RABU, 17 MEI 2017

BANTUL --- Apa jadinya bila seorang anak dibesarkan dan dididik sepenuhnya oleh buku dan bukan oleh kedua orang tuanya? Merasa cemburu, kesepian, dan terasing, hingga memunculkan fantasi-fantasi aneh di dalam mimpi, bahkan perilaku yang mendekati gangguan jiwa. 
Fairuzul Mumtaz (pengkaji novel) dan Nunung Deni Puspitasari (penerjemah).
Itulah gambaran novel berjudul Mimpi Ayahku karya penulis buku asal Slovenia, Evald Flisar dengan judul asli My Father's Dream, yang diterjemahkan oleh Nunung Deni Puspitasari.

Dalam bedah buku, bertempat di I-Boekoe atau Indonesia Buku, Sewon, Bantul, Selasa (16/5/2017) malam, buku bergenre novel psikologi setebal 300 halaman itu diapresiasi. Sastrawan sekaligus penulis buku, Fairuzul Mumtaz, menyebut buku Mimpi Ayahku merupakan novel yang menceritakan seorang anak berusia 14 tahun bernama Adam sebagai tokoh utama.

Adam lahir dari pasangan orang tua, yakni ayah sebagai dokter dan ibu sebagai pegawai keuangan, merupakan seorang penggila buku. Kegemarannya membaca buku itu dilakukan sejak kecil, karena kedua orang tuanya sibuk dengan pekerjaan masing masing hingga memberi kebebasan pada Adam untuk membaca berbagai macam buku. Persoalan muncul ketika kebiasaan membaca buku itu membuat Adam mengalami bermacam mimpi aneh yang berhubungan dengan perilaku seks setiap hari.

Kebiasaan melakukan hubungan seks dalam mimpi secara berulang dan rutin itu, membuat Adam dianggap mengalami penyakit mental dan dicurigai sakit jiwa. Kedua orang tua Adam pun berusaha mengobati si anak dengan sejumlah cara. Salah satunya dengan cara masuk ke dalam mimpi sang anak, untuk mencegahnya melakukan hubungan seksual di dalam mimpi.

"Yang membuat buku ini unik adalah ketika si pengarang mengaburkan antara realitas kehidupan nyata dan realitas mimpi si tokoh. Sehingga pembaca akan kesulitan untuk membedakan apakah si tokoh ini sedang mengalami mimpi atau kehidupan nyata," katanya.

Menurut Fairuz, melalui buku novel Mimpi Ayahku ini, pengaraang ingin menunjukkan sisi gelap eksistensi seorang manusia. Betapa pada suatu momen pasti akan mengalami rasa kesendirian, kebohongan, kecemburuan dan keterasingan. Fairuz melihat Adam sebagai tokoh utama dalam novel ini juga merupakan korban dari keluarga tidak harmonis serta korban dari perilaku orang tua yang sibuk dengan pekerjaannya masing-masing.

Sementara itu, penerjemah buku novel Mimpi Ayahku, Nunung Deni Puspitasari, mengaku, membutuhkan waktu sekitar 8 bulan untuk dapat menyelesaikan buku ini. Waktu cukup panjang itu ia butuhkan karena harus melalukan riset dan membaca berbagai referensi tentang ilmu kedokteran maupun psikoanalisa yang banyak muncul dalam buku ini. Nunung sendiri mengatakan bahwa buku novel Mimpi Ayahku ini merupakan buku ke-2 dari penulis Evald Flisar yang pernah diterjemahkannya.

"Bagi saya, buku ini memudahkan saya untuk memahami ilmu psikologi dan filsafat. Termasuk memahami buku-buku yang sulit dipahami, seperti misalnya Tafsir Mimpi Sigmund Freud," ujar Nunung yang aktif dalam dunia panggung teater itu.
Fairuzul Mumtaz dan Nunung Deni Puspitasari.
Bagi Nunung, pesan moral yang bisa dipetik dari membaca buku ini adalah pentingnya peran orang tua dalam mendampingi anak menjalani kehidupan. Menambah ilmu dengan membaca buku merupakan hal yang penting, namun juga harus selevel dengan usia, serta dengan pendampingan. Tak cuma itu saja, buku ini juga mengajarkan bahwa memiliki teman sebaya sebagai bentuk sosialisasi itu adalah hal yang penting. Termasuk juga menjaga kedekatan dengan Tuhan.

"Di tengah perkembangan teknologi informasi seperti saat ini, kita bisa leluasa mengakses informasi apa pun dan dari mana pun. Tapi, kadang kita lupa untuk menyaring. Padahal, kita sebenarnya juga harus melihat kapasitas dalam menerima setiap informasi. Karena akan menjadi tidak bagus ketika kita menelan mentah-mentah setiap informasi yang ada," katanya.
Jurnalis: Jatmika H Kusmargana / Editor: Satmoko / Foto: Jatmika H Kusmargana
Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours