Pembudidaya Padi Organik Penengahan Mulai Lirik Beras Hitam

47

JUMAT, 19 MEI 2017

LAMPUNG — Sukses mengembangkan beras organik dengan varietas tanaman padi jenis IR 64 dan Ciherang membuat sebagian petani yang tergabung dalam kelompok penanam padi organik mulai mengembangkan varietas beras hitam di lahan yang mereka miliki. 

Umar Said penanam padi hitam di Desa Tanjungheran menunggu panen padi hitam miliknya

Umar Said (45) yang merupakan salah satu petani di Desa Tanjungheran Kecamatan Penengahan mulai membudidayakan tanaman padi hitam organik tanpa pupuk kimia di lahan seluas 50×20 meter sebagai tahap pengembangan awal. Sementara di lahan lain ia menanam beras organik yang tengah dikembangkannya dengan varietas IR 64 dan Ciherang pada lahan seluas 800 meter persegi.

“Pasokan air dari Gunung Rajabasa yang cukup lancar membuat usaha sektor pertanian di wilayah tersebut sangat menjanjikan dan saat ini tengah menjajaki pengembangan beras hitam yang dipercaya memiliki khasiat bagi kesehatan,” sebutnya.

Umar Said menyebut awal mulanya diajak oleh petani penanam beras hitam organik lainnya, Wagiyo dari Desa Pasuruan Kecamatan Penengahan sebagai ketua kelompok tani Minang Jaya. Berbekal bibit sekitar lima kilogram, ia mulai mengembangkan pada sebagian lahannya sekaligus untuk pembibitan dan pengembangan.

“Selain sebagai selingan, beras hitam yang saya tanam pada musim kedua ini akan saya gunakan untuk konsumsi sendiri sebagai pengganti nasi putih bagi penderita penyakit jantung dan juga untuk dijual karena harganya cukup lumayan,” terang Umar Said salah satu penanam padi hitam di Desa Tanjungheran saat ditemui Cendana News di lahan sawah miliknya, Jumat (19/5/2017).

Berbeda dengan tanaman padi biasa yang hanya memakan usia sekitar 100-110 hari hingga panen, padi hitam lebih lama dengan usia panen mencapai 130-135 hari. Namun berkat ketekunanannya tersebut peluang bisnis beras hitam diakuinya mulai membuahkan hasil dengan adanya permintaan pasar yang tinggi.

Harga yang menjanjikan dengan kisaran Rp45-50ribu per kilogram juga menjadi peluang bisnis pertanian yang menjanjikan. Lebih mahal dari beras organik yang ditawarkan dengan harga Rp15-20ribu per kilogram sementara harga beras biasa dijual berkisar Rp9.000 hingga Rp12.000 per kilogram.

Wagiyo ketua kelompok tani Minang Jaya penanam padi organik dan padi hitam organik di Desa Pasuruan

Salah satu petani lain yang mengamini pernyataan Umar Said adalah Wagiyo warga Desa Pasuruan yang juga binaan dari Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Lampung Selatan. Wagiyo mengaku proses penanaman padi hitam memang lebih lama dari padi biasa namun dengan kesabaran nilai jual beras hitam yang menguntungkan secara ekonomis bisa menjadi pilihan.

“Kalau memperhitungkan lamanya waktu dari proses penanaman hingga pemanenan memang lama namun saat ini petani dituntut bisa kreatif melakukan penanaman jenis yang beragam untuk memaksimalkan hasil,”terang Wagiyo.

Umar Said yang mempekerjakan dua karyawan bahkan mempergunakan limbah sisa panen berupa jerami untuk ditebarkan di lahan seluas 800 meter persegi untuk pupuk. Proses pembusukan selama beberapa hari diakuinya akan menjadi pupuk alami bagi tanaman padi organik termasuk padi hitam pada musim tanam berikutnya.

Jurnalis : Henk Widi / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Henk Widi

Source: CendanaNews

Komentar