Jelang Ramadhan, Pembudidaya Kolang Kaling Peroleh Pesanan Pengecer

75

RABU, 17 MEI 2017

LAMPUNG — Para perajin kolang kaling atau dikenal di wilayah Lampung dengan kiwol, atau cengkaleng oleh masyarakat Sunda, yang tinggal di Desa Rawi Kecamatan Penengahan mulai mendapatkan banyak pesanan dari para pedagang pengecer. 

Jamal mengumpulkan kolang kaling siap olah dari petani.

Menurut Jamal (28) salah satu pembudidaya kolang kaling di desa tersebut, dirinya yang juga berbisnis jual beli ternak kambing memanfaatkan momen bulan suci Ramadhan untuk pembuatan kolang kaling yang mulai banyak peminat terutama dari para pedagang pembuat menu berbuka puasa (takjil) serta pedagang pembuat es buah. Jamal menyebut, dua pekan jelang Ramadhan dirinya telah membeli buah kolang kaling dari pohon enau atau aren sebanyak lebih dari 5 ton sebagian sudah diolah dan dijual ke pasar tradisional.

Sebagian besar kolang kaling tersebut, terang Jamal, diperoleh dari membeli dengan sistem tebas atau membeli di atas pohon milik warga. Selain itu sebagian dibeli dengan sistem tandan atau perjanjang. Khusus untuk sistem tebas pohon, Jamal mengaku melihat jumlah janjang dan prediksi jumlah buah kolang kaling saat diolah dengan harga berkisar Rp150.000 hingga Rp200.000 per pohon. Sementara untuk sistem janjang ia menyebut satu janjang pohon kolang kaling diakuinya dibeli dari petani dengan harga Rp20.000 per janjang dan proses pemetikan dilakukan oleh para pekerja.

“Pekerjaan membeli dan mengolah kolang kaling ini menjadi pekerjaan rutin setiap bulan suci Ramadhan karena permintaan buah kolang kaling meningkat untuk hidangan berbuka puasa,” terang Jamal saat ditemui Cendana News di lokasi pengolahan kolang kaling di Desa Rawi Kecamatan Penengahan Kabupaten Lampung Selatan, Rabu (17/5/2017).

Perebusan dengan drum.

Seusai dibeli dari para petani, kolang kaling yang sudah dipetik dengan janjang buah yang sudah tua dibawa ke lokasi pengolahan. Jamal menyebut proses pengolahan dimulai dengan perebusan menggunakan bahan bakar kayu dan direbus dalam tungku yang terbuat dari drum bekas. Proses perebusan selama beberapa jam selanjutnya akan didinginkan dengan air yang mengalir untuk selanjutnya dilakukan proses pengupasan menggunakan pisau oleh para pekerja dengan rata-rata dilakukan oleh kaum wanita di desa tersebut. Para pengupas kolang kaling akan diberi upah sebesar Rp1.000 per kilogram untuk kolang kaling yang dikupas.

Sejak dua pekan ini Jamal menyebut, telah mengirimkan sebanyak 1 kuintal kolang kaling siap diolah menjadi makanan jadi ke sejumlah pasar tradisional. Sementara untuk bahan kolang kaling yang saat ini disiapkannya dengan jumlah hampir mencapai 3 ton sedang menunggu proses pengolahan untuk diolah menjadi kolang kaling siap jual. Selain menunggu harga membaik ia menyebut di tingkat produsen atau perajin harga kolang kaling mulai meningkat dari harga semula Rp5.000 per kilogram menjadi Rp7.000 per kilogram dan bahkan di tingkat pengecer bisa mencapai harga Rp8.000 hingga Rp9.000 per kilogram. Saat memasuki bulan suci Ramadhan seperti tahun sebelumnya diprediksi di tingkat pengecer bahkan bisa menembus harga Rp10.000 per kilogram.

Pembudidaya kolang kaling lain, Kriya (50) mengungkapkan, jelang Ramadhan pembuatan kolang kaling tersebut bahkan menjadi pekerjaan sambilan kaum perempuan di wilayah tersebut. Kolang kaling yang telah dibuat dan telah dikupas bahkan sebagian disimpan di dalam lemari pendingin (freezer) dan akan dijual saat memasuki bulan suci Ramadhan. Selain permintaan yang belum cukup banyak oleh pengecer dan konsumen,  buah kolang kaling tersebut diakuinya bisa disimpan dalam waktu lama di dalam lemari pendingin dan dibekukan.

“Kalau saat ini memang sudah banyak yang pesan tapi sebagian kolang kaling yang ada belum diolah terutama menunggu mendekati bulan suci Ramadhan,” terang Kriya.

Persiapan perebusan dengan kayu bakar.

Kendala yang dihadapi pembudidaya kolang kaling diakui Kriya saat ini dengan semakin sedikitnya jumlah pohon aren di wilayah tersebut. Sebagian pohon yang ditebang untuk dimanfaatkan batangnya sebagai bahan pembuatan tepung aci menjadi faktor semakin berkurangnya pohon aren penghasil kolang kaling. Meski masih ada namun petani terpaksa harus membeli di desa-desa yang ada di wilayah Gunung Rajabasa dan sebagian diambil dari wilayah kabupaten lain. Selain dijual di wilayah lokal Lampung sebagian kolang kaling yang telah siap konsumsi bahkan dipesan oleh para pengecer dari wilayah Jakarta dan Banten. Pelanggan pengecer diakuinya sudah memesan jauh-jauh hari dengan permintaan rata-rata 1 kuintal per pengecer.

Menjadi sebuah pekerjaan musiman terutama menjelang bulan suci Ramadhan membuat Jamal dan Kriya bisa mengantongi omzet hingga jutaan rupiah dari kolang kaling. Sementara pada hari biasa keduanya tetap menjalankan pekerjaan rutin sebagai petani dan juga pedagang jual beli kambing. Pembuatan kolang kaling yang meningkat permintaan saat menjelang dan selama Ramadhan. Hanya dikerjakan oleh orang tertentu sebab getah kolang kaling bisa membuat gatal bagi yang tidak mengetahui penawarnya.

Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi

Source: CendanaNews

Komentar