Festival Film Surabaya 2017, Ajang Kreasi Sinematografi

50

SENIN, 15 MEI 2017

SURABAYA — Sebagai daerah metropolis, Kota Surabaya dengan bangga menggelar sebuah even bagi para sineas yang bertajuk ‘Festival Film Surabaya 2017’. Acara ini digelar selama dua hari sejak Minggu-Senin (14-15/5/2017) di Gedung Cak Durasim, Kompleks Taman Budaya Jawa Timur, Jalan Gentengkali, Surabaya.

Suasana diskusi potensi film di daerah lain.

Festival Film Surabaya (FFS) 2017, hadir untuk memberikan wadah kepada para pelajar di seluruh penjuru Tanah Air untuk menunjukkan kreativitas, khususnya di bidang sinematografi. Melalui kesempatan tersebut, pihak penyelenggara ingin menjaring potensi para sineas muda di bidang perfilman.

Ketua Pelaksana FFS 2017, Juliantono Hadi, mengatakan, ada sekitar 550 judul film yang masuk ke panitia untuk mengikuti seluruh proses screening dan kurasi. Hampir seluruh film yang dikirimkan merupakan garapan pelajar dari Sabang hingga Merauke, dan beberapa berasal dari kalangan umum serta mahasiswa.

“Dari seluruh film yang masuk, kami ambil 51 untuk menjadi nominasi dan dibagi ke dalam lima kategori, di antaranya animasi (delapan nominator), dokumenter (lima nominator), fiksi (sepuluh nominator), video musik (tiga nominator), iklan layanan masyarakat (sepuluh nominator) dan fiksi mahasiswa dan umum (21 nominator),” terang Juliantono.

Secara garis besar, pihak juri melakukan seleksi berdasarkan dua penilaian utama, yaitu teknis dan konten. Juliantono menegaskan, pada tahapan pertama seluruh film dipastikan selesai dan tidak ada masalah dari segi teknis, karena nantinya akan diputar di layar lebar. Setelah itu, baru dilakukan penilaian konten, narasi, alur dan isi cerita.

“Ke depan, kami berharap FFS mampu meningkatkan gairah perfilman di Surabaya, Jawa Timur, dan Indonesia, agar potensi dan bakat sineas muda terasah. Selain itu, kami ingin FFS menjadi penggugah semangat supaya bermunculan festival dan ajang serupa”, katanya.

Salah seorang peserta yang datang dari Kabupaten Pati, Maulana Ardilla, berharap karyanya mampu memikat juri dan pengunjung yang hadir. Dirinya mengirimkan sebuah klip video berjudul ‘Sister in Danger’, bersama timnya dari SMKN 2 Pati. Video tersebut menceritakan tentang banyaknya kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi kepada perempuan.

Sutradara video klip ‘Sister in Danger’ dari SMKN 2 Pati, Maulana Ardilla.

“Untuk pembuatannya hanya satu bulan dengan membutuhkan sekitar sepuluh orang. Temanya sendiri terkait kasus kekerasan dan pelecehan perempuan yang kerap terjadi di negeri ini. Kami sengaja mengambil tema itu, agar ke depan tidak ada lagi kasus serupa yang menimpa perempuan di Indonesia,” terang pria berusia 17 tahun, yang menjadi sutradara di karyanya itu.

Tak hanya memutarkan film dan melakukan penilaian, pihak penyelenggara turut menghadirkan diskusi terkait popularitas sinematografi di beberapa daerah lain. Setidaknya ada tiga orang narasumber yang dihadirkan, di antaranya Founder Bali Film Festival, Agung Bawantara, Direktur Malang Film Festival 2017, Vania Yunisari, dan Perwakilan Ruang Film Sukabumi, Agus Permana.

Jurnalis: Afif Linofian/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Afif Linofian

Source: CendanaNews

Komentar