Kasus Kekerasan Perempuan dan Anak di Balikpapan, Terus Meningkat

44

RABU, 17 MEI 2017

BALIKPAPAN — Upaya menyosialisasikan untuk segera melaporkan bila terjadi kekerasan perempuan dan anak kepada pihak terkait, terus dilakukan Pemerintah bersama lembaga yang fokus menangani hal tersebut. Pasalnya, dalam lima tahun terakhir kasus kekerasan anak dan perempuan meningkat di Kota Balikpapan. 

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Balikpapan, Sri Wahyuningsih

Data dari Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana (DPMP2KB) Balikpapan, mencatat pada 2012 kasus kekerasan sebanyak 36, meningkat menjadi 38 kasus di 2013. Lalu, pada 2014 meningkat lagi menjadi 67 kasus, dan pada 2015 mencapai 114 kasus. Kemudian di 2016, meningkat tajam menjadi 127 kasus.

“Dari jumlah kasus yang dilaporkan, yang paling meningkat dan mendapatkan perhatian khusus adalah kasus kekerasan seksual terhadap anak, utamanya mulai dilihat pada 2015, lalu,” ungkap Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat Pemberdayaan Perempuan dan Keluarga Berencana Kota Balikpapan, Sri Wahyuningsih, Rabu (17/5/2017).

Disebutkan, kasus kekerasan seksual terhadap anak perlu penanganan spesifik agar korban terus dipantau secara psikis. “Hingga Mei 2017, kasus kekerasan perempuan dan anak sudah mencapai 44 kasus. Tahun ini kita belum menjumlah berapa kasus kekerasan terhadap anak,” tandas perempuan yang akrab disapa Yuyun.

Menurut Yuyun, kasus kekerasan anak dan perempuan di Kota Balikpapan, cukup beragam, mulai dari penelantaran, kekerasan fisik, kekerasan psikis dengan motif dan faktor yang berbeda seperti narkoba, miras dan pornografi. “Penanganan juga berbeda, agar korban tidak trauma dalam meneruskan hidup pasca kekerasan,” katanya.

Yuyun menjelaskan, saat ini sudah banyak tempat disediakan dalam pelaporan, dan bila telah dilaporkan, pihak terkait langsung menindaklanjuti. “Setelah melapor juga diberikan perlindungan dan pendampingan. Jadi, masyarakat jangan takut untuk melaporkan bila terjadi kekerasan,” tutupnya.

Jurnalis: Ferry Cahyanti/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Ferry Cahyanti

Source: CendanaNews

Komentar