KAMIS, 18 MEI 2017
LAMPUNG --- Adanya temuan ikan mengandung formalin oleh Satuan Tugas Pangan Kepolisian Daerah Lampung terutama ikan yang berasal dari luar wilayah Lampung dan akan dilalulintaskan serta dijual di sejumlah pasar tradisional, membuat Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Selatan bergerak cepat. 
Dwi Jatmiko Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Lampung Selatan.
Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Kabupaten Lampung Selatan, Dwi Jatmiko mengungkapkan, temuan ikan berformalin berasal dari wilayah luar Lampung. Sebagai antisipasi Dwi Jatmiko mengaku telah melakukan pemeriksaan terhadap sejumlah pasar tradisional, tempat pendaratan ikan di Kabupaten Lampung Selatan.

Berdasarkan pantauan di sejumlah pasar ikan higienis tersebut, menurut Dwi Jatmiko pihaknya tidak menemukan adanya ikan berformalin terutama untuk jenis ikan tongkol, ikan simba serta ikan-ikan bernilai ekonomis tinggi yang dijual para pedagang ikan di wilayah tersebut. Ia juga menyebut, sudah melakukan imbauan kepada para pedagang ikan di sejumlah pasar untuk tidak menjual ikan dengan bahan pengawet berbahaya atau bahkan merugikan konsumen untuk mengeruk keuntungan.

“Hari ini dari pantauan sejumlah pedagang ikan mereka mengaku menjual ikan hasil tangkapan dengan cara memancing dari nelayan di perairan Kalianda bukan dari wilayah Lampung,” terang Dwi Jatmiko, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten Lampung Selatan saat dikonfirmasi Cendana News, Kamis (18/5/2017)
Yuli salah satu pedagang ikan di pasar ikan higienis Kalianda.
Selain mengimbau pedagang untuk tidak menjual ikan berformalin ia juga mengharapkan penggunaan es untuk proses pengawetan ikan. Ia pun menjamin stok ikan dari nelayan di Lampung Selatan mencukupi menjelang Ramadhan dan selama Ramadhan, khususnya dari nelayan lokal Lampung Selatan untuk ikan laut dan ikan air tawar.

Stok melimpah diakuinya membuat pembudidaya ikan di Lampung Selatan terutama jenis ikan air tawar di antaranya ikan bandeng, ikan gurame dan lele banyak dikirim ke wilayah Jakarta dan Banten. Hal tersebut juga didukung dengan banyaknya tempat pendaratan ikan di Lampung Selatan sehingga tak perlu mendatangkan ikan dari luar wilayah.

“Kita justru surplus dan mengirim ikan ke luar daerah. Jadi ikan yang dikirim dari luar pulau ke Lampung akan didistribusikan ke wilayah kabupaten lain yang jauh dari laut dan sulit ikan,” ungkap Dwi Jatmiko.

Yuli, penjual ikan di pasar ikan higienis menyebut, sehari menjual 50 kilogram ikan berbagai jenis dan tidak pernah menjual ikan dengan pengawet. Stok dan mudahnya mendapatkan es balok membuatnya menjual ikan dari nelayan lokal tanpa bahan pengawet berbahaya. Selain itu pasar ikan higienis berdekatan dengan pusat pendaratan ikan Kalianda yang mendukung adanya pasokan ikan segar.
Pasar higienis Kalianda.
“Kami puluhan pedagang menjual ikan yang dies tanpa pengawet sehingga aman dan justru ikan dari nelayan lokal,” bebernya.

Sebanyak 30 pedagang ikan di pasar ikan higienis diakui Yuli sebagian mendatangkan ikan dari wilayah pantai barat dan pantai timur Lampung dengan pasokan ikan air laut. Sementara pasokan ikan air tawar diperoleh dari pembudidaya ikan di sejumlah kecamatan di Lampung Selatan dengan stok mencukupi jelang Ramadhan.
Jurnalis: Henk Widi / Editor: Satmoko / Foto: Henk Widi
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours