KAMIS, 18 MEI 2017
SEMARANG --- Rendahnya minat baca masyarakat Indonesia membuat beberapa komunitas baca tergerak untuk mencanangkan budaya literasi. Menurut hasil kajian Most Littered Nation In the World 2016, minat baca di Indonesia menduduki peringkat 60 dari 61 negara.
Mahasiswa membaca di Rumah Buku Simpul Semarang.
Seperti yang dilakukan oleh Rita Afita dari Komunitas Rumah Belajar Impian Sahabat Tenggang, dirinya sengaja membuat program “one week one book” untuk meningkatkan minat baca generasi muda. Dalam program tersebut, anak-anak akan diajarkan bagaimana cara membaca buku yang menyenangkan dengan cepat, setelah itu mereka akan diberi tugas untuk membaca buku apa pun selama satu minggu kemudian diceritakan kembali isinya.

Komunitas Sahabat Tenggang sengaja membuat perpustakaan mini agar anak-anak bisa dengan mudah memilih buku yang sesuai dengan minat mereka. Lebih lanjut dirinya menjelaskan bahwa faktor lingkungan adalah salah satu penyebab yang ikut mempengaruhi budaya literasi.

“Tujuan utama dari pembangunan perpustakaan Sahabat Tenggang adalah agar masyarakat dapat belajar dan dekat dengan ilmu pengetahuan sebab buku merupakan salah satu sumber ilmu pengetahuan,” ujar Rita saat ditemui Cendana News, Kamis (18/5/2017).

Sementara itu, Muhammad Sholekan dari Rumah Buku Simpul Semarang (RBSS) menambahkan bahwa keberadaan internet juga turut mempengaruhi minat baca di Indonesia. Berdasarkan data Perpustakaan Nasional, pada tahun 2016, sebanyak 132,7 juta penduduk Indonesia tecatat sebagai pengguna internet, di mana 86,3 juta jiwa di antaranya bermukim di Pulau Jawa. Tetapi sayangnya penggunaan internet di Indonesia masih hanya sebatas berkomunikasi atau eksis di media sosial. Padahal sudah ratusan ribu e-book yang tersedia di ruang dunia maya tersebut.

Karena itulah butuh strategi yang baik untuk mengajak mahasiswa dan masyarakat agar tidak hanya belajar di dalam kelas saja, tetapi sudah mulai membiasakan diri untuk membaca di luar walaupun hanya dalam waktu yang tidak begitu lama.

“Perpustakaan yang dikelola RBSS cenderung sepi, hal ini membuktikan minat literasi belum berkembang dengan baik,” tambah Sholekan.
Rita Afita.
Sholekan menambahkan, jika mahasiswa yang dianggap sebagai generasi intelektual saja kurang mempunyai minat untuk membaca, bagaimana mereka bisa mempunyai dasar yang kuat jika menghadapi masalah. Jika hanya mengandalkan sumber dari internet dikhawatirkan mereka akan lebih mudah terpengaruh kepada berita hoax daripada menganalisis sumber masalah yang sesungguhnya.
Jurnalis: Khusnul Imanuddin / Editor: Satmoko / Foto: Khusnul Imanuddin

Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours