MINGGU, 14 MEI 2017

ENDE --- Bicara kampung adat, Wologai yang terletak di Desa Wologai, Kecamatan Detusoko Kabupaten Ende merupakan salah satu dari kampung adat yang masih mempertahankan keaslian rumah adat mereka yang diperkirakan sudah berumur 800 tahun.

Kampung Adat Wologai, Ende

Kepada Cendana News yang menemuinya Kamis (11/5/2017) Bernadus Leo Wara Mosalaki Ria Bewa atau juru bicara para Mosalaki atau tetua adat di kampung ini mengatakan, kampung adat mereka selalu disambangi wisatawan baik lokal maupun asing setiap hari setelah mengunjungi danau Kelimutu.

Kampung adat ini terdiri atas 18 rumah adat yang beratapkan ilalang dan berbentuk kerucut yang dibangun mengelilingi Tubu Kanga atau pelataran yang paling tinggi yang dipakai sebagai tempat pemujaan saat digelar ritual adat.

“Semua rumah di kampung ini baru dibangun kembali setelah terjadi kebakaran hebat yang menghanguskan seluruh rumah pada 2012 lalu,” ujarnya.

Menurut Leo, Mosalaki Ria Bewa, masyarakat adat  Wologai masih mempertahankan kampung adat karena tunduk dan taat pada perintah leluhur yang berpesan Susu Nggua Nama Bapu, Susu Ma’e Du’u Nama  Ma’e Dute upacara harus berjalan secara terus menerus tidak boleh terhenti, tersendat pun tidak boleh serta Mata Pi’i Wali Pi’i dari generasi ke generasi.

Dalam setahun terang Leo,terdapat 2 ritual adat besar yakni ritual ada Keti Uta yang kerap dilaksanakan secara rutin setiap bulan April yang merupakan upacara sykuran kepada leluhur dan sang pencipta yang telah memberikan hasil panen yang cukup.

Dalam ritual ini, hasil panen seperti padi, jagung dan kacang-kacangan dipersembahkan terlebih dahulu baru sesudahnya bisa dikonsumsi oleh masyarakat ada Wologai.

Juga terdapat ritual adat Ta’u Nggua yang biasa dilaksanakan pada September selama 3 hari yang diawali dengan ritual Wa’u Tosa atau menumbuk padi mempergunakan Lesung dan Alu dan diakhiri dengan ritual Po’o  Ta’u yakni membakar nasi di dalam bambu.

Upacara Ta’u Nggu’a Ria merupakan puncak dari semua upacara dimana setelahnya akan memasuki masa Pire atau larangan selama 7 hari.

“Selama masa ini seluruh masyarakat adat Wologai dilarang melakukan aktifitas pekerjaan seperti bertani, mengiris tuak dari pohon Enau dan lainnya semacam rituan Nyepi dalam agama Hindu,” jelas Leo.

Saat upacara adat lanjut Leo,pemotongan hewan harus dilakukan di depan rumah Lewa dan yang memasak dagingnya hanya laki-laki saja. Upacara di lakukan di pelataran di bagian paling tinggi di pelataran kampung adat yang dikelilingi kubur batu para leluhur.

Bagian pelataran ini dinamakan Keda atau Tubu, altar persembahan di mana bagian bawah disebut Tubu Musu sementara bagian atas yang lebih besar disebut Tubu Kanga.

“Setelah upacara di Keda setiap Mosalaki memakan beras yang dimasak dengan lauk Lokabara atau daging kera dan bila tidak ada Lokabara maka upacara adat ditunda sampai kera didapat,” kata Leo.

Selain di letakan di Tubu, persembahan berupa daging dan makanan lainnya pun diletakan di kuburan leluhur yang ada di sekeliling Tubu. Selesai upacara adat biasanya semua komunitas adat akan menari Gawi bersama di atas pelataran ini sebagai simbol kegembiraaan dan kebersamaan.

Antonius Susanto salah seorang pengunjung asal Jakarta yang ditemui di lokasi kampung adat menjelaskan, dirinya tertarik mengunjungi kampung adat ini setelah mendapatkan informasi dari para pemandu wisata di Danau Kelimutu.

Dikatakan Anton, kampung adat ini masih tetap terjaga keasliannya meski di sekelilingnya rumah-rumah warga sudah dibangun modern beratap seng dan berdinding semen serta memiliki penerangan listrik.

“Saya sangat tertarik sebab rumah ini dibangun di atas batu-batu ceper yang difungsikan sebagai tiang penyangga bangunan. Tiang  dibuat dari kayu dengan atap ilalang dan ijuk sehingga benar-benar alami,” tuturnya.

Anton mengakui sudah melihat Kampung Adat Bena di Ngada juga mirip dengan kampung adat ini. Bangunannya pun beratap ilalang dan menggunakan kayu serta bangunan rumah lainnya di pinggir jalan sepanjang jalur Ende menuju Bajawa yang berbentuk serupa.

“Kalau keasliannya terjaga terus maka ini merupakan sebuah warisan yang bisa diketahui anak cucu kita nantinya bahwa nenek moyang kita sangat mencintai alam dan mempertahankan adat budaya,” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed de Rosary/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Ebed de Rosary

Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours