Bubur Kampiun Minang, Serba Manis, Dicari dalam Ramadan

0
17

SABTU, 20 MEI 2017
PADANG — Makanan khas olahan ranah Minang, Sumatera Barat, sepertinya tidak akan pernah habis. Setelah banyak hal yang dikupas tentang masakan atau kuliner di ranah Minang lainnya seperti rendang, gulai kapalo ikan, dendeng balado, kue Bika, pinukuik, kue mangkuak, dan hal lainnya. 

Bubur kampiun komplit.

Kali ini, Cendana News akan mengajak Anda untuk mengetahui makanan khas Minang yakni bubur kampiun. Mungkin telah banyak blogger kuliner yang mengulas bubur kampiun ini, apalagi hendak memasuki bulan puasa Ramadan. Karena, bubur kampiun ini paling dicari-cari sebagai makan berbuka.

Kendati demikian, bukan berarti bubur kampiun tidak bisa ditemukan di luar bulan Ramadan. Hari ini, Cendana News mendatangi salah satu tempat tempat menjual sarapan pagi di di Jalan Tunggul Hitam, Padang, yang tak jauh dari Tempat Pemakanan Umum (TPU).

Deri, yang merupakan pemilik warung sarapan pagi mengatakan, bubur kampiun nemang cukup banyak yanG membeli dengan harga perporsinya Rp10.000. Di warungnya Deri, tidak hanya menjual bubur kampiun, tetapi juga ada menjual lontong pical, lontong gulai, dan nasi goreng.

“Bubur kampiun yang saya jual ini lumayan diminati pembeli. Karena pelanggan saya ini merupaka masyarakat sekitar, dan juga ada bapak-bapak TNI,” katanya,  Sabtu (20/5/2017).

Ia menyebutkan, untuk membuat bubur kampiun tersebut tidaklah terlalu sulit, karena hanya dicampurkan beberapa jenis makanan yang rasanya maniS, seperti kolak kacang padi/pisang, gula merah, ketan, lupis, bubur putih, dan santan kelapa. Semua rasa itu akan dimasukan ke pering makan, dan nantinya sebelum dicicipi, harap benar-benar diaduk dengan sendok makan, sehingga rasa lezat bubur kampiun itu bisa dinikmati.

“Soal campuran yang terdapat dalam bubur kampiun itu, disetiap warung mungkin ada yang sedikit berbeda, seperti juga ada yang mencampurkan dengan cendol, dan juga bahkan bubur ketan. Tapi, kalau bubur kampiun saya ini, tidak ada cendol dan kolak pisangnya,” ujarnya.

Deri juga mengakui, bubur kampiun ini memang paling banyak dicari-cari saat berbuka puasa pada bulan suci Ramadan.

Salah seorang pelanggan Deri, yang mengaku suka dengan bubur kampiun, Perdana Putra menyebutkan, rasa bubur kampiun milik Deri tersebut, sungguh sesuai dengan lidah. Rasa-rasa manisnya itu dan dicampur dengam bubur putih dan lupis, membuat bubur kampiun Deri dicari oleh masyarakat.

“Sudah hampir dua tahun saya beli sarapan pagi di sini, dan harga 10.000 ribu rupiah itu tidak pernah berubah. Jadi, sangat puas dengan rasa bubur kampiun ini,” tegasnya.

Bubur kampiun yang ada di Kota Padang ini tidak begitu sulit ditemukan,  apalagi di malam harinya. Karena bubur kampiun itu, juga banyak dijual di malam hari, seperti yang ada di Jalan Veteran Padang. Penjual makan malam itu, merupakan pedagang kaki lima, meski pedagang kaki lima, bubur kampiun milik Edi tersebut, cukup banyak pembeli.

“Sudah mulai buka habis magrib, dan tutup hingga tengah malam. Untuk bubur kampiun ini di malam harinya, memang dicari-cari pembeli, karena mungkin enggan konsumsi nasi di malam hari ini, maka bubur merupakan pilihan untuk penghilang rasa lapar menjelang tidur,” ungkapnya.

Pelanggan setia Edi ini, Yuke mengakui,  rasa bubur kampuin milik Edi memang sama dengan yang lainnya. Bedanya, ia berjualan hingga tengah malam. Apalagi tahun lalu, ketika ngidam bubur kampiun, Yuke, dengan mudah bisa mendapatkan bubur kampiun.

Menurutnya, dari sekian tempat penjual bubur kampiun di Kota Padang ini, kalau soal rasa mungkin akan sama saja. Karena jenis makanan yang dicampur itu sama, dan sama menimbulkan rasa manis.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Muhammad Noli Hendra
Source: CendanaNews

Komentar