Sewakan Payung, Setelah Itu Kuliahkan Anak

44

SENIN, 15 MEI 2017

YOGYAKARTA — Tinggal di rumah yang berjarak 1 kilometer dari kawasan pantai Parangtritis, Yasda Liani (42) warga dusun Parangendog, Girijati, Gunungkidul, selama ini menggantungkan hidupnya dari sektor pariwisata. Sudah sejak sekitar 5 tahun terakhir, ibu dua anak itu bekerja sebagai tukang sewa payung di tepi pantai Parangtritis. 

Yasa Liani dan payung sewaannya.

Setiap hari, mulai dari pagi hingga sore, ia selalu berjaga di tepi pantai untuk menunggu para wisatawan menggunakan jasa payungnya. Wanita asal Riau, yang telah menikah dan menetap di kawasan Parangtritis itu, mengumpulkan sedikit demi sedikit uang dari hasil sewa payung untuk membantu suaminya yang bekerja sebagai pelukis rumahan.

Siapa sangka, dari hasil usahanya itu, Lia mampu menguliahkan anaknya di sebuah perguruan tinggi seni terkemuka di Yogyakarta.

Lia sendiri mengaku memulai usaha sewa payung dengan bermodal 2 buah payung dan beberapa buah tikar. Setiap wisatawan yang menggunakan jasa sewa payungnya ia kenai tarif Rp25 ribu selama 2jam.

Dalam sehari, Lia mengaku bisa mendapat pemasukan rata-rata Rp100 ribu. Namun saat pantai sedang ramai, seperti akhir pekan atau libur panjang, ia bisa mendapat pedapatan lebih hingga Rp500ribu per harinya.

“Setiap 6 bulan sekali, payung itu biasanya sudah rudak. Karena terus menerus terkena angin dan uap air laut. Sehingga harus rutin diganti. Apalagi saat musim angin kencang seperti saat ini,” tuturnya kepada Cendananews belum lama ini.

Selain, menyewakan payung, Lia juga membuka udaha warung kecil – kecilan yang menghadap langsung ke pantai. Warung itu ia bangun secara bertahap dari hasil menabung bertahun-tahun.

Sebagaimana pengusaha kecil lainnya, modal menjadi masalah bagi Lia dalam mengembangkan usahanya. Pendapatannya dari hasil sewa payung, tak mencukupi untuk membeli semua kebutuhan warung.

Beruntung, adanya program Tabur Puja dari Yayasan Damandiri di dusunnya sejak beberapa tahun terakhir membuat Lia bisa mengembangkan usahanya lebih cepat. Dengan pinjaman Rp2 juta di tahun pertama dan Rp3 Juta di tahun kedua, ia bisa membeli sejumlah kebutuhan penting untuk membuka usaha warung. Mulai dari bangku kursi untuk tempat duduk pengunjung, etalase  hingga membeli stok dagangan seperti makanan dan minuman ringan.

“Saya bersukur sekali dengan adanya pinjaman Tabur Puja ini. Karena pinjaman ini sangat enak dan tidak memberatkan. Syaratnya mudah dan prosesnya cepat sekali. Jujur saja saya belum pernah menemui pinjaman yang seperti ini. Benar-benar sangat membantu pengusaha kecil seperti saya ini,” katanya.

Berkat adanya program pinjaman Tabur Puja itu, usaha warung Lia kini semakin berkembang. Ia pun juga kerap menawari penyewa jasa payungnya untuk membeli makanan atau minuman dari warungnya.

Penghasilannya pun kini semakin meningkat, hingga mencapai Rp700 ribu setiap harinya. Saat wisatawan sedang ramai, dalam satu hari ia bahkan bisa mengantongi uang hingga Rp1 juta.

“Sejak adanya pinjaman tabur puja ini. Saya jadi pingin pinjam lagi. Ya untuk mengembangkan usaha agar semakin besar dan berkembang, ” pungkasnya.

Jurnalis: Jatmika H Kusmargana/Redaktur: Irvan Sjafari/Foto: Jatmika H Kusmargana
Source: CendanaNews

Komentar