Organisasi Anak Diharapkan Tekan Angka Kekerasan di NTB

56

JUMAT, 19 MEI 2017

MATARAM — Organisasi anak, seperti Forum dan Dewan Anak di Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) diharapkan berperan maksimal membantu Pemprov mengurangi angka kekerasan.

Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) NTB, Hartina

“Selain pemerintah, keberadaan Forum dan Dewan Anak termasuk NGO kita harapkan dapat menjadi corong menyampaikan kepada temannya sesama anak, kakak termasuk masyarakat untuk mengurangi kekerasan terhadap anak,” kata Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan, Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AKB) NTB, Hartina di Mataram, Jumat (19/5/2017).

Mengingat keberadaan Forum dan Dewan Anak dinilai akan lebih mampu dan mudah melakukan pendekatan secara persuasif, baik dengan orang tua maupun anak yang selama ini kerap menjadi pelaku dan korban kekerasan.

Khusus kekerasan seksual masih menjadi kasus paling mendominasi menimpa sebagian anak di NTB. Ia mengatakan, upaya menekan angka kekerasan terhadap anak misalkan dengan mengajak orang tua senantiasa mendampingi dan mengawasi pergaulan anak supaya tidak terjerumus ke dalam pergaulan yang salah.

“Kampanye pendewasaan usia perkawinan bagi anak juga harus terus dilakukan, khususnya di Kabupaten Lombok Timur dan Kabupaten Lombok Tengah sebagai Kabupaten yang selama ini menjadi kantung terbesar kasus kekerasan terhadap anak,” jelasnya.

Ditambahkan, untuk memulihkan kembali anak-anak korban kekerasan, terutama kekerasan seksual, pihaknya juga menggandeng Lembaga Perlindungan Anak melalui program trauma hiling dengan mengajak mereka bermain, dan bergembira untuk menghilangkan trauma dialami.

Sebelumnya Kepala Dinas Sosial NTB, Ahsanul Khalik menyebutkan selama tahun 2016, kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak di NTB mencapai 300 kasus.

Sementara berdasarkan data Polda NTB, termasuk yang ditangani Polres Kabupaten Kota selama 2016,  kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak mencapai 200 kasus.

Dari 200 kasus tersebut, terdiri dari kasus pemerkosaan enam kasus, kasus persetubuhan 76 kasus, kasus pencabulan 106 kasus, dan 12 kasus lain.  34 kasus di antaranya dalam proses penyelidikan, 89 kasus sudah tahap penyidikan.

Sementara kasus kekerasan yang melibatkan anak sebagai pelaku kejahatan berhadapan dengan hukum sebanyak 120 kasus. KDRT terhadap perempuan 178 kasus, TKW tujuh kasus dan trafficking sebanyak enam kasus.

Jurnalis : Turmuzi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Turmuzi

Source: CendanaNews

Komentar