Mengenal Lebih Dekat 'Lebah Gunung', Kelompok Pecinta Alam Tingkat SMA di Jogja

63

SELASA, 16 MEI 2017

YOGYAKARTA —  Sebagai kota pelajar, Yogyakarta memiliki begitu banyak kelompok pecinta alam yang tersebar di berbagai lembaga pendidikan. Tak hanya tergabung dalam kelompok Mahasiawa saja, sekolah-sekolah tingkat atas baik SMA/SMK maupun MA tidak mau ketinggalan. Salah satunya adalah Kelompok Petualang Gunung dan Rimba (KGPR) ‘Lebah Gunung’ MAN 1 Yogyakarta.

Kegiatan KGPR Lebah Gunung [Ist]

Kelompok Pecinta Alam yang terbentuk tahun 2000 ini aktif melakukan berbagai kegiatan pelestarian lingkungan maupun pengenalan dan penjelajahan alam. Dianggotai siswa maupun alumni MAN 1 Yogyakarta, KGPR Lebah Gunung, telah banyak melahirkan para pecinta alam yang memegang teguh prinsip kepencintaalaman, baik itu rasa nasionalisme dan cinta tanah air, kebersamaan, kesetiakawanan, kepemimpinan, kesiap-siagaan, hingga kepedulian pada sesama dan pada alam.

Ketua KGPR Lebah Gunung MAN 1 Yogyakarta, Basith Fauzan yang merupakan siswa kelas XI IPA 1 mengatakan, setiap anggota KGPR Lebah Gunung selalu diajak untuk melakukan berbagai kegiatan mulai dari Rappelling, Ilmu Medan Peta Kompas, Survival, Pertolongan Pertama Gawat Darurat, Bivak hingga Packing. Baik itu melalui kegiatan materi ruang, Diklat dasar, hingga Diklat lanjutan, dengan para pembimbing baik guru, alumni maupun ahli yang secara khusus didatangkan.

“Selain itu kita juga rutin menggelar sejumlah kegiatan seperti pendakian, rafting, susur goa, hingga kegiatan seperti penghijauan, maupun pembersihan dan pengolahan sampah,” katanya di Yogyakarta, Selasa (16/5/2017).

Selain pernah meraih juara 1 nasional ajang lomba lintas alam Wanagama Relly, yang digelar Fakultas Kehutanan UGM, sejumlah alumni KGPR Lebah Gunung MAN 1 Yogyakarta, juga banyak yang telah meraih berbagi prestasi serta aktif dalam berbagai kegiatan kepencintaalaman di sejumlah Mapala Perguruan Tinggi terkemuka. Ada yang menjadi atlet nasional panjat cepat, atlet nasional lintas alam, hingga ketua Mapala Universitas YKPN, dan ketua Mapala UMY, yang baru saja menyelesaikan pendakian salah satu puncak tertinggi di dunia, Kilimanjaro.

Basith Fauzan

Basith sendiri mengaku mendapat banyak sekali manfaat dengan bergabung dalam kelompok pecinta alam. Berawal dari keprihatinannya melihat semakin minimnya kepedulian dan rasa cinta masyarakat pada lingkungan sekitar, ia pun menggabungkan diri dengan kelompok pecinta alam, sebagai wujud tanggung jawab serta kontribusinya sebagai seoang pelajar sekolah. Yakni dengan memulai dari diri sendiri untuk ikut menjaga alam dan lingkungan sekitar.

“Menjadi pecinta alam itu, melatih kita untuk bertanggung jawab pada tiga hal, yakni Tuhan, sesama manusia dan alam. Paling tidak dengan mulai melakukan hal kecil dari diri kita sendiri. Dari situ diharapkan akan banyak orang lain yang akan mengikuti,” katanya.

Tak hanya itu saja, bagi Basith, menjadi pecinta alam, juga dapat memupuk rasa nasionaisme dan cinta tanah air. Salah satunya adalah dengan belajar mengenal, mencintai dan menjaga alam nusantara dengan segala keindahan dan kekayaanya. Termasuk pula dalam menjalin rasa persatuan dan kekeluargaan antar sesama, sebagai sebuah prinsip dasar pecinta alam.

“Melakukan hal postif serta tidak melakukan hal menyimpang seperti tawuran adalah salah satu contohnya,”  katanya.

Kegiatan KGPR Lebah Gunung [Ist]

Meski masih berusia 16 tahun, remaja asal Sleman yang bertubuh kecil ini, ternyata telah banyak mencapai puncak-puncak gunung khusunya yang ada di DIY, dan Jawa Tengah. Mulai mendaki gunung sejak SMP kelas 3, sejumlah puncak gunung seperti Merapi, Merbabu, Lawu, Sumbing, Sindoro, Slamet pernah ia tapaki. Hebatnya, kecintaanya mendaki sejumlah gunung itu tetap tak membuatnya lupa pada kewajibannya sebagai seorang pelajar sekolah.

Jurnalis : Jatmika H Kusmargana / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Jatmika H Kusmargana

Source: CendanaNews

Komentar