KAMIS, 18 MEI 2017

MAUMERE --- Buruh Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) pelabuhan Laurens Say Maumere Oris yang terkena operasi tangkap tangan aparat Reskrim Polres Sikka Rabu (17/5/2017) sudah dikeluarkan dari tahanan Mapolres Sikka Kamis (18/5/2017) siang. [Berita terkait: Polres Sikka Tangkap Tangan Praktik Pungli di Pelabuhan Laurens Say Maumere]

Para buruh TKBM yang memadati kantor TKBM Maumere
Tersangka dikenai penanguhan penahanan dengan jaminan dari pengacara tersangka, Viktor Nekur, SH, ketua TKBM, Yakobus Levidon Lelang dan Aleks, ayah kandung tersangka sendiri.

Kepada Cendana News di kantor TKBM Maumere, Viktor Nekur menjelaskan, tersangka dikenai pasal tentang pemerasan dengan ancaman hukuman sembilan tahun penjara. Selama penangguhan penahanan, tersangka Oris tidak boleh melakukan tindak pidana, menghilangkan barang bukti dan melarikan diri serta tidak melakukan tindak pidana lainnya.

"Memang tersangka dikenakan wajib lapor dan selama penyidik memerlukan keterangan maka tersangka harus mendatangi Malolres Sikka," terangnya di Maumere, Kamis (18/5/2017).

Markus Bataona salah seorang mandor yang ditemui di kantor TKBM mengakui, rekan-rekan buruh merasa senang dengan penangguhan penahanan terhadap Oris, namun dirinya berharap penyidik Polres Sikka dapat memanggil pimpinan organisasi yang tanda tangan di surat kesepakatan.

Para buruh sebut Markus hanya melakukan penagihan berdasarkan surat kesepakatan sehingga jangan terkesan masyarakat bawah saja yang dikenai proses hukum sementara orang-orang besar bebas berkeliaran.

"Kalau mau adil ya semua pimpinan organisasi juga diperiksa dan dijadikan tersangka jangan hanya buruh saja," pintanya.

Disaksikan Cendana News di lokasi kantor TKBM yang berada di areal pelabuhan, puluhan buruh mulai mendatangi kantor TKBM setelah mendengar teman mereka yang ditahan di Mapolres Sikka sudah dibebaskan.

Para buruh juga menuntut agar porter di pelabuhan Laurens Say juga ditertibkan sebab mereka juga mengenakan tarif sesuka hati saat mengangkat barang milik penumpang kapal tanpa ada standar tarif yang resmi.

"Kami berharap para porter juga ditertibkan sebab jika tidak maka suatu saat mereka juga akan sitangkap polisi," pungkas Markus.
Jurnalis : Ebed de Rosary / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours