KAMIS, 18 MEI 2017

MAUMERE --- Ketua Tenaga Kerja Bongkar Muat (TKBM) pelabuhan Laurens Say Maumere, Yakobus Levidon Lelang menyebutkan, kejadian operasi tangkap tangan terhadap seorang buruh TKBM akan menjadi pekerjaan rumah bagi organisasi dan dirinya akan berkoordinasi dengan pihak Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) untuk bagaimana melihat kembali aturan-aturan yang selama ini dibuat.

Para buruh yang mendatangi Polres Sikka mempersoalkan penangkapan rekan mereka
"Kalau dilihat dari sisi hukum positif ada beberapa kejanggalan yang harus diperbaiki dan kita tidak mau dengan adanya kejadian ini kegiatan bongkar muat di pelabuhan terjadi kevakuman," ujarnya.

Pihak TKBM akan selalu siap memberikan pelayanan publik kepada pengguna jasa dan secara intern juga berbenah khususnya menyangkut administrasi surat kesepakatan yang selama ini dipergunakan sebagai dasar untuk melakukan pungutan kepada pemilik kedaraan.

"Keinginan buruh TKBM untuk melakukan mogok merupakan sebuah bentuk solidaritas antar sesama buruh pelabuhan namun saya jamin aktifitas bongkar muat barang di pelabuhan hari ini saya pastikan akan normal kembali," tegasnya.

Keinginan untuk mogok memang sempat tercetus sebab bagi buruh jelas Yakobus, satu orang yang sakit semua anggota TKBM ikut merasakan dan ini hanya sebuah bentuk solidaritas dan tidak ada rencana untuk memboikot pelabuhan sehingga melumpuhkan aktifitas bongkar muat barang.

Hal senada juga disampaikan Markus Bataona salah seorang ketua kelompok TKBM saat ditemui Cendana News di kantor TKBM Kamis (18/5/2017) sore.

Markus mengatakan, memang sejak kemarin ada pembicaraan dan semua buruh siap melakukan mogok kerja bila Oris tidak dikeluarkan dari tahanan Polres Sikka. Namun karena sudah dapat keluar dengan jaminan, rencana tersebut urung dilakukan.

"Sejak pagi aktifitas bongkar muat barang sudah berlangsung dan kami juga sedikit merasa puas sebab teman kami sudah dikeluarkan sementara waktu dari tahanan," ungkapnya.

Dengan kejadian ini lanjut Markus buruh akan menghentikan melakukan pungutan terhadap kendaraan yang menggunakan jasa kapal fery Dharma Kencana untuk sementara sambil menunggu keputusan yang diambil oleh KSOP Laurens Say dan TKBM serta PT.Dharma Lautan Utama selaku pemilik kapal fery Dharma Kencana.
Jurnalis : Ebed de Rosary / Redaktur : ME. Bijo Dirajo / Foto : Ebed de Rosary
Bagikan:

ME. Bijo Dirajo

Berikan Komentar:

0 comments so far,add yours