SENIN, 15 MEI 2017

YOGYAKARTA --- Di tengah melambungnya harga bawang putih maupun bawang merah di pasaran yakni berkisar di Rp62.000 per kilogram untuk bawang putih dan Rp27.000 per kilogram untuk bawang merah, namun sejumlah petani bawang di dusun Kretek, desa Parangtritis, Kecamatan Kretek, Bantul, Yogyakarta justru harus merugi karena mengalami gagal panen. 

Tanaman bawang yang layu
Sejumlah tanaman bawang di lahan pertanian dusun itu rusak disebabkan karena pengaruh cuaca buruk serta serangan hama. Para petani pun hanya bisa pasrah meskipun tak mendapat hasil dari kerja keras mereka.

Salah seorang petani bawang dusun Kretek, Suripto mengatakan, tanaman bawang di lahan pertanian miliknya seluas sekitar 1.000 meter diketahui rusak sekitar satu bulan sebelum masa panen. Dimana mengalami kelayuan hingga akhirnya mati. Penyebabnya diduga karena serangan hama serta pengaruh cuaca yang membuat lahan terendam air.

"Mestinya memang sudah harus panen, tapi nyatanya sampai sekarang belum bisa dipanen. Banyak tanaman yang layu dan mati. Kalaupun masih ada beberapa yang bertahan itu pun kurang sehat sehingga tidak bisa dipanen," ujarnya kepada Cendananews, Senin (15/05/2017).

Suripto sendiri mengaku mengalami kerugian sekitar Rp5 juta akibat tanaman bawangnya gagal panen. Sebab pada musim tanam beberapa bulan lalu, ia harus membeli bibit bawang dengan harga tinggi mencapai Rp55 ribu per kilonya. Padahal biasanya bibit bawang hanya berkisar Rp20-25 ribu per kilonya. Belum lagi ia harus mengeluarkan uang perawatan seperti membeli pupuk dan penyemprot hama tanaman.

"Kemarin itu saya jual motor satu untuk modal menanam bawang ini. Sekitar Rp5 juta. Tapi kalau melihat kondisi tanaman seperti ini, dapat Rp1juta saja sudah bagus," katanya.

Suripto
Setelah tanaman bawangnya gagal panen, Suripto sendiri kini hanya bisa berharap mendapat pemasukan dari hasil panen tanaman cabainya. Ia berharap dari hasil panen cabai itu, ia bisa memiliki modal untuk kembali membeli bibit bawang di masa tanam berikutnya. Petani di dusun Kretek sendiri memiliki pola tanam tiga kali dalam setahun. Yakni padi, palawija, palawija. Tanaman cabai dan bawang menjadi salah satu komoditas favorit para petani di dusun tersebut.
Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours