Rayakan Tradisi Ruwahan, Warga Tegal Lempuyangan Arak Gunungan Apem

58

MINGGU, 14 MEI 2017
YOGYAKARTA —  Menyambut datangnya bulan suci Ramadan atau bulan puasa, sejumlah warga Kampung Tegal Lempuyangan, Keluarahan Bausasran, Kecamatan Danurejan, Yogyakarta, menggelar acara ruwahan atau nyadran di kampung mereka Minggu (14/05/2017) sore. Berbeda dari biasanya, acara ruwahan ini dilakukan dengan membuat dan mengarak dua buah gunungan apem, kolak dan ketan setinggi satu meter secara bersama-sama. 

Sejumlah warga mengarak gunungan apem.

Gunungan ini terdiri dari sebanyak1575 buah apem yang dibuat secara gotong royong oleh semua warga. Selain apem terdapat pula makanan lain yakni kolak dan ketan yang menjadi makanan wajib dalam kegiatan ruwahan atau nyadran.

Dalam kegiatan ini, warga mangarak gunungan apem keliling kampung, dengan iring-iringan pawai. Mulai dari bregada prajurit pria dan wanita, drumband anak-anak SD, tari-tarian dan busana daur ulang remaja, hinggga kesenian karawitan.

Panitia penyelengara, Susilo Murtiningsih, mengatakan masyarakat di kampung Tegal Lempuyangan telah melangsungkan tradisi ruahan dan nyadran sejak puluhan tahun silam. Acara ruwahan ini  rutin dilakukan setiap tahun saat memasuki Syaban dalam kalender Islam atau Ruwah dalam kalender Jawa. Kegiatan ini untuk mempersiapkan diri sekaligus menyambut datangnya bulan puasa atau Ramadan.

Mereka biasanya membuat sejumlah makanan berupa ketan, kolak dan apem, yang menjadi semacam simbol untuk lebih mendekatkan diri kepada Tuhan YME. 

“Untuk acara gunungan apem ini, kita sudah menggelar sejak dua tahun terakhir. Yakni setiap minggu ke dua bulan Ruwah. Selain melestarikan tradisi budaya, acara ini juga digelar untuk menyatukan seluruh masyarakat kampung agar lebih guyup dalam mengambut bulan puasa atau Ramadan,” kata di sela acara.

Wanita yang akrab disapa Nungki itu menjelaskan dana yang dihabiskan untuk menggelar acara gunungan apem itu mencapai sekitar Rp27 juta. Awalnya warga secara swadaya patungan untuk mencukupi kebutuhan dana tersebut.

Namun untuk tahun ini, mereka telah mendapat bantuan dana dari Dinas Kebudayaan DIY sebesar Rp17 juta. Meskipun dana bantuan tersebut masih kurang, sehingga warga secara swadaya harus menutup kekurangannya secara bersama-sama.

Selaian menggelar pawai arak-arakan gunungan apem, warga sebelumnya telah melakukan serangkaian kegiatan upacara tradisi dua hari sebelumnya. Dimulai dengan kegiatan bersih desa, ziarah ke makam leluhur, hingga kenduri bersama-sama.

“Setelah diarak, gunungan apem ini akan dibagikan pada seluruh warga,” pungkasnya.

Suasana tradisi nyadran di Kampung Tegal Lempuyangan

 Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/Jurnalis: Irvan Sjafari/Foto: Jatmika H Kusmargana
Source: CendanaNews

Komentar