Kenapa Hanya Micrososft yang Diserang Malware Wannacry?

43

RABU, 17 MEI 2017

SEMARANG — Merebaknya Malware Wannacry yang menjangkiti komputer mendapat perhatian tersendiri bagi ahli IT Undip, Wijaya Wahyudi Akbar. Menurut Wijaya, Malware Wannacry adalah jenis ransomware. Jika sudah terinfeksi ransomware ini maka otomatis perangkat komputer akan terkunci. Pengguna tidak bisa mengakses atau membuka file-file yang ada karena terenkripsi oleh Wannacry.

Wijaya Wahyudi Akbar.

Saat ditemui Cendana News pada Rabu (17/5/2017), dirinya menambahkan, jika pengguna ingin filenya terbuka kembali, mereka diharuskan membayar sejumlah nominal tertentu kepada pembuat malware melalui metode pembayaran bitcoin, mata uang digital. Bitcoin sengaja dipilih supaya pembuat malware ini tidak diketahui siapa dan dimana keberadaannya.

“Namun, belum tentu apabila pengguna sudah membayar seperti yang diminta, file mereka akan dibuka oleh peretas. Karena tidak ada jaminan peretas akan membuka atau memberikan kuncinya. Bahkan bisa saja mereka menuntut bayaran lebih lagi,” tambahnya.

Dirinya menambahkan, software Microsoft Windows merupakan perangkat yang rentan diserang virus Wannacry dikarenakan berawal dari bocornya tool yang digunakan oleh National Security Agent (NSA), yaitu sebuah kode pemrograman yang memanfaatkan kelemahan sistem dari Microsoft Windows. Eksploit ini digunakan sebagai suatu metode untuk menyebarkan secara cepat WannaCry ke seluruh dunia. Group hacker yang menyebarkannya adalah Shadow Broker.

Sementara itu, Ahli IT Pascasarjana Undip, Arifin Tindi, membeberkan morfologi sistem Windows memiliki dua sisi mata pisau, yaitu user friendly dan  ketidaksadaran akan ancaman keamanan. Seharusnya pengguna rutin melakukan update Windows ataupun antivirus yang digunakan. Selain itu, jumlah pengguna windows non ori tidak sedikit sehingga tidak melakukan update secara rutin karena takut lisensi tidak aktif.

“Jika dibandingkan dengan Linux, cukup sulit menembus celah keamanan sistem operasi Linux, rata-rata pengguna linux cenderung untuk melek keamanan sistem, serta market share Linux masih tergolong kecil dalam skala bisnis,” tukas Arifin.

Karena itu, dia berharap adanya gerakan sadar IT, mulai dari hal terkecil, seperti tidak mudah tergoda dengan hal-hal yang menggiurkan di email, membuka dan mengakses link secara sembarangan, membiasakan membaca dan memahami konten informasi yang mencurigakan, dan menggunakan antivirus yang memiliki fitur update. Dia juga mengimbau kepada admin web dan sistem di instansi serta lembaga strategis untuk waspada dan melakukan up date sistem informasi serta back up data untuk menutup semua celah yang memungkinkan serangan ransomware ini.

Jurnalis: Khusnul Imanuddin / Editor: Satmoko / Foto: Khusnul Imanuddin

Source: CendanaNews

Komentar