisa menjual 15-50 biji kacamata.

“Kendala utama mengembangkan usaha ini adalah modal. Karena saya harus menyetok kaca mata dalam jumlah cukup banyak. Sehingga modal harus berhenti sampai habis terjual,” katanya.

Selama ini, Marinus mengaku hanya memanfaatkan pinjaman modal uang dari rentenir yang banyak berkeliaran di dusunnya. Namun, ia mengaku, pinjaman modal dari rentenir sangat berat. Bagaimana tidak, selain bunganya besar, ia juga harus membayar cicilan setiap minggu sekali. Padahal dalam waktu seminggu dagangannya belum seluruhnya habis terjual.

“Saya bersyukur sejak beberapa waktu terakhir ada program Tabur Puja. Program ini sangat membantu dalam hal permodalan. Bahkan menurut saya paling enak dibandingkan pinjaman lainnya,” ujarnya.

Sejak adanya program Tabur Puja dari Yayasan Damandiri di dusunnya, Marinus pun tak lagi meminjam uang dari rentenir. Ia beralih meminjam modal dari koperasi Tabur Puja untuk mengembangkan usaha. Terakhir ia meminjam modal usaha Rp2 juta. Seluruh modal itu langsung ia gunakan untuk membeli dagangan kaca mata. Hal itu penting agar modal pinjaman tidak terpakai untuk kebutuhan lain.

“Selain prosesnya mudah, pinjaman Tabur Puja bunganya sangat ringan. Dan yang paling penting, bisa dicicil setiap satu bulan sekali. Jadi enak, uang bisa berputar dulu. Beda dengan rentenir, yang harus membayar cicilan tiap minggu,” katanya.

Dari hasil usaha berjualan kacamata keliling itu, bapak 4 anak itu pun mengaku bisa mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari. Tak hanya sekadar untuk menyekolahkan anak-anak, ia pun juga bisa membeli sejumlah kebutuhan mulai dari membeli beberapa motor, membangun rumah hingga menabung dalam bentuk tanah.

“Kalau dibanding menjadi sales dulu jauh. Lebih enak sekarang. Selain pendapatan jauh lebih besar, kita juga tidak tergantung orang lain dan bisa lebih mandiri,” pungkasnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana

Source: CendanaNews

Komentar