Koleksi Miniatur Sejarah Perang, Soehardjo: Belajar dari Sejarah Agar tidak Terulang

67

JUMAT, 19 MEI 2017

JAKARTA — “Sebenarnya tujuan mengkoleksi barang-barang sejarah perang untuk menambah wawasan seputar Alutsista baru yang dimiliki negara lain. Jadi bukan hanya sekedar mengkoleksi saja tetapi juga memiliki arti sejarah dari barang-barang tersebut,” sebut Soeharjo Soebardi, kolektor miniatur sejarah perang terbesar di Indonesia dan dapat dikatakan se-Asean yang juga Dewan Penasehat Museum Memorial HM. Soeharto saat disambangi Cendana News.

Soeharjo Soebardi

Kiprahnya dalam mengkoleksi miniature sejarah perang dimulai sejak tahun 1970. Dengan ketekunannya, ia mengumpulkan koleksi-koleksi ini dengan background ketertarikan terhadap seputar kemiliteran dan sejarah, baik sejarah Indonesia sendiri maupun sejarah luar negeri, terutama dalam perang dunia ke satu dan dua, sehingga beliau banyak memiliki koleksi-koleksi yang tak ternilai harganya.

Kecintaannya mengkoleksi barang-barang sejarah perang bermula ketika waktu itu mengajak jalan-jalan dan membelikan anaknya mainan dengan harapan waktu itu anaknya akan senang. Namun pada akhirnya ada pemikiran dalam dirinya akan sayang akan barang-barang yang telah dirinya beli sehingga dirinya memutuskan untuk mengkoleksi barang-barang tersebut.

Koleksi miniatur dan foto sejarah perang

Dalam mendapatkan miniature yang dinginkan kadang mengalami tantangan atau kendala dengan rebutan sama kolektor lain, disebabkan barang tersebut sangatlah terbatas, dapat dihitung jumlahnya. Bila tidak duluan mendapatkannya otomatis dirinya membeli dari tangan kedua dengan harga yang jauh lebih mahal.

“Itulah seninya dalam mengkoleksi barang-barang langka” katanya.

Menurutnya lagi, bagi kebanyakan orang yang tidak mengetahui melihat dirinya melakukan seperti itu, tentu akan bertanya, kenapa orangtua seperti dirinya memilih mainan yang dilihat seperti mainan anak kecil. Namun pada kenyataannya tidak, di negara luar terdapat komunitas atau suatu perkumpulan barang-barang langka seperti yang dirinya lakukan, dan ternyata memang kebanyakan dari para kolektor usianya hampir sama dengan dirinya.

Koleksi Soeharjo Soebardi

Kepedulian akan barang langka yang dirinya kumpulkan memiliki alasan, di antaranya karena barangnya memang sulit didapat, dan harganya bisa dikatakan cukup tinggi, sehingga tidak sembarang kolektor dapat memiliki barang-barang langka tersebut. Barang koleksi yang dirinya miliki sekarang ini tidak sembarang barang, dikarenakan barang-barang ini memiliki nilai dan arti tersendiri, dalam artian barang koleksi ini merupakan bentuk cerminan sejarah di masa lalu yang untuk generasi sekarang ini jangan sampai dilupakan.

“Sejarah-sejarah lalu yang banyak merugikan bangsa-bangsa di seluruh dunia jangan sampai terulang kembali seperti kejadian sejarah perang dunia satu, perang dunia dua, disambung dengan perang Korea,Vietnam,” sebutnya.

Menurutnya lagi, untuk mendapatkan barang-barang langka tersebut ketika dirinya tugas di Departemen Keuangan yang mendapatkan kesempatan dalam satu tahun mendapatkan jatah dua kali untuk berkunjung ke Eropa untuk mengikuti konferensi, setelah pulang biasanya dirinya singgah di suatu negara untuk mencari barang-barang tersebut. Suatu saat ketika ada konferensi di Wina, dirinya bertanya kepada salah satu rekannya mengenai tempat yang menjual barang-barang untuk para kolektor. Rekannya menyarankan untuk mendatangi tempat di stasiun kereta api bawah tanah.

Koleksi Soeharjo Soebardi

Ketika dirinya mendatangi tempat tersebut, dirinya melihat ada barang bagus, barang-barang dari zaman Nazi, seperti mobil BMW, VIPWagen, truk besar, hingga sepeda motor. Ia mengatakan, selain mengkoleksi miniature sejarah perang, dirinya juga memiliki koleksi lainnya seperti kendaraan bermotor, Mercedes benz, volkwagen, bus, mobil pemadam kebakaran, mobil-mobil polisi, serta mobil-mobil orang terkenal seperti mobil presiden Amerika, perangko, pin, korek kuping unik dari Jepang, serta uang yang beliau dapatkan dari seluruh dunia.

“Dari sekian banyak koleksi miniature sejarah perang yang saya miliki, peninggalan dari zaman Nazi yang saya anggap istimewa dan memiliki nilai tersendiri,” Jelasnya.

Untuk mendapatkan barang-barang tersebut memang dirinya harus mengetahui lokasi atau tempat toko (di Indonesia disebut pasar loak) yang terdapat di setiap negara. Sebagian besar barang koleksi yang dirinya punya didapatkan dari negara Inggris, Amerika, dan Australia, dan untuk di Asia terdapat di Hongkong.

“Untuk sekarang ini untuk mencari barang-barang seperti yang kita inginkan atau yang kita butuhkan bisa dikatakan sudah tidak terlalu sulit, dikarenakan di Hongkong sudah banyak tempat yang menjual barang-barang tersebut yang banyak diproduksi,” ucapnya lagi.

Koleksi Soeharjo Soebardi

Karena sudah banyaknya koleksi yang dimiliki bisa dikatakan sudah mencapai ribuan, dirinya selektif untuk membeli barang-barang langka tersebut, dirinya akan melihat yang sekiranya terlihat aneh, unik, dan sedikit produksinya itulah yang akan dirinya beli untuk menambah koleksi yang sudah ada.

Terkadang bila ada koleksi yang dimilikinya terdapat dua hingga lebih dirinya melakukan barter dengan kolektor lain. Untuk di Indonesia sendiri dirinya belum menemukan kolektor seusianya, hampir yang ditemukan rata-rata anak-anak muda yang tergabung dalam suatu komunitas.

“40 tahun lebih saya menggeluti koleksi, sekitar tahun 1967 atau tahun 1968 ketika saya pertama kali tinggal di Singapura. Sampai sekarang masih ada orang-orang yang memberikan informasi kadang telepon memberitahukan ada barang menarik dan unik untuk menambah koleksi saya,” ucapnya lagi.

Hingga saat ini dirinya dapat dikatakan sudah mengurangi kegiatan untuk mencari barang-barang langka dikarenakan tempat untuk menyimpan barang-barang tersebut yang sudah tidak ada. Untuk perawatan barang-barang tersebut dapat dikatakan sangat njelimet atau rada susah, dirinya memiliki tim sekitar dua atau tiga orang yang dikerahkan untuk setiap dua atau tiga bulan sekali membersihkan barang-barang tersebut. Menurutnya, walaupun barang-barang koleksinya diletakkan dalam lemari kaca dan tersimpan dengan rapi, namun yang namanya debu selalu ada.

Jurnalis: M. Fahrizal / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto: M. Fahrizal

Source: CendanaNews

Komentar