SELASA, 16 MEI 2017

SLAWI --- Mohamad Ibnu Affan, perajin yang berusaha secara turun temurun sejak dari kakeknya, sekitar tahun 1970-an.
Affan, perajin dan pemilik usaha, menunjukkan karet jok mebel dan rem becak.
Ia memproduksi khusus recycle ban bekas, bandol (ban bodol) yang diubah menjadi kursi, tempat sampah, pot bunga, karet rem becak, dan karet jok mebel. Pemasarannya di daerah Tegal. Khusus untuk rem becak sudah sampai Semarang, Jakarta, Bandung, Cirebon, dan Surabaya.

Harga per ikat adalah Rp5.000, harga rem becak 20 biji Rp7.000, kursi satu set dengan busa Rp800.000 dan yang tanpa busa Rp500.000 sebulan rata-rata omzet Rp5-7 juta. Bahan baku didapat dari ban bekas bus, truk. Biasanya ada agen bus yang mengantarkan ban-ban bekas mereka ke rumah produksi.

Biasanya, satu buah ban bisa diuabah jadi berbagai produk. 6 jodi rem becak, 80m jok mebel, kerek sumur 120m, jadi tempat sampah untuk ban besar dan dua buah tempat sampah untuk ban kecil. Harga tempat sampah kecil Rp60.000, besar Rp80.000, dan kerek sumur Rp800/meter harga grosir, dan harga eceran Rp1.500/meter.

Kendala yangg dihadapi penjual sepi karena cuaca, jika musim hujan yang laku jenis produk rem becak dan tempat sampah. Satu bulan mencapai 15 karung atau 500 kodi dan bak sampah sampai 200 pcs.
Proses pembuatan kerajinan berbasis ban.
Kalau musim kemarau yang laris adalah kerek sumur, karena pada musim ini karet sumur cepat patah kena panas dan juga karet jok mebel. Biasanya menjelang bulan puasa bisa ramai. Semua kerajinan dikerjakan oleh keluarga dan satu orang karyawan dalam sehari 100-200 ikat karet jok mebel. Produksi mengejar pesanan terkirim terlebih dahulu. 30% penduduk Desa Kabunan sendiri merupakan perajin ban bekas. Sedangkan jenis cat yang dipakai jenis cat besi dan kayu.

Ujung lingkaran ban dipakai untuk kaki dan rangka kursi atau dikenal dengan hill, baru kemudian membuat anyaman karet jok kemudian dilist dengan karet ban motor, kemudian pemasangan sandaran.

"Produk kami bisa bertahan sampai lima tahun, dibanding Cirebon yang hanya bertahan setahun. Karena di Cirebon menggunakan paku tembak dan anyamannya jarang, tapi Tegal dengan paku palu dan anyaman lebih rapat sehingga bertahan lebih lama," kata Affan.

Affan membeli harga ban bekas colt diesel Rp15.000, ban truk kontainer/bus Rp40.000, dan ban motor Rp1.000.
Kursi dari ban bekas (model kursi bisa tanpa atau menggunakan busa).
Alat pengolahan menggunakan serutan karet, terbuat dari per bus sedangkan sisa limbah produksi dikirim ke pengepul, di sana bisa dijadikan minyak karen. Dibakar dan diambil minyaknya untuk campuran aspal. Karet abunya untuk campuran karpet mobil atau motor.

Saat ini penjualan lagi terkendala, krisis ekonomi dampak Pilpres 2014 masih berimbas sampai sekarang. Sebelumnya hasil penjualan bisa mencapai dua kali lipat.
Jurnalis: Adi Purwanto / Editor: Satmoko / Foto: Adi Purwanto



Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours