Bisnis Kursi Kantor Bekas, Menggiurkan

89

JUMAT, 19 MEI 2017

SLAWI — Bagi sebagian masyarakat, khususnya bagi sebuah instansi baik swasta ataupun pemerintah, tentu banyak sekali perlengkapan kantor yang sudah berusia puluhan tahun yang hanya menjadi tumpukan sampah di gudang-gudang. Tapi, di tangan Maspur, semua barang-brang bekas kantor bisa disulap menjadi barang baru yang berkualitas seperti benar-benar baru.

Maspur (bertopi) melayani pelanggan, Rido ,jaket merah (kiri.)

Maspur mengaku memperoleh keterampilan mereparasi berbagai perlengkapan kantor karena pernah menjadi karyawan di toko sejenis. Setelah mendapat keterampilan yang terbilang mumpuni, dan mempunyai sedikit modal, dia memberanikan diri untuk memulai usaha jasa reparasi kursi, meja, dan perlengakapan kantor lainnya dengan modal Rp300.000, pada 1987.

“Saya pernah bekerja di toko reparasi kursi dan perlengkapan kantor, sehingga saya mempunyai keterampilan dan sudah cukup tahu alur usaha tersebut, sehingga saat ada modal Rp300.000 pada 1987, saya beranikan diri untuk memulai usaha. Dan, pertama kali yang saya reparasi adalah filling kabinet bekas, yang kemudian saya reparasi menjadi barang baru dan langsung laku,” katanya.

Bisnis yang dimulainya di Jakarta ini terbilang cukup sukses, bahkan sampai memiliki empat kios dengan jumlah karyawan 16 orang, yang ditempatkan di toko masing-masing empat orang. Karyawan yang direkrut juga harus yang mempunyai keahlian tersendiri, ada yang ahli reparasi, ahli kunci, ahli brangkas, ahli finishing, cat, dan lain sebagainya, sehingga semua jenis barang bekas yang direparasi akan benar-benar menjadi baru dan berkualitas.

Tapi, usaha Maspur ini tidak berjalan mulus seperti yang selama ini diharapkan, karena pada 2008-2009, kawasan yang mereka huni sebagai pusat industri reparasi terbesar di Jakarta, kena gusur, sehingga ratusan perajin yang terkena gusur harus kembali ke kampung halamannya masing-masing, tapi ada juga yang tetap bertahan di Jakarta, namun memilih pindah lokasi.

“Saat kami terkena gusur delapan tahun silam, kami memutuskan untuk pulamg kampung ke Tegal, dan membuka usaha di Tegal dengan menyewa kios. Dulu, di Jakarta omset kami sangat besar, hampir untuk satu toko saja omset kami mencapai Rp100-120 juta per bulan. Meski demikian, kami tetap bersyukur bisa memperoleh tempat yang strategis di Jalan Raya Ujungrusi Adiwerna, ini, sehingga mudah dituju oleh pembeli,” kata Maspur.

Di tokonya ini, dikelola dengan kakaknya, Waslam, yang dulu di Jakarta juga mempunyai tiga buah toko. Setelah pindah ke Tegal, mereka mendapatkan barang-barang bekas kantor dari suplier di Jakarta.

“Hampir semua barang bekas kami peroleh dari suplier di Jakarta, dia cuma kirim foto barang dan kami tinggal trasnfer, kemudian barang tersebut dikirim sampai kios kami. Dan, yang menjadi kendala adalah jika beberapa bulan tidak ada barang, atau kekurangan stok barang bekas dari Jakarta, itu membuat kami cukup pusing, karena akhrinya stok barang terbatas,” katanya.

Selain itu, musim penghujan juga menjadi kendala, karena sulit untuk memfinishing atau pengecatan, yang membutuhkan panas sinar matahari agar cat cepat mengering. “Kami memberikan garansi khusus untuk kursi kantor selama tiga bulan, khususnya untuk kaki kursi dan hidroliknya,” tutup Maspur pada Cendana News, Jumat (19/5/2017), sore.

Sementara itu, salah seorang pembeli, Rido, mengatakan, pertamakali membeli di toko Maspur, meski baru pertamakali membeli tapi dia mengaku mendapatkan harga yang cukup terjangkau. Untuk satu meja kantor berbahan kayu jati dan sebuah kursi kantor, hanya membayar satu juta rupiah. Padahal, kalau satu kursinya saja yang baru di toko dihargai satu juta tujuh ratus ribu untuk merk tersebut.

Jurnalis: Adi Purwanto/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Adi Purwanto

Source: CendanaNews

Komentar