SELASA, 16 MEI 2017

SLAWI --- Tidak semua orang menyukai hal yang penuh tantangan seperti mendaki gunung ataupun hobi bercamping di tengah hutan. Tapi bagi kelompok mahasiswa pecinta alam Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Tegal merupakan sesuatu yang sangat menyenangkan.
Ade Irmanus, Ketua Mapala.
Menurut penuturan Ade Irmanus Soleh, salah seorang ketua mahasiswa pecinta alam, bahwa melakukan pendakian ke puncak gunung butuh keberanian dan membuthkan fisik yang sehat, karena segala sesuatunya mengandalkan diri sendiri, meski tetap saling bantu antar satu tim.

“Sebelum melakukan pendakian hendaknya minimal dua minggu harus menyiapkan diri dengan sering berolahraga agar tubuh dalam kondisi fit dan khususnya melatih otot-otot kaki. Siapkan juga perbekalan yang cukup untuk melakukan pendakian,” katanya.

Bagi komunitas pecinta alam mahasiswa Islam cabang Tegal sendiri pernah dikhususkan mendaki gunung Slamet dalam rangka memperingati hari Pahlawan 10 November 2014 silam. Ade mengatakan bahwa dalam melakukan pendakian secara berkelompok harus cermat dalam melihat keadaan kawan-kawan satu tim.

“Dalam pendakian gunung, hendaknya setiap anggota dalam satu tim bisa saling mengamati keadaan temannya masing-masing, jangan sampai nanti ada yang tersesat atau ada yang tertinggal. Karena itu menjadi tanggung jawab bersama khususnya ketua tim pendakian,” imbuhnya.

Ade juga menambahkan bahwa pendakian hari pahlawan sarat makna. “Kita akan tahu jerih payah seorang pejuang layaknya melakukan pendakian, berangkat bersama-sama, sampai puncak bersama-sama dan kembali dengan bersama pula. Jika telah sampai puncak gunung, maka layaknya merdeka, terbayar sudah semua jerih payah dan lelahnya perjuangan saat pendakian,” tuturnya.

Ade juga mengatakan bahwa saat melakukan pendakian ke gunung Slamet, waktu itu ada rekan satu tim yang sakit, rencana sebelum jam 03.00 pagi harus sudah di puncak tapi karena menunggu teman yang sakit pendakian ditunda hingga baru pada pukul 06.00 menuju ke puncak.

“Sesaat setelah sampai di puncak, terbayar sudah perjuangan dan kerja keras kami. Suasana saling bahu membahu beberapa hari membuat kami serasa menjadi keluarga sendiri. Bahkan kami seakan tidak percaya bahwa kami akan sampai berada pada titik tertinggi di Jawa Tengah, Puncak 3.428mdpl. Karena menurut informasi puncak gunugg Slamet cukup sulit didaki. Selain di sepanjang jalur pendakian tidak ditemukan air, tebalnya kabut juga memperpendek jarak penglihatan kami,” pungkasnya.
Mahasiswa pecinta alam HMI Tegal.
Dia juga menambahkan bahwa sesampainya di sana harapan bisa melihat fajar pahlawan (karena bertepatan hari pahlawan), tapi ternyata saat fajar menyingsing masih dalam pendakian. Namun semua itu tidak membuat mereka putus asa, bisa sampai di puncak Slamet pada tanggal 10 November sudah menjadi kebanggaan dan kebahagiaan yang tak terkira.

“Meski kami melewatkan fajar pahlawan dari puncak Slamet, tapi kami bahagia bisa sampai di puncak secara bersama-sama dan suasana tawa bercampur haru menghiasi suasana pagi itu,” kenang Ade pada Cendana News, Selasa (16/5/2017), sembari tersenyum sambil menunjukkan beberapa foto mereka saat berada di puncak Slamet.
Jurnalis: Adi Purwanto / Editor: Satmoko / Foto: Adi Purwanto


Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours