SENIN, 8 MEI 2017

MAUMERE --- Penggunaan dana sebesar 2,3 miliar rupiah untuk pembelian mobil dinas pimpinan DPRD Flores Timur (Flotim) mendapat sorotan dari berbagai kalangan masyarakat dan aktivis Garakan Rakyat Anti Kourpsi (Gertak) Flotim.

Emil Soge salah seorang warga asal Tanjung Bunga kabupaten Flores timur
Aktivis Gertak Flotim, Robert Ledor mengatakan, alokasi dana yang berasal dari APBD Flotim tahun 2017 sebesar 2,7 miliar rupiah untuk membeli mobil dinas bagi tiga pimpinan DPRD Flotim melukai hati masyarakat. Seharusnya dana tersebut dipakai untuk membiayai infrastruktur seperti jalan dan jembatan serta jaringan air bersih yang kondisinya sangat mengenaskan di kabupaten Flotim.

“Masih banyak kebutuhan dasar masyarakat seperti jalan, air dan listrik yang kondisinya sangat mengenaskan yang perlu mendapat sentuhan tangan pemerintah tapi kenapa dana tersebut dipakai untuk kepentingan segelintir oknum dewan,” ujarnya.

Ditambahkan Robert, anggota dewan selama ini selalu beteriak lantang bahwa mereka akan memperjuankan kepentingan masyarakat tapi dengan adanya alokasi dana tersebut sangat tidak tepat.

“Pemerintah dan DPRD Flotim harusnya lebih memperhatikan kebutuhan masyarakat jangan hanya menghamburkan uang untuk sesuatu hal yang bukan prioritas sebab mobil dinas buat tiga pimpinan masih sangat layak dipergunakan,” ungkapnya kepada Cendana News, Senin (8/5/2017).

Hal senada juga disampaikan Emil Soge salah seorang warga asal kecamatan Tanjung Bunga yang ditemui Cendana News Senin (8/5/207) di kota Maumere yang mengaku kesal dengan ulah pimpinan dewan yang seolah-olah mengabaikan kepentingan masyarakat.

Dikatakan Emil, jalan raya yang menghubungkan desa-desa di kecamatan Tanjung Bunga kondisinya sangat memprihatinkan dan selama ini belum pernah mendapat perhatian pemerintah sebab banyak ruas jalan yang belum pernah diaspal sama sekali.

“Apa pemerntah tidak pernah turun menijau jalan dari Waiklibang ibukota kecamatan Tanjung Bunga menuju beberapa desa di ujung timur pulau Flores hingga ke desa Patisirawalang,” sebutnya.

Bukan saja mengenaskan tambah Emil, desa Laton Liwo dan desa Patisirawalang penduduknya kalau ke kota Larantuka ibukota kabupaten Flores Timur selalu menggunakan kapal laut dengan waktu tempuh sekitar empat jam padahal sejak sekitar 20 tahun lalu sudah dibuka jalan tanah oleh TNI.

“Banyak desa yang belum memiliki jalan semen apalagi jalan aspal dan masih berupa jalan tanah sehingga bila dana tersebut dipakai membangun jalan tentu masyarakat desa tidak terisolir,” pungkasnya.
Jurnalis : Ebed de Rosary / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours