Ibu ini Mewarisi Cara Menenun Kepada Empat Orang Anaknya

0
16

SABTU, 13 MEI 2017

PADANG  — Berkat mengikuti pelatihan menenun pada 1990 lalu, Ratih kini benar-benar menikmati hasil perjuangannya itu. Tidak hanya soal rezeki yang diperolehnya, rasa bangga yang dirasakannya juga terhadap empat orang anaknya, yang turut membantunya menenun.

Ratih dan alat tenunnya.

Menenun bagi Ratih, tidak hanya soal mencari nafkah, akan tetapi dengan menenun itu, ia merasa turut melestarikan karya Indonesia dari zaman ke zaman. Tenun yang dibuat oleh Ratih merupakan tenun khas Minang.

Ia menceritakan, awal empat orang anaknya bisa menenun bukan sebuah hal pemaksaan dari seorang ibu kepada anaknya. Namun, keinginan menenun datang dari diri anaknya, yang sering melihat dirinya bekerja menenun,  dari siang hingga malam harinya.

Melihat adanya keinginan dari sang anak untuk belajar menenun, Ratih pun membimbing secara perlahan kepada empat orang anaknya dalam menenun. Kini, berkat didikannya, empat orang anaknya turut menuruskan usaha tenun meski telah membangun rumah tangga.

Meski hidup Ratih terpisah dari dari anaknya, namun untuk penjualannya tetap melalui ibu Ratih. Melalui menjualkan songket anaknya itu, Ratih juga memperoleh rezeki, karena ada hitung-hitungan dari transaksi yang dilakukan.

Untuk menghasilkan songket yang berkualitas, dulunya Ratih memiliki 30 unit alat tenun. Ketika itu, cukup banyak orang yang dipekerjakan oleh Ratih, termasuk empat orang anaknya. Namun, seiring waktu berlalu, kini ia hanya memiliki dua alat tenun yang dikerjakannya sendiri di rumah yang tak jauh dari Balai kota Padang, Provinsi Sumatera Barat.

“Dua unit alat tenun yang saya pakai ini, tidak sekaligus saya yang menjalankan. Kadang-kadang juga dibantu oleh satu orang anak saya yang satunya lagi, kalau dia menenun biasanya di malam harinya. Bagi saya, jika mau uang harus berusaha, seperti menenun ini,” katanya, Sabtu (13/5/2017).

Pesanan songket yang diterima Ratih, tidak hanya dari dalam daerah di Sumbar, tetapi juga datang dari luar Sumatera yakni di Jakarta. Mengingat tenun yang dilakukan merupakan Tenun Bukan Mesin (TBM), pada setiap pesanan yang datang, Ratih mampu menyelesaikan selama dua minggu untuk sehelai songket.

Namun, ia mengakui meski pesanan yang datang kepadanya cukup banyak, Ratih merasa jika dibandingkan dengan songket lainnya, ia masih terkendala soal pemasaran. Pemasaran yang dimaksud, tidak adanya toko atau butik songket. Menurutnya, banyak orang yang hendak memesan songket selalu mempertanyakan toko butik songket.

“Dikarenakan saya tidak punya toko butik, terkadang banyak pemesan yang urung untuk membeli songket saya. Jadi, kedepan saya berencana ingin punya toko, akan tetapi butuh uang yang banyak untuk membuat toko butik songket itu,” ujarnya.

Sekarang, salah satu cara yang dilakukan Ratih untuk memperkenalkan  karya songketnya, yakni sering membawa dan memperkenalkannya ke setiap acara pameran yang tidak hanya di Sumbar, tetapi juga di daerah lainnya seperti Jakarta.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar, Zirma Yusri mengatakan, pelatihan dan pembinaan terhadap pelaku UMKM merupakan program yang sudah lama dijalankan. Hal itu dilakukan, untuk membantu pelaku UMKM di Sumbar untuk tumbuh dan berkembang, sehingga ikut membantu perekonomian masyarakat.

“Menjadi penguasaha itu bagus, seperti berusaha menenun. Inilah yang kita harapkan, jika UMKM ini tumbuh maka perekonomian bakal turut membaik. Dari yang tidak berpenghasilan, kini kami bisa menghasilkan uang,” kata Zirma.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Muhammas Noli Hendra
Source: CendanaNews

Komentar