Jelang Ramadhan, Petani Kolang Kaling Kebanjiran Permintaan

76

SENIN, 15 MEI 2017

CIAMIS — Menjelang datangnya bulan suci Ramadhan 1438 H, permintaan kolang kaling dari petani di Kabupaten Ciamis, meningkat. Para pedagang dari berbagai daerah di Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah, memburu buah yang berasal dari pohon aren tersebut.

Suman sedang mengolah buah aren  menjadi kolang kaling.

Bahkan saat ini para petani buah aren yang selalu hadir saat bulan puasa tersebut, mulai kebanjiran order dari daerah Ciamis, Banjar, Bandung, Majalengka, Cirebon, Kuningan, Cilacap, Purwokerto, Brebes, Banyumas, dan sekitarnya.

Berdasarkan pantauan di lapangan, Senin (15/5/2017), yang dilakukan di daerah pegunungan Geger Bentang, tepatnya di Dusun Golempang, Desa Pamarican, Kecamatan Pamarican, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat,  puluhan ton buah pohon aren sudah mulai diambil dan diolah menjadi kolang kaling oleh para petani. Bahkan saat ini saja para petani yang ada di dusun tersebut, sudah menerima banyak sekali permintaan.

Salah seorang perajin kolang kaling, Suman (64), mengatakan, dirinya menggeluti pekerjaan ini sudah sekitar 12 tahun yang lalu, setiap Ramadhan tiba pasti banyak permintaan kalong kaling yang datang dari berbagai daerah ke sini. Bahkan dirinya terpaksa menyetok buah aren untuk mencukupi permintaan sejumlah pedagang yang datang dari berbagai daerah tersebut.

“Sudah banyak permintaan, bahkan kita terpaksa sudah berburu buah aren dari daerah desa dan kecamatan tetangga. Meskipun awal Ramadhan masih sekitar 2 minggu lagi, namun sudah banyak pedagang yang memesan kolang kaling dari daerah sini,” ujarnya.

Petani lainnya, Mamad (40) menjelaskan, permintaan buah kolang kaling dalam setiap bulan Ramadhan selalu banyak, bahkan harganya mencapai Rp6.000 sampai Rp7.000 per kg. “Itu dijual di sini oleh para petani, entah kalau sudah sampai ke kota pedagang menjualnya berapa,” katanya.

Untuk memenuhi pesanan pedagang yang sudah menjadi langgananya bukan perkara mudah. Keberadaan buah dari pohon aren tersebut sekarang mulai langka terlebih hanya didapat dari sekitar kawasan hutan di wilayah Gunung Geger Bentang.

“Kalau dulu sekitar sepuluh tahun lalu mencari kolang kaling mudah bahkan sempat menolak tapi sekarang beda jauh, sulit dicari malahan. Kalau ada harganya dari warga yang menjual sudah mahal,” kata Mamad.

Mamad, mengungkapkan, mengolah buah kaling kaling untuk mendapatkan biji berwarna putih itu memang bukan pekerjaan mudah. Pertama kali, buah kolang-kaling yang masih terbungkus direbus sekitar satu jam sampai warna kulit berubah menjadi hijau tua. Setelah itu, biji kolang-kaling berwarna putih cerah dikeluarkan dari bawah kulitnya. Setelah biji berhasil dikeluarkan dengan cara dikupas satu persatu buahnya lalu direndam dengan air beras untuk menghilangkan getah yang ada.

Mamad, perajin kolang kaling sedang melakukan proses perendaman.

Kini, Mamad baru bisa memproduksi dan menjual buah kolang kaling setiap satu minggunya sekitar 2 kuintal sampai 5 kuintal. Tergantung banyaknya buah aren yang didapatnya.

“Karena bahan bakunya sulit, sekarang satu minggu baru bisa menjual sekitar  2 kuintal sampai 5 kuintal, karena harus menunggu terlebih dahulu supaya ngumpul buahnya,” pungkas Mamad.

Jurnalis: Baehaki Efendi / Editor: Satmoko / Foto: Baehaki Efendi

Source: CendanaNews

Komentar