RABU, 17 MEI 2017
 
LAMPUNG --- Meski musim buah durian belum menyeluruh di wilayah Kabupaten Lampung Selatan namun sejumlah pedagang durian mulai marak di sepanjang Jalan Lintas Sumatera di antaranya di titik Jalinsum KM 66, Jalinsum KM 70 dan beberapa titik lain di Kecamatan Kalianda dan Kecamatan Penengahan. 
Sumarni, salah satu penjual durian jatuhan di Jalinsum.
Menurut Sumarni, salah satu penjual durian di Jalinsum KM 70 Desa Banjarmasin, ia mulai berjualan durian bersama puluhan pedagang durian musiman lainnya sejak sepekan lalu dengan durian yang berasal dari wilayah pesisir dan Gunung Rajabasa.

Sumarni menyebut, jenis durian yang dijual merupakan jenis durian keong dan durian ketan yang banyak terdapat di perkebunan penduduk di lereng Gunung Rajabasa di antaranya Desa Way Kalam, Desa Banjarmasin serta wilayah pesisir di antaranya Desa Kunjir dan Desa Kerinjing yang sudah mulai musim durian. Musim durian yang belum datang secara bersamaan diakui Sumarni membuat ia dan Joko, sang suami, harus membeli dan mencari di setiap desa untuk dijual kembali di tepi Jalinsum.

“Karena belum musim kami terpaksa harus mencari di kampung-kampung khususnya durian jatuhan karena pada awal musim durian belum matang serentak dan belum ada kiriman dari wilayah Sumatera Selatan,” terang Sumarni, salah satu penjual buah durian di Jalinsum KM 70 Desa Banjarmasin, Kecamatan Penengahan, saat ditemui Cendana News, Rabu (17/5/2017).

Buah durian tersebut sebagian dibeli dengan sistem pesanan dimana sebagian pemilik kebun durian akan mengirimkan sebagian durian jatuhan yang ada di kebun. Sebab durian jatuhan dipastikan memiliki rasa lebih manis dibandingkan durian sistem peraman menggunakan karbit. Buah durian jatuhan tersebut dibeli dari petani dengan harga Rp25 ribu ukuran sedang per gandeng dengan dua buah durian yang digandeng menggunakan daun aren. Sementara durian ukuran besar dibeli dengan harga Rp45 ribu per gandeng.

Kepada konsumen durian tersebut dijual dengan harga Rp45 ribu,Rp90 ribu bahkan hingga Rp120 ribu per gandeng sesuai dengan ukuran buah durian yang dijual. Sebagian pembeli memilih menikmati durian di lokasi Sumarni berjualan sementara sebagian sengaja memilih membeli untuk dibawa ke rumah untuk pembuatan sop durian, minuman durian serta bahan campuran pembuatan kue menjelang bulan suci Ramadhan dan Lebaran.

Datangnya musim durian jelang bulan suci Ramadhan diakui oleh Sumarni menjadi berkah baginya karena bisa dipergunakan untuk tambahan penghasilan mendekati bulan suci Ramadhan. Berjualan durian dengan rata-rata sebanyak 50 gandeng per hari diakuinya mampu memberinya penghasilan ratusan ribu. Meski sebagian durian yang dipajang dengan cara digantung bisa saja tidak laku seluruhnya dalam sehari.

Harga yang masih terbilang tinggi untuk buah durian karena belum seluruhnya musim durian pada kebun milik petani dan belum adanya pasokan dalam jumlah banyak dari wilayah Baturaja dan sebagian wilayah Sumatera Selatan. Musim puncak durian yang akan membuat harga durian murah akan terjadi pada pertengahan bulan Juni atau pertengahan bulan Ramadhan.

Suci, salah satu pembeli buah durian mengaku, sengaja membeli durian per gandeng dengan harga Rp60 ribu dengan proses tawar menawar dan buah durian tersebut akan dipergunakan untuk membuat sup durian dan bahan pembuatan kue bolu. Penggunaan buah durian akan menambah cita rasa dan aroma yang khas sehingga kue bolu buatannya bisa menjadi santapan yang khas selama Ramadhan.

“Durian ini nanti dikupas dan disimpan di kulkas karena bisa awet selama beberapa pekan sehingga bisa disantap saat bulan Ramadhan menjadi es durian atau sup durian,” ungkap Suci.
Buah durian jatuhan.
Sebagian konsumen pembeli durian selain pembeli lokal dari wilayah Lampung juga ada sebagian pembeli buah durian yang merupakan pembeli dari wilayah Jakarta serta Bandung. Mereka melintas dan menyempatkan makan durian di tepi jalan. Ciri khas buah durian jatuhan yang memiliki rasa manis menjadi favorit konsumen dari buah durian yang dijual di sepanjang Jalan Lintas Sumatera dan dikenal dengan durian jatuhan.
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours