Kiprah Wasit Pencak Silat Internasional Asal Jawa Timur

51

JUMAT, 19 MEI 2017

MALANG — Bukan sesuatu yang mudah untuk bisa menjadi Wasit Internasional di cabang olahraga Pencak Silat. Butuh kecakapan dan pengetahuan yang luas mengenai teknik Pencak Silat.

M Sjamsul Arief

Hal itu disampaikan Wasit Internasional Pencak Silat paling senior di Jawa Timur, M Sjamsul Arief kepada Cendana News, saat menjadi Delegasi Teknis dalam ajang Pekan Olahraga Mahasiswa Daerah (POMDA). “Untuk bisa tembus menjadi wasit internasional tidak bisa sembarangan. Semua harus betul-betul terukur, baik dari kecakapan maupun pengetahuannya,” ujarnya.

Wasit asal Bangkalan itu juga mengatakan, yang terpenting untuk menjadi wasit Internasional tidak ada yang namanya suap atau korupsi, kolusi dan nepotisme (KKN). Semua bergantung pada kemampuan dari masing-masing wasit.

Menurut Sjamsul, ada beberapa materi yang diberikan dalam penataran untuk menjadi Wasit Internasional Pencak Silat. Di antaranya, materi peraturan pertandingan Pencak Silat versi Persekutuan Silat Antar Bangsa (Persilat), sejarah perkembangan Pencak Silat, managemen pertandingan Pencak Silat. Termasuk juga teknik penyusunan skema dan jadwal pertandingan serta praktek peragaan gerakan pencak silat dengan beberapa jurus baku.

Sjamsul mengaku resmi menjadi Wasit Internasional Pencak Silat sejak 1991, setelah mengikuti penataran di Brunei Darussallam. Sejak itu, ia sering memimpin pertandingan-pertandingan Pencak Silat di ajang internasional, di antaranya pernah menjadi wasit dalam pertandingan Pencak Silat di Sea Games Filiphina, Sea Games Thailand, Asean Scholl Game dan Pekan Olahraga Mahasiswa Asean (POM ASEAN).

“Hanya saja sekarang saya sudah tidak turun di lapangan, posisi saya sekarang kalau tidak menjadi ketua pertandingan, ya delegasi teknik. Tugas delegasi teknik itu boleh menegur ketua pertandingan dan semua kebijakan pertandingan pencak silat ada di tangan delegasi teknik,” ucapnya.

Karier Sjamsul di dunia perwasitan pencak silat diawali dengan menjadi wasit pencak silat di tingkat Jawa Timur. Kecakapannya tersebut, mampu membawanya menjadi wasit nasional, setelah berhasil menempati peringkat pertama dalam penataran tingkat nasional. Berselang beberapa tahun, setelah kembali berhasil mengikuti penataran wasit di Brunei, akhirnya pada 1991 Sjamsul dinobatkan menjadi wasit Internasional. “Jadi, di Jawa Timur itu wasit internasional pencak silat paling senior itu adalah saya,” akunya.

Lebih lanjut, Sjamsul juga menceritakan, sebelum berkiprah menjadi wasit, ia sempat terjun menjadi atlit pencak silat selama tiga tahun (1976-1979). “Namun, karena mengalami cidera, akhirnya saya memutuskan untuk pindah ke dunia tinju,” kisahnya.

Menurut Sjamsul, aturan dalam pencak silat lebih rumit dibandingkan dengan tinju. Untuk pukulan masuk yang mengenai pada bidang sasaran sah yang punya syarat nilai, maka poinnya satu selama dilakukan dengan pukulan yang mantab, bertenaga, tidak terhalang oleh tangkisan dan blocking. Sedangkan jika tendangan nilainya dua. “Kalau menjatuhkan lawan nilainya tiga. Tapi kalau menjatuhkan dengan proses tangkapan, misalnya lawan menendang, kemudian kita tangkap dan selanjutnya kita jatuhkan poinya 1 + 3. Jadi, nilai tangkapannya itu kita beri poin 1. Begitupun dengan membanting. Selama saat membanting itu kita tidak ikut jatuh itu nilainya 3,” terangnya.

Untuk masalah pelanggaran di olahraga pencak silat itu berjenjang. Ada daerah terlarang yang tidak boleh diserang, yakni bagian leher ke atas, kemaluan, pematahan langsung persendian. Kalau memukul menyerempet kepala, maka tegurannya 1-1, dilakukan lagi maka teguran ditingkatkan 2-2, kalau dilakukan lagi, teguran ditingkatkan lagi menjadi peringatan 1 dan nilainya di kurangi -5, masih dilakukan lagi menjadi peringatan 2 dengan nilai dikurangi -10. Kalau masih juga dilakukan langsung didiskualifikasi, berarti pesilat ini sudah tidak bisa dibina.

Tapi, jika pukulan langsung ke daerah terlarang yang mengakibatkan lawan cidera itu langsung -5. Kalau dengan sengaja memukul di daerah terlarang sehingga menyebabkan lawan tidak bangkit, maka langsung didiskualifikasi.  “Jadi, kalau ada pelanggaran, kita lihat dulu kadar kualitas pelanggarannya. Menurut saya, lebih rumit aturan pencak silat daripada tinju,” pungkasnya.

Jurnalis: Agus Nurchaliq/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Agus Nurchaliq

Source: CendanaNews

Komentar