SENIN, 15 MEI 2017

YOGYAKARTA --- Indonesia patut berbangga pada anak bangsa, bernama Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo (46). Lelaki satu ini merupakan seorang ahli di bidang radar dan satelit asal Indonesia yang telah memiliki ratusan hak paten. Sejumlah karya dan temuannya bahkan telah dimanfaatkan oleh ratusan negara di seluruh dunia. 
Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo saat memberi kuliah umum di Fakultas Geografi UGM
Josaphat yang merupakan pengajar atau dosen Chiba University Jepang, ternyata tetap memilih Indonesia sebagai warga negaranya, meski ia telah diangkat sebagai pegawai negeri di Kementerian Pendidikan dan Teknologi Jepang, bahkan diberikan hak untuk tinggal selamanya di Jepang.

Semangat nasionalisme Josaphat dibuktikan dengan tetap memegang teguh kewarganegaraannya, meski ia harus rela direpotkan untuk mengurusi perpanjangan paspor dan visanya agar bisa rutin berkunjung ke luar negeri di berbagai negara untuk memenuhi undangan mempresentasikan hasil temuannya, hampir setiap minggu. “Jiwa saya tetap Indonesia. Mudah-mudahan saat umur 55 tahun saya bisa kembali dan mengabdi sepenuhnya untuk Indonesia,” kata Josaphat, dalam kuliah umum di Fakultas Geografi UGM, Senin (15/5/2017).

Josaphat merupakan ilmuwan yang telah dikenal di Jepang. Temuannya mengenai teknologi radar dan satelit yang lebih maju dari yang ada sekarang banyak dilirik oleh perusahaan besar dunia. Beberapa hasil temuannya mengenai synthetic aperture radar, ground penetrating radar, mobile satellite communication, hingga microsatellite, sudah dimanfaatkan banyak perusahaan di seluruh dunia.

Atas segala prestasinya itu, Josaphat menyebut apa yang dapatkannya sekarang ini sebagai bentuk apresiasi atas ketekunannya mengembangkan teknologi yang sebelumnya dipandang mustahil diwujudkan pada waktu itu. “Saya masih ingat, waktu itu saya masih umur 35 tahun. Saya perlu dana Rp15 miliar untuk mewujudkan temuan saya, namun saya hanya punya Rp300an juta. Ketika itu saya berpikir, bagaimana agar bisa mewujudukan barang yang bisa dilihat dan diraba orang lain. Jika orang lain puas, berarti saya sudah bantu orang lain juga,” katanya.

Dengan berbagai hasil temuan paten yang dimiliki, Jospahat pun banyak didatangi oleh banyak negara dan perusahaan untuk berkerjasama. Bahkan tidak sedikit yang menawarinya bantuan dana untuk merealisaikan setiap ide risetnya. Sehingga tanpa perlu mencari pekerjaan, justru ia banyak ditawari pekerjaan, oleh banyak perusahaan di berbagai negara.

Di Kampus Chiba University, Josaphat mengaku memiliki pusat riset dengan laboratorium dan mempekerjakan sebanyak 50 orang peneliti. Ia sendiri bisa seperti sekarang karena menekuni risetnya selama puluhan tahun. Yakni dalam mengembangkan teknologi radar sejak 1995.

Keunggulan satelit yang dikembangkan Josaphat ialah memiliki harga yang jauh lebih murah dari harga satelit yang dijual di pasaran. Jika satu satelit umumnya berkisar Rp4-5 triliun, maka satelit buatannya hanya mencapai Rp25 miliar. Bahkan, fungsinya lebih bagus dari satelit seharga triliunan rupiah itu.

Meski sudah memiliki segudang prestasi dan dipandang sebagai ilmuwan terkemuka di Jepang untuk bidang teknologi radar dan satelit super canggih, Josaphat tetap bersikap rendah hati. Menurutnya, tidak ada teknologi yang maju dan mutakhir. Yang membedakan menurutnya hanyalah soal ketidaktahuan saja.  “Teknologi yang dianggap maju sebenarnya teknologinya sangat sederhana tergantung tahu dan tidak tahu,” terangnya.

Menurut Josaphat, setiap orang memiliki kesempatan untuk mendapatkan ide dan pemikiran baru. Karena itu, setiap orang harus memberikan kesempatan pada otak masing-masing untuk berpikir tentang hal-hal yang baik dan baru. Sehingga otak tersebut pun akan terlatih untuk mendapatkan ide dan pemikiran baru.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Istimewa
Bagikan:

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours