JUMAT, 12 MEI 2017

PADANG --- Dinas Pendidikan Sumatera Barat (Sumbar) menetapkan pendaftaran penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) untuk jenjang pendidikan di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) dilaksanakan serentak pada 5 Juni mendatang. Sementara untuk sistem penerimaan yang digunakan dengan menggunakan pola rayonisasi.
Kepala Dinas Pendidikan Sumbar, Burhasman.
Kepala Dinas Pendidikan Sumbar, Burhasman Bur, mengatakan, aturan tersebut dalam arti masih mendahulukan penerimaan bagi masyarakat Sumbar yang berdomisili di dekat sekolah. Sistem rayon tersebut dilakukan, supaya para pelajar bisa bersekolah yang tak jauh dari tempat tinggalnya.

"Jadi, orang tua harus mendaftarkan anaknya ke sekolah yang berada di lingkungan tempat tinggalnya," kata Burhasman saat dihubungi, Jumat (12/5/2017).

Menurut Burhasman, dengan adanya sistem rayonisasi tersebut, seluruh masyarakat akan mudah mendapatkan akses pendidikan yang dekat pemukiman. Bur menilai, sistem tersebut juga bisa memecah konsentrasi siswa di sekolah unggulan ketika PPDB dimulai, serta dapat meratakan jumlah siswa di seluruh sekolah.

"Sistem rayon ini kan juga upaya untuk mencegah penumpukan pendaftaran pada satu sekolah. Aturan ini juga memastikan daya tampung setiap sekolah terpenuhi," sebutnya.

Meski demikian, ia menyatakan, tidak menutup peluang bagi masyarakat yang berada di luar daerah, untuk mendaftarkan anaknya ke sekolah tertentu. Untuk teknisnya, katanya, setiap sekolah diminta untuk mendahulukan menerima masyarakat yang mendaftar berada di lingkungan terdekat dengan kuota 30 persen.

"Setiap sekolah akan membuka kuota 30 persen sesuai daya tampung. Jadi, masyarakat yang berada di sekitar sekolah, tidak perlu khawatir untuk tidak diterima karena telah diterapkan sistem rayon tersebut," ujarnya.

Bur berpendapat, apabila dalam pelaksanaan PPDB nanti ternyata jumlah pesertanya membludak dan melebihi kuota dari daya tampung yang telah ditetapkan pihak panitia, maka akan menerapkan siswa seleksi tertulis. Tetapi jika tidak, maka akan dilihat berdasarkan perangkingan nilai saja dari nilai tertinggi hingga terendah.

"Jika calon siswa melebihi kouta, nanti pihak panitia akan melakukan seleksi tertulis untuk mengukur kemampuan mereka. Disamping berpatokan pada nilai kelulusan dari tingkat sekolahnya masing-masing," ujarnya.

Ia menyarankan agar pilihan sekolah tidak semuanya unggulan. Karena bisa jadi tidak satu pun terpilih, sebab saingan di sekolah-sekolah unggulan sangat ketat. Jadi pilih sekolah yang kemungkinan bisa lulus dengan nilai ujian sekolah yang diperoleh.

"Untuk wilayah Sumbar, kita menyadari tidak semua calon siswa dapat tertampung di sekolah negeri. Untuk itu, mereka boleh memilih sekolah, asal masih dalam domisili tempat tinggalnya," tuturnya.

Ditambahkannya, tahun 2017 ini, semua proses pendaftaran akan dilaksanakan di setiap sekolah yang bersangkutan. Tujuannya, supaya tidak membingungkan dan menyulitkan orang tua saat mendaftarkan anaknya. "Persyaratannya, ya seperti SKL UN, Kartu Keluarga, Fotokopi Raport, Foto 3x4," jelasnya.

Sedengkan untuk PPDB sistem mandiri, ia menilai, sistem tersebut sedikit banyak akan membebani calon siswa. Setidaknya mereka harus bergulat lagi dengan kerja keras untuk belajar sedangkan mereka sudah menjalaninya dengan sungguh-sungguh saat Ujian Nasional (UN).

"Jalur mandiri ini hanya untuk sekolah tertentu saja, seperti SMAN 1 Padang, SMAN 2 Padang, SMAN 3 Padang, SMAN 10 Padang. Terbataslah, kalau kita buka mandiri secara bebas akan menutup kemungkinan bagi calon siswa, karena dikhawatirkan mereka yang bersangkutan akan tertinggal dari siswa lainnya," tukasnya.

Sementara itu, salah seorang orang tua murid,  yang sebentar lagi anaknya memasuki SMA, yang kini berdomisili di Air Pacah, Yanti mengatakan, sistem yang diterapkan oleh Dinas Pendidikan tersebut sangat bagus. Ia menilai, dengan cara rayonisasi itu, selain menempatkan pelajar yang tidak jauh dari rumah, juga sangat efektif untuk melakukan pengawasan oleh masyarakat sekitar.

"Misalnya anak saya hari ini bolos atau pun nakal dan diketahui oleh masyarakat, maka bisa diperingatkan oleh masyarakat, karena dikenal oleh warga di lingkungan tempat tinggalnya. Jika seandainya anak saya sekolahnya agak jauh, bagaimana bisa saya mengontrol," katanya.

Yanti juga berpendapat, dengan adanya sistem rayonisasi itu, maka tidak ada lagi soal sekolah unggul yang selama ini dinilai masyarakat umum, merupakan sekolah terbaik. Karena yang bisa sekolah itu, merupakan pelajar yang tinggal dekat dari sekolah yang dituju.

"Beruntung kalau tinggal dekat dari sekolah unggul,  bagi yang tidak, bisa menjalani pendidikan di sekolah yang sama dengan anak-anak yang sekolah tidak di sekolah unggul," ujarnya.
Jurnalis: Muhammad Noli Hendra / Editor: Satmoko / Foto: Istimewa

Bagikan:

Satmoko Budi Santoso

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours