SABTU, 20 MEI 2017

CATATAN JURNALIS --- Beberapa waktu yang lalu saya berjumpa dengan seorang karib saya seorang perwira menengah TNI. Diskusi kami berdua mengenai situasi yang terjadi pada bangsa belakangan ini mengingatkan saya pada pelajaran sejarah ketika Belanda melakukan politik Devide et Impera atau adu domba.  



Pada waktu itu politik pecah belah bisa dilakukan karena adanya perbedaan etnik yang ada di nusantara lebih dari seratusan suku. Padahal seandainya semua suku itu bersatu bukan tandingan penjajah Belanda. Kekuatan Belanda adalah pada komunikasi satu arah yang selalu menekankan perbedaan di Nusantara.

Jika saja wakti itu sudah ada komunikasi antar kerajaan di Nusantara tentunya ada koordinasi. Misalnya ketika Pangeran Diponegoro diasingkan ke Sulawesi tentu saja bisa dilakukan operasi penyelamatan.

Berdirinya Budi Utomo pada 20 Mei 1908 mendatang yang dijadikan peringatan Hari Kebangkitan Nasional bisa dimaknai sebagai salah satu upaya komunikasi yang luar biasa, menyatukan pandangan bahwa kita, bangsa yang terdiri dari beragam suku bangsa harus menjadi satu kesatuan yang utuh dan menyeluruh sehingga kita akan kuat.

Meskipun begitu hingga 1998, sistem komunikasi di negara kita merupakan sistem komunikasi satu arah, sama seperti di era kolonialisme, sistem komunikasi ini adalah sistem yang menyatukan bangsa dari Sabang hingga Merauke.

Setelah reformasi dan munculnya media massa onine dan media sosial seperti Facebook,Twitter, Instagram dan lain sebagainya  arus informasi bisa dikatakan tidak teratur. Di satu sisi sistem komunikasi seperti ini punya baik, karena kita bisa terhubung dengan siapapun dalam media sosial, dan kita bisa mendapat informasi yang aktual dari internet.

Pada sisi yang lain media massa online terkadang berisi berita-berita hoax dan terkadang menyajikan hal-hal yang memecah persatuan bangsa. Demikian juga dengan media sosial seperti Facebook, atau Twitter yang seharusnya bisa menjadi sarana pemersatu bangsa, malah menjadi sarana perang gagasan yang bahkan memecah belah persatuan bangsa.

Kawan saya yang anggota TNI tersebut berpendapat, apa yang terjadi di Indonesia ini sudah kebablasan, dan masyarakat Indonesia masih kaget dengan yang namanya teknologi. Memang yang dikatakannya tidak salah sepenuhnya, selain bangsa ini masih kaget akan teknologi Indeks Prestasi Manusia bangsa ini juga masih rendah, sehingga masih mudah terhasut dengan berita yang ditampilkan di media soaial. Padahal apa yang ada di media sosial belum tentu benar adanya.

Profesor Dr. Bambang Wibawarta, Wakil Rektor Universitas Indonesia mengatakan bahwa hal tersebut karena kurangnya literasi media di masyarakat Indonesia. "Literasi media harus ditingkatkan. Dengan begitu masyarakat bisa memilah dan memilih berita," katanya kepada Cendana News, Sabtu (20/05/2017).

Selain itu, Bambang juga mengatakan bahwa semangat kebangsaan ini perlu mendapat sosialisasi dan contoh yang lebih baik dari pada pemimpin bangsa saat ini. Barangkali karena terkadang sulit membedakan mana contoh pemimpin yang benar-benar nasionalis atau hanya sekedar pencitraan.

Sementara itu pada kesempatan yang berbeda, Rektor ITS, Profesor Dr. Joni Hermana mengatakan bahwa kebebasan komunikasi selalu memberikan eforia tersendiri di tengah masyarakat.  Masyarakat bebas menyampaikan opini.

Hal ini menurut Joni akan menciptakan peluang konflik horizontal dengan sesama masyarakat maupun konflik vertikal dengan pemerintah. Rektor Institut Teknologi Surabaya ini optimis bahwa dengan sendirinya hal tersebut bisa menciptakan satu keseimbangan ."Nantinya masyarakat akan bijak seiring berjalannya waktu" pungkas Joni.

Saya jadi teringat pada diskusi saya dengan kawan perwira menengah itu, bahwa media sosial  bisa digunakan untuk membangun bangsa. Dahulu ketika bangsa ini belum mengenal e-mail, namun bangsa ini mampu untuk melakukan pergerakan melawan penjajahan.

Dengan menggunakan internet seharusnya bangsa ini mampu untuk menjaga persatuan dan kesatuan bangsa dengan cara tidak mudah percaya dengan berita-berita yang ada, selalu melakukan check and recheck, dan berpikiran jernih. Bukan malah ikut serta menghancurkan kedaulatan bangsa, dengan membawa emosi di dunia maya untuk menyebar kebencian terhadap kelompok lain di tataran dunia nyata.



Jurnalis: Yohannes Krishna Fajar Nugroho/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Yohannes Krishna Fajar Nugroho (ilustrasi), Bambang Wibawarta /dokumen pribadi.


Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours