JUMAT, 19 MEI 2017

BADUNG --- Indonesia merupakan negara kepulauan terluas yang dihuni lebih dari 300 suku bangsa, mempunyai 742 bahasa dan dialek, sehingga merupakan laboratorium antropologi terbesar di dunia. Indonesia juga memiliki 64.844 peninggalan purbakala, berupa 11.616 situs dan 53.228 benda bergerak. Sekitar 1,16 persen atau 749 telah ditetapkan sebagai cagar budaya.
Pamuji Lestari
Untuk itu, Pemerintah baik pusat maupun daerah harus satu suara dan tindakan terkait pelestarian dan pengelolaan warisan budaya. Jika Pemerintah Pusat bersemangat dalam hal pelestarian dan pengelolaan warisan budaya, sebaiknya Pemerintah Daerah juga harus bersemangat. Seba, Pemerintah Daerah lebih mengetahui prioritas dan potensi dalam pelestarian serta pengelolaan warisan budaya di daerahnya.

“Sinergitas antara Pemerintah Pusat dan Daerah harus lebih kuat untuk hal itu. Kemenko PMK sendiri, akan terus menjalankan fungsi koordinasi, sinkronisasi dan pengendalian (KSP) terkait Pelestarian dan Pengelolaan Warisan Budaya, “ ungkap Asisten Deputi Warisan Budaya Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK), Pamuji Lestari, dalam Rakor Pelestarian dan Pengelolaan Warisan Budaya Sebagai Basis Pembangunan Budaya dan Karakter Bangsa, di Kuta Bali, Jumat (19/5/2017).

Hingga kini, terang Lestari, sudah 16 warisan dunia UNESCO terdapat di Indonesia yang terdiri dari warisan budaya, warisan alam dunia dan warisan budaya tak benda. Untuk warisan budaya, ada 4, yakni Candi Borobudur, Prambanan, Situs Manusia Purba Sangiran dan Subak Bali. Sedangkan Warisan Alam Dunia, yakni Taman Nasional Ujungkulon, Taman Nasional Komodo, Tropical Rainforest of Sumatera (TRHS), Taman Nasional Lorentz. Ada juga 8 warisan budaya tak benda seperti batik, keris, angklung, batik pekalongan, wayang, tari saman, noken tari tradisi Bali. Di samping itu, saat ini Indonesia juga memiliki 18 tentatif list daftar warisan dunia untuk UNESCO.

Warisan Dunia, apapun bentuknya, harus memiliki nilai ekonomi bagi masyarakat sekitar sehingga menyejahterakan. Masyarakat jangan hanya menjadi penonton. Masyarakat harus terlibat langsung, karena warisan-warisan budaya itu bisa menjadi obyek wisata, sehingga muaranya turut mendorong target Pemerintah mencapai 20 juta wisatawan hingga 2019.

“Warisan budaya yang telah terdaftar di UNESCO harus tetap dijaga kelestariannya, agar status warisan dunia tak tercemar. Karena itu, sinergitas antara Pemerintah Pusat dan Daerah diperlukan untuk menjaga nama warisan dunia UNESCO yang ada di Indonesia,” ujarnya.

Upaya pelesatarian pengelolaan warisan budaya dan alam Indonesia memang menjadi perhatian utama Pemerintah. Melalui SK Menko PMK nompr 20 pada September 2016, lalu, telah dibentuk Tim Koordinator Pelestarian, Pengelolaan Warisan Budaya dan Alam Indonesia. Pembentukan Tim ini dengan dasar pertimbangan, bahwa warisan budaya dan alam Indonesia merupakan kekayaan bangsa yang perlu dilestarikan dan dikelola secara tepat, melalui upaya pelindungan, pengembangan dan memanfaatkan dalam rangka memajukan kebudayaan nasional untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat.

Selain itu, dalam rangka mengoptimalkan upaya pelestarian dan pengelolaan warisan budaya dan alam Indonesia secara berkelanjutan, perlu adanya koordinasi lintas kementerian dan lembaga, melalui pembentukan tim koordinasi pelestarian dan pengelolaan warisan budaya dan alam Indonesia.

Anggota dari Tim Koordinasi mencakup 12 Kementerian, di antaranya Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional atau Kepala Badan Perencanaan Nasional, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Pertanian, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pariwisata, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Komunikasi dan Informatika, dan Kementerian Sosial.
Jurnalis: Shomad Aksara/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Shomad Aksara
Bagikan:

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours