IDI DIY Ziarah ke Makam Dr Wahidin Sudirohusodo

0
16

SABTU, 20 MEI 2017

SLEMAN —  Bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional, sejumlah dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia (IDI) DIY melakukan ziarah di makam tokoh pelopor Budi Utomo, dr Wahidin Sudirohusodo, bertempat di Makam Pahlawan Nasional Ngasem Mlati, Sleman, Yogyakarta Sabtu (20/05/2017) sore. 

Ziarah Ikatan Dokter Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta.

 Ziarah ini dilakukan untuk mengenang sekaligus mengingat jasa dr Wahidin Sudirohusodo dalam menyusun tonggak kebangkitan nasional.

Selain memperingati hari Kebangkitan Nasional, Ketua IDI DIY, Dr. Choirul Anwar, MKes mengatakan Ziarah ini juga digelar dalam rangka memperingati Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI).

Dr. Wahidin Soedirohoesodo dikenal sebagai penggagas organisasi Boedi Oetomo dan salah seorang pahlawan nasional Indonesia. Ia mengingatkan agat setiap dokter di Indonesia dapat meneladani Dr. Wahidin yang sangat senang bergaul dengan rakyat biasa, sehingga bisa mengetahui benar penderitaan rakyat.

Sebagai dokter, ia juga sering mengobati rakyat tanpa memungut bayaran. Ia juga sangat menyadari bagaimana terbelakang dan tertindasnya rakyat Hindia Belanda, akibat kekejaman sistem penjajahan Belanda. Menurutnya, salah satu cara untuk membebaskan diri dari penjajahan, rakyat harus cerdas. Sehingga rakyat harus diberi kesempatan mengikuti pendidikan di sekolah-sekolah resmi.

“Dua hal pokok yang menjadi perjuangan Dr. Wahidin adalah memperluas pendidikan dan pengajaran, serta memupuk kesadaran kebangsaan,” kata Choirul. 

Dijelaskan beradasarkan data sejarah, Dr. Wahidin Sudirohusodo sering berkeliling ke kota-kota besar di Pulau Jawa, untuk mengunjungi tokoh-tokoh masyarakat, dan kalangan priayi Jawa antara tahun 1906-1907.

Dana yang terkumpul dari para donatur ini, kemudian digunakan untuk membantu pemuda-pemuda cerdas yang tidak dapat melanjutkan sekolahnya. Gagasan lain yang juga dikemukakannya pada para pelajar STOVIA di Jakarta, adalah perlunya mendirikan organisasi yang bertujuan memajukan pendidikan dan meninggikan martabat bangsa.

“Gagasan ini ternyata disambut baik oleh para pelajar STOVIA tersebut. Pada akhir tahun 1907, dr. Wahidin bertemu dengan Sutomo, seorang pelajar dari STOVIA di Jakarta. Dari situlah akhirnya pada tanggal 20 Mei 1908, lahirlah Budi Utomo,” katanya.

Menurut Choirul Istilah Budi Utomo berasal dari kata budi yang berarti perangai atau tabiat dan utomo yang berarti baik atau luhur. Budi Utomo, menurut pendirinya, adalah perkumpulan yang akan mencapai sesuatu berdasarkan keluhuran budi, kebaikan perangai atau tabiat.

Dan dari perkumpulan bercorak nasionalis pertama di Indonesia, itulah maka 20 Mei kemudian dijadikan Hari Kebangkitan Nasional Indonesia, yang diperingati hingga hari ini.

Momentum hari kebangkitan nasional ini, juga diperingati sebagai Hari Bakti Dokter Indonesia (HBDI). Pada hari ini, segenap dokter di Indonesia diingatkan untuk membaktikan dirinya, kepada segenap anggota masyarakat di sekitarnya, terutama yang lemah, miskin, tersingkir dan difabel.

“Dr. Wahidin sudah memberikan teladannya bagi kita semua. Yakni untuk selalu bekerja secara profesional, berkontribusi membebaskan bangsa dari kebodohan cerdas dan menjadi agen pembangunan manusia,” katanya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Jatmika H Kusmargana
Source: CendanaNews

Komentar