Pendekatan Kebudayaan Strategi Perkokoh Persatuan Bangsa

49

JUMAT, 19 MEI 2017

SEMARANG — Semakin pudarnya rasa cinta terhadap tanah air dapat membuat menurunnya solidaritas sosial antar sesama. Hal tersebut akan berimbas kepada kerawanan, baik dalam bidang politik hingga keamanan di negara ini. 

Ketum Badko HMI Jateng-DIY, Husnul Mudhom

Menurut Kepala Badan Kesatuan Bangsa Politik (Kesbangpol) Kabupaten Pati Jawa Tengah, Sudartomo, saat ini yang paling mengkhawatirkan adalah pergeseran terhadap nilai-nilai etika dalam kehidupan berbangsa dan negara. Penghargaan terhadap nilai budaya dan bahasa, nilai solidaritas sosial, musyawarah mufakat yang merupakan bagian dari rasa cinta tanah air semakin menghilang digantikan serangkaian tindakan yang hanya mengandalkan kepentingan kelompok semata

Padahal, kecintaan terhadap rasa tanah air merupakan fondasi dari nilai kebhinekaan yang merupakan rahmat Tuhan YME sebagai bagian dari falsafah kekayaan bangsa, sehingga merupakan warisan yang berharga bagi generasi mendatang

“Sejarah telah menunjukan bahwa suku-suku bangsa yang mendiami wilayah nusantara ini dengan keanekaragaman budayanya sejak dulu sudah saling berhubungan dan berinteraksi,” kata Sudartomo dalam sambutannya di Seminar Pemeliharaan Hubungan Etnisitas dengan negara di Kabupaten Pati, Jumat (19/05/2017)

Karena itulah langkah utama yang perlu ditempuh dalam rangka membangun kehidupan baru bagi bangsa Indonesia di masa depan adalah menggunakan salah satu asas dalam konsepsi kemandirian lokal, yaitu pendekatan kebudayaan sebagai bagian utama dari strategi pembangunan masyarakat dan bangsa indonesia.

Peserta Seminar Pemeliharaan Hubungan Etnisitas dengan Negara

Senada dengan Sudartomo, Ketua Umum Badko HMI Jateng-DIY, Husnul Mudhom menambahkan, sebagai generasi muda, banyak sekali tantangan yang harus diselesaikan untuk dapat kembali mempersatukan bangsa. Pemuda harus memahami permasalahan yang terjadi secara utuh kemudian secara cepat dan tepat menemukan solusinya

Untuk bisa memahami permasalahan secara utuh yang diperlukan adalah wawasan akan khasanah ilmu pengetahuan, dengan begitu pemuda bisa menjadi tameng dari gerakan hoax yang saat ini mendera masyarakat.

Dirinya mengakui bahwa hoax adalah salah satu penyebab utama kerawanan sosial, karena itu dirinya mengajak pemuda untuk mau meluangkan waktu minimal satu jam perhari untuk membaca daripada menghabiskan waktu lima detik untuk menekan tombol ‘share’ di media sosial

“Sejarah bangsa Indonesia dibangun atas pemikiran pemuda dari suku dan agama yang berbeda, mereka adalah para founding father yang mempunyai keilmuan luas,” tukasnya

Husnul berharap, perkembangan teknologi di Indonesia bukan dijadikan sebagai sarana untuk menyebar berita hoax, tetapi lebih sebagai pengejawantahan sarana ilmu pengetahuan sehingga makin memperkokoh persatuan dan kesatuan bangsa.

Jurnalis : Khusnul Imanuddin / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Khusnul Imanuddin

Source: CendanaNews

Komentar