Lima Anak Kembali jadi Korban Pencabulan di Maumere

0
22

SELASA, 16 MEI 2017
MAUMERE — Seorang pria beristri di Kota Maumere bernama Eginius Ferdi Rasong (47), Senin (15/5/2017) sore digelandang ke Mapolres Sikka oleh keluarga dari kelima korban untuk diproses hukum setelah dalam pembicaraan antara keluarga korban dan pelaku tidak tercapai kesepakatan.

Kasat Reskrim Polres Sikka, AKP Andri Setiawan.

Pelaku dituduh telah melakukan pencabulan terhadap kelima anak, yakni MAG (12), MAM (12), FHB (13), AFN (11), dan SGEN (9) yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Demikian disampaikan Kasat Serse Polres Sikka AKP Andri Setiawan, SIK, SH saat ditemui Cendana News di Mapolres Sikka, Selasa (16/5/2017), terkait kasus pencabulan tersebut.

Dikatakan Andri, Penyidik Perempuan dan Anak (PPA) Polres Sikka telah memeriksa pelaku dan korban dan telah menemukan adanya unsur pidana tindakan pencabulan namun pelaku tetap berkelit dan tidak mengakui perbuatan.  

“Pelaku tidak mau mengakui perbuatannya namun kesaksian korban dan para saksi sudah lebih dari cukup menjerat pelaku untuk ditahan,” jelasnya.

Pencabulan yang dilakukan, kata Andris, berlangsung sejak bulan Maret 2017. Pelaku dan kelima korban bertetangga dan saat malam hari kelima anak tersebut tidur di rumah pelaku bersama anak pelaku.

“Saat tengah malam, pelaku menggosok obat nyamuk ke tubuh korban seraya merabah bagian sensitif korban dan kejadian tersebut juga berulang di atas sepeda motor,” terangnya.

Proses mediasi dilakukan oleh tokoh masyarakat dengan mempertemukan pelaku dan keluarga korban namun usaha yang dilakukan tidak menemukan kesepakatan sehingga keluarga korban datang melaporkan kasus ini ke Polres Sikka.

“Tindak pidana tidak bisa diselesaikan dengan jalan damai dan bila sudah di tangan polisi maka model perdamaian yang ditempuh tidak akan menghentikan proses hukum,” tuturnya.

Pelaku, tandas Andri, akan dijerat pasal 82 ayat 1 dan 4 UU Rl Nomor 17 Tahun 2016 tentang Penetapan Peraturan Pemerintah Pengganti UU Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak.

Pasal 1 menyatakan, setiap orang yang melanggar ketentuan sebagaimana diatur dalam pasal 76E dipidana dengan pidana penjara paling singkat 5 tahun, paling lama 15 tahun dan denda paling banyak Rp 5 miliar.
Ayat 4 menyatakan, apabila korban tindak pidana lebih dari satu orang, mengakibatkan luka berat, gangguan jiwa, penyakit menular atau hilangnya fungsi reproduksi, dan/atau korban meninggal dunta, dipidana ditambah 1/3 dari ancaman pidana sebagaimana diatur dalam ayat 1.

Sementara itu, Koordinator Tim Relawan untuk Kemanusiaan Flores (TRuK-F) yang membawahi Divisi Perempuan dan Anak, Suster Eustchia, SSpS, menyesalkan kembali terjadinya kasus pencabulan dan kekerasan yang terjadi pada anak di Kabupaten Sikka.

Pelaku menutupi wajahnya dengan jaket hitam.

Menurut Suster Eustchia, pelaku harus dihukum berat agar bisa memberi efek jera bagi yang lainnya sehingga kasus pencabulan dan kekerasan seksual yang terjadi pada anak-anak tidak terjadi dan terus berulang.

“Kami akan mengawal kasus ini dan berharap agar aparat penegak hukum bisa menjatuhkan hukuman yang berat kepada pelaku sebab perbuatan pelaku sudah membuat korban trauma dan merampas masa depan anak-anak,” pungkasnya.

Jurnalis: Ebed de Rosary / Editor: Satmoko / Foto: Ebed de Rosary

Source: CendanaNews

Komentar