MINGGU, 14 MEI 2017

BANJARMASIN ---- Peminat rumah bersubdi masih cukup rendah di Kalimantan Selatan seiring belum membaiknya bisnis komoditas dan turunannya. Pemilik perusahaan developer PT Herlina Perkasa, Hasbullah, mengatakan penjualan unit rumah bersubsidi dan rumah murah belum ada kenaikan signifikan ketimbang dua tahun sebelumnya. 

Hasbullah.
Menurut dia, fluktuasi kenaikan harga batubara agaknya belum berdampak positif terhadap penjualan hunian di Kota Banjarmasin. Kalau dua tahun lalu biasanya pihaknya bisa akad sampai 60 unit rumah per bulan.

"Mulai awal 2017 sampai sekarang, maksimal hanya bisa melakukan akad cuma 25 unit rumah saja," ujar Hasbullah ketika ditemui di Banjarmasin, Ahad (14/5/2017).

Ia mengakui lemahnya daya beli masyarakat akibat belum stabilnya perekonomian Kalimantan Selatan yang ditopang bisnis komoditas batubara dan perkebunan sawit. Itu sebabnya, kata dia, banyak masyarakat menahan diri membeli rumah setelah pendapatan mengalami penurunan.

Menurut Hasbullah, kondisi semakin runyam setelah ada kebijakan kenaikan listrik, tarif pemakaian air, dan bahan bakar minyak yang naik turun.

"Makin menambah beban pengeluaran masyarakat. Sehingga mereka pun untuk sementara waktu banyak mengurungkan diri untuk membeli rumah," jelasnya.

Agar perumahan bersubsidi yang dibangunya tetap laku, ia menjualnya dengan harga Rp120 juta per unit. Harga ini memang jauh lebih murah ketimbang harga standar perumahan bersubsidi yang dibandrol sekitar Rp135 juta. Hasbullah terpaksa memangkas omset di tengah perekonomian lokal yang tak kunjung pulih.

"Daripada banyak yang tak laku, lebih baik kami jual dengan harga yang lebih murah. Memang keuntungan menjadi lebih sedikit, asalkan masyarakat bisa memiliki rumah sendiri tanpa harus mengontrak," ia berujar.

Dewan Pengurus Daerah (DPD) Real Estate Indonesia Kalimantan Selatan menargetkan sekitar 10.000 rumah terbangun pada 2017. Dari jumlah itu, 80 persennya di dominasi oleh rumah bersubsidi.

Ketua DPD REI Kalsel Royzani Syahriel mengatakan pembangunan perumahan bersubsidi lebih menjanjikan daripada perumahan elit. Royzani mengklaim banyak anggotanya lebih memilih mengembangkan rumah bersubsidi ketimbang perumahan elit.

Katanya peminat masing-masing segmen sama-sama turun, tapi lebih turun lagi peminat rumah elit. Kalau rumah bersubsidi paling penurunannya 20-30 persen, sedangkan perumahan elit bisa sampai 50-70 persen.

"Walaupun pasarnya menjanjikan, namun sejumlah tantangan tetap menghadang pengembang untuk bisa mendorong realisasi pembangunan rumah bersubsidi agar dapat sesuai target," ujar dia.

Menurut Royzani banyak tantangan yang mesti dihadapi pengembang, seperti makin ketatnya perbankan mengucurkan kredit perumahan kepada pekerja di sektor informal. Tantangan berikutnya terus tingginya harga lahan dan bangunan setiap tahunnya.

Akibatnya pengembang sering kesulitan membangun perumahan bersubsidi yang bisa mendatangkan keuntungan kompetitif.

Adapun tantangan terakhir, kata dia, masih banyak daerah mempersulit perizinan pembangunan perumahan. Hal tersebut tentunya sangat berdampak pada membengkaknya biaya yang harus dikeluarkan oleh pengembang.

"Banyak tantangan yang harus dihadapi, kami terus berupaya memenuhi target tersebut agar bisa tercapai. Sampai Maret 2017 lalu pencapaiannya cukup bagus, sudah terbangun sekitar lebih dari 2.000 unit," ujar Royzani.

Jurnalis: Diananta P. Sumedi/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Diananta P. Sumedi
Bagikan:

Irvan Sjafari

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours