Rujak Cingur Penyatu Arek Suroboyo

87

MINGGU, 14 MEI 2017
SURABAYA — Beragam kejadian dan isu politik di Indonesia akhir-akhir ini membuat sejumlah masyarakat khawatir perpecahan yang mungkin ditimbulkan. Tak heran jika banyak pihak berupaya mengedukasi pentingnya menjaga keutuhan bangsa dan negara yang berdasarkan kepada Bhinneka Tunggal Ika. 

Suasana Festival Rujak Uleg.

Ada banyak cara yang bisa diambil, seperti yang dilakukan oleh Wali Kota Surabaya, Tri Risma Harini. Ketika membuka acara Festival Rujak Uleg 2017 tadi pagi (14/5), Risma berpesan agar masyarakat Kota Surabaya yang sudah berusia 724 tahun bisa menjaga kebersamaan dan kesatuan.

“Di usia yang sudah tua dan dewasa ini saya ingin masyarakat Surabaya memberikan contoh terhadap daerah lain bahwa Indonesia tidak boleh ada perpecahan karena perbedaan. Sebagai anak dan cucu pejuang, kita harus meneruskan raihan nenek moyang kita yang telah memberikan contoh teladan. Meskipun berbeda-beda, kita tetap satu jua,” ungkap Risma.

Risma mengimbau kepada seluruh warga untuk tidak mudah terpancing isu yang justru akan menyebabkan kehancuran. Dirinya percaya bahwa masyarakat Surabaya tidak mudah dipecah belah oleh pihak yang tak bertanggung jawab. Masih ada banyak hal penting yang harus dilakukan daripada menanggapi persoalan dengan berujung permasalahan.

“Kita sudah bangkit, jangan sampai mengungkit kembali masalah yang pernah ada. Saya tekankan di sini kita semua bersaudara. Kita sudah bisa bangkit jadi sekarang tugas kita semua bekerja keras dan belajar. Generasi muda Surabaya tidak boleh berhenti dan capek untuk belajar. Orang tua juga harus menjadi teladan yang baik bagi anak-anak,” imbuhnya.

Tri Risma Harini.

Melalui Festival Rujak Uleg 2017, Risma dapat berkomunikasi dengan semua warga dari seluruh kalangan tanpa membeda-bedakan. Menurutnya, rujak cingur adalah sebuah produk kebudayaan kuliner yang harus tetap dilestarikan dan dijadikan alat pemersatu bagi warga.

“Semoga setelah acara ini semua warga bisa kembali meningkatkan gotong royong, kebersamaan dan kepedulian. Jangan sampai kita hancur. Kalau Surabaya tenang dan damai, saya yakin bahwa kita semua akan mudah untuk mencari rezeki, mencari makan, bersekolah dan melaksanakan aktivitas,” urai Risma.

Salah satu peserta festival, Nanda, mengemukakan pendapat yang sama dengan Risma. Ia bersyukur bisa menjadi bagian acara tersebut karena  dapat berbaur dengan masyarakat dari seluruh penjuru Surabaya. Nanda yakin bahwa dengan acara seperti ini, kerukunan dan toleransi antar warga akan semakin baik.

“Di sini kan kita tahu bahwa Surabaya itu beragam. Harus tetap menghargai satu sama lain. Bisa dikatakan sih rujak cingur ini jadi penyatu kami warga Surabaya. Yang penting toleransi dan jangan menyakiti,” kata Nanda.

Ramai-ramai menggiling.

 Jurnalis: Afif Linofian/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Afif Linofian
Source: CendanaNews

Komentar