SELASA, 16 MEI 2017

YOGYAKARTA --- Jejak Pemberdayaan Yayasan Damandiri --- Berada tepat di kawasan pantai Parangtritis, Dusun Mancingan RT 07, Desa Parangtritis, Kretek, Bantul, tak pernah sepi dengan aktivitas warga.
Sri Karyati.
Di sepanjang jalan masuk desa, deretan warung tampak berjejer menjajakan berbagai macam dagangan maupun jasa. Mulai dari jasa parkir kendaraan, toilet dan kamar mandi umum, penjual makanan, suvenir, hingga oleh-oleh khas Pantai Parangtritis yang melegenda.

Dari sekian banyak warga yang membuka usaha di sektor pariwisata, salah satunya adalah Sri Karyati (46). Warga asli Dusun Mancingan itu telah 17 tahun berjualan oleh-oleh di warung yang menjadi satu dengan rumah tinggalnya. Ibu empat orang anak ini, merintis usahanya mulai dari nol. Bermodal uang untuk membeli dagangan yang tak seberapa, pelan-pelan ia mengembangkan usaha. Kini, ia pun telah mendapat penghasilan rutin dari usahanya.

Tak hanya bisa membantu suaminya mencukupi kebutuhan sehari-hari, dari hasil berjualan oleh-oleh di rumahnya itu, ia pun bisa membangun rumah dan menguliahkan anak. 

Karyati menuturkan, salah satu kunci keberhasilan dalam mengembangkan usaha adalah sokongan permodalan. Ia mengaku, tak malu untuk meminjam uang sebagai modal usaha. Tanpa adanya pinjaman modal, sebuah usaha dikatakannya akan sulit berkembang dengan cepat. Terlebih untuk jenis usaha yang membutuhkan waktu perputaran uang cukup lama, seperti berdagang oleh-oleh pariwisata. 

Selain meminjam uang dari bank, sejak beberapa tahun terakhir ini Karyati juga mulai meminjam uang dari program Tabungan Kredit Pundi Sejahtera (Tabur Puja) sebagai modal usaha. Ia mengaku, adanya program pinjaman modal usaha dari Yayasan Damandiri itu sangat membantu para pengusaha kecil seperti dirinya. Ia bahkan menyebut pinjaman Tabur Puja memiliki banyak keunggulan dan kelebihan dibanding pinjaman lain termasuk bank.

"Sudah sejak awal atau sekitar dua tahun ini saya menjadi nasabah Tabur Puja. Dari 2 kali guliran, saya meminjam modal Rp2 juta dan Rp3 juta. Modal itu saya gunakan untuk menambah jumlah dan jenis dagangan," katanya kepada Cendana News, belum lama ini.

Selain membuka warung makan, Karyati sendiri menjual berbagai macam jenis oleh-oleh, khususnya makanan khas Pantai Parangtritis. Mulai dari geplak, wajik, jenang dodol, peyek kacang, peyek undur-undur, peyek udang, peyek belut, peyek rumput laut, dan sebagainya. Ia mengaku, mendatangkan sejumlah oleh-oleh itu dari warga maupun pengusaha kecil di sekitarnya.

"Pinjaman dari Tabur Puja itu menurut saya paling enak. Karena dijalankan secara kekeluargaan. Pengurusnya kan warga dari dusun ini sendiri. Jadi masih ada tenggang rasa. Tahu keadaan peminjamnya. Tidak lantas memaksa. Walaupun peminjam harus tetap tanggung jawab," katanya.

Selain bersifat kekeluargaan, bunga angsuran Tabur Puja dikatakan juga lebih rendah dibanding bunga bank. Prosesnya pun jauh lebih mudah, karena tanpa banyak prosedur. Tidak memerlukan jaminan termasuk survei ke rumah calon peminjam. Dengan hanya menyerahkan fotokopi KTP dan KK, dalam waktu seminggu dana sudah bisa cair tanpa ada potongan.

"Tentu adanya program Tabur Puja ini sangat membantu. Penghasilan pun meningkat seiring semakin banyaknya dagangan. Dalam sehari, rata-rata saya dapat Rp600 ribu. Kalau pas hari libur panjang bisa sampai Rp1 juta. Tapi, kalau hari tertentu seperti tahun baru, sehari pernah bisa dapat hingga Rp5 juta," katanya.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours