Mesin Transplanter Minim, Petani Klaten Masih Andalkan Cara Tradisional

0
11

RABU, 10 MEI 2017

SOLO — Keberadaan mesin tanam padi atau transplanter di Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, masih tergolong minim. Dari 1.000 unit kebutuhan standar, saat ini baru tersedia 80 unit saja. Petani terpaksa masih mengandalkan cara tanam padi secara tradisional, yakni dengan menggunakan jasa buruh tani. 

Bantuan Mesin Traktor

“Untuk mesin transplanter jelas sangat kurang. Se-Kabupaten Klaten saat ini baru ada 80 unit, sementara kebutuhannya mencapai seribu lebih,” ucap Kasi Sarana Prasarana Dinas Pertanian Klaten, Wahyu Wardana kepada Cendana News, Rabu (10/5/2017).

Disebutkan, dengan luas lahan pertanian di Klaten yang mencapai 33.111 hektare  yang terbagi di 26 Kecamatan,  jumlah mesin tanam padi tersebut jauh dari kata cukup.

“Jadi memang sangat kecil sekali presentasinya jika dibanding dengan kebutuhannya,” lanjut dia.

Untuk mensiasati terbatasnya mesin transplanter, Pemkab Klaten selama ini dengan memaksimalkan mesin yang ada, yakni dengan cara bergantian. Selain itu, petani di Klaten juga masih mengandalkan cara tanam tradisional, dengan menggunakan buruh tani. Kendati demikian,  keberadaan buruh tani di Klaten juga mulai berkurang. Tidak adanya regenerasi pemuda yang mencintai tani dan beralih profesi lain mengakibatkan profesi tani kian tidak diminati.

“Alasannya tak lain karena profesi tani belum dapat mencukupi, bahkan sering kali merugi saat musim panen tiba. Kondisi inilah yang menyebabkan tani mulai ditinggalkan,” ungkap Wahyu.

Wahyu Wardana

Ditambahkan, Kabupaten Klaten saat ini tengah menggalakkan masyarakat akan cinta terhadap profesi tani. Salah satunya dengan memberikan perhatian yang lebih, baik dari kalangan eksekutif maupun legislatif, dengan adanya bantuan-bantuan berupa benih, pupuk dan juga alat pertanian.

Sementara itu, minimnya tenaga buruh tani juga dirasakan Marto Diharjo, salah satu petani asal Kecamatan Tulung, Klaten. Petani 67 tahun itu mengaku saat ini sulit untuk mencari butuh tani, baik untuk mengolah lahan maupun saat panen tiba.

“Susah cari pekerja yang mau. Kalaupun ada usianya juga sudah tua-tua. Yang muda sudah tidak mau lagi kerja di sawah,” katanya.

Dirinya berharap, profesi tani  yang pernah menjadi kebanggaan bangsa Indonesia dengan mampu swasembada pangan ini dapat ditingkatkan kembali. Terlebih bagi pemerintah agar memberikan perhatian yang lebih agar kalangan muda kembali mencintai profesi tani, sehingga tanah Indonesia kembali melimpah panen hasil bumi.

“Mudah-mudahan pekerjaan petani ini tidak akan hilang. Pemerintah harus sadar akan pentingnya petani di Indonesia. Kalau sampai  hilang bagaimana mencukupi kebutuhan anak cucu nanti,” tandanya.

Jurnalis : Harun Alrosid / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Harun Alrosid

Source: CendanaNews

Komentar