Pariwisata di Sumbar Belum Terkelola dengan Serius

49

SENIN, 15 MEI 2017

PADANG — Wakil Gubernur Sumatera Barat (Sumbar), Nasrul Abit, kembali mengingatkan kabupaten/kota untuk serius dalam menggarap pariwisata di Sumbar. Karena, saat ini yang dibutuhkan keseriusan dari daerah.

Wagub Sumbar, Nasrul Abit.

“Jangan hanya omong-omong saja. Contohnya, ada daerah yang mengatakan punya 10 obyek wisata. Namun bagi saya itu nol. Cukup satu saja namun benar-benar serius menggarap kawasan wisata tersebut,” ungkapnya saat kegiatan bimbingan teknis digitalisasi industri pariwisata Indonesia, Senin (15/5/2017).

Ia mengatakan, dari 19 kabupaten/kota, ada 12 yang serius untuk menggarap pariwisatanya. Setelah dirinya mengkonfirmasi lagi malah kurang dari 12 tersebut. Sehingga ia meminta kepada Kepala Dinas Pariwisata Sumbar tidak perlu ramai-ramai bikin MOU, akan tetapi cukup yang serius saja.

“Jadi, yang serius datang saja ke kita. Maka, akan kita setujui program pariwisatanya. Aturannya pada 2018 sudah ada program pariwisata setiap daerah. Namun, nyatanya hingga saat ini belum ada satu pun. Belum ada tergarap program pariwisata di kabupaten/kota,” katanya.

Selain itu, Wagub juga menilai tempat-tempat wisata yang ada di daerah belum siap dalam segi insfrastruktur. Karena, masih banyak beberapa daerah yang tidak siap dalam infrastruktur. Contohnya, masih ada obyek wisata yang belum memiliki kamar mandi.

“Saya ada kunjungi satu tempat wisata. Malah kamar mandi saja tidak ada. Sehingga, terpaksa untuk buang air kecil mesti ke semak-semak. Ini kan sungguh tidak bagus untuk pariwisata Sumbar,” tuturnya.

Untuk itu, ia meminta kabupaten/kota untuk menyiapkan infrastruktur pariwisata dengan sebaik-baiknya, mulai dari infrasturkutur bangunan, parkir rest area, mushola, dan kamar mandi. Sebab, saat ini Sumbar masuk kawasan wisata halal.

Nasrul juga menilai, salah satu obyek wisata di Sumbar yang sangat terkenal di dunia yakni Desa Terindah di Pariangan, yang saat ini perlu dukungan infrastruktur yang memadai terutama jalan. Karena, di sana jalan yang ada masih kecil.

“Saya sudah meminta kepala daerah yang bersangkutan untuk memperlebar jalan. Sehingga, orang saat menuju ke sana sangat menikmati perjalanan dengan akses jalan yang lebar. Lalu, perlunya lokasi parkir apalagi untuk bis-bis besar. Serta adanya satu angkutan oplet kecil yang terbuka sehingga wisatawan dapat melihat pemandangan dari atas kendaraan. Ini juga dapat diusulkan kepada warga setempat untuk membuat rute kendaraan tersebut dan akan meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat,” tuturnya. Sehingga, diperlukan ide kreatif dari masyarakat dan pemerintah untuk menciptakan inovasi yang baik untuk daerah-daerahnya yang bakal meningkatkan kemajuan pariwisata.

Wagub juga menyebutkan, diperlukan even-even di setiap daerah kabupaten/kota. Sehingga, setiap bulan ada even yang dapat menarik pengunjung datang ke daerahnya di luar even tetap. Jangan, sampai bersamaan namun atur waktunya.

“Kita dapat mencontoh daerah Banyuwangi yang memiliki even 52 buah. Itu di luar even tetap dan biaya pun didapat dari sponsor. Jadi, kita dapat mencontoh daerah tersebut menjadi referensi pengembangan wisata kabupaten/kota,” ulasnya.

Kawasan wisata yang ada saat ini memang perlu diperbaiki segala hal yang masih kurang. Untuk itu, juga perlu adanya digitalisasi industri pariwisata. Digitalisasi dalam pelayanan pariwisata Sumbar, Nasrul menyambutkan, berupa promosi wisata yang merupakan sebuah upaya marketing dalam memasarkan produk yang ditawarkan. Apalagi, saat ini semua sudah serba teknologi.

“Pesan tiket, lihat lokasi wisata sudah serba teknologi. Untuk itu, saya minta agen-agen travel di Sumbar dalam mempromosikan paket-paket wisata mesti mengikuti arus yang ada, jika tidak pasti bakalan ketinggalan,” katanya.

Menyikapi hal tersebut, Ketua Umum Association of the Indonesia Tours and Travel Agencies (ASITA) Sumbar, Ian Hanafiah, menyebutkan, digitalisasi ini mesti diikuti seluruh agen travel wisata di Indonesia, termasuk Sumbar.

“Ini sudah pesan menteri. Bahwa travel agen wisata yang tidak mengikuti digitalisasi siap-siap saja menjadi almarhum. Karena saat ini sudah serba digital,” katanya.

Lanjuntya, dengan adanya pencerahan digital dari kementerian ini, pemikiran travel agent di Sumbar dapat terbuka untuk mengikuti arus digitalisasi.

Ian menilai, saat ini generasi muda lebih cenderung melakukan aktivitas online ketika ingin berlibur pada suatu daerah yang dituju untuk melakukan wisata. Berbeda dengan generasi seniornya. Namun, generasi senior juga sudah ikut melakukan digitalisasi karena mereka dapat dibantu oleh generasi muda tersebut untuk melakukan proses pemesanan paket wisata serba digital.

Suasana bimbingan dan teknis terhadap para agen wisata yang diselenggarakan Kementerian Pariwisata.

“Program digitalisasi ini merupakan jangka panjang, anak-anak sekarang akan menjadi orang dewasa dan tentu akan memanfaatkan produk digital. Bagi saya, tentu ini cukup bagus, karena bisa melayani secara cepat,” tegasnya.

Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Editor: Satmoko / Foto Muhammad Noli Hendra

Source: CendanaNews

Komentar