Supiati, Penjual Jamu Gedhong Lintas Generasi di Lampung

59

KAMIS, 4 MEI 2017

LAMPUNG — Kebutuhan akan kesehatan bagi masyarakat pedesaan yang masih mengandalkan khasiat jamu tradisional, membuat profesi tukang jamu masih melekat di hati masyarakat. Salah satu tukang jamu di Kecamatan Penengahan, yang masih bertahan hingga kini, adalah Supiati.

Supiati (kanan) melayani pelanggan

Wanita berusia 58 tahun tersebut, masih setia menggendong bakul terbuat dari bambu berisi sekitar 10 liter jamu setiap hari, yang dijajakannya secara keliling. Berbeda dengan tukang jamu lain yang sudah menggunakan kendaraan roda dua untuk berkeliling menjual jamu, Supiati yang berjualan jamu sejak 1988 tetap berjalan kaki. Wanita asli Purwokerto, Jawa Tengah, ini mengaku berjualan jamu mewarisi keahlian sang ibu yang juga berprofesi sebagai pembuat jamu di tanah kelahirannya.

Merantau di wilayah Lampung di daerah yang dominan dihuni Suku Jawa sebagai penjual jamu kelilling, membuatnya dikenal oleh berbagai kalangan. Ia bahkan mengaku sebagai salah satu penjual jamu gendong satu-satunya yang masih tetap bertahan dengan berkeliling menggendong jamu, dari berbagai lintas generasi yang ditemuinya.

Supiati berjualan jamu sejak usia 23 tahun, membuatnya banyak bertemu dengan pelanggan yang saat itu masih berumur belasan tahun, kini masih menjadi pelanggan jamu gendongnya hingga sudah memasuki umur puluhan tahun. “Sebagian pelanggan sudah memasuki generasi ketiga, jadi kalau dulu yang meminum jamu adalah ibunya, anaknya kini sebagian cucunya pun sudah membeli jamu kepada saya,” ungkapnya, sambil tersenyum dan membuatkan jamu gendong kepada pelanggan yang meminta jamu kunyit asem di Desa Klaten, Kecamatan Penengahan, Kamis (4/5/2017).

Supiati meramu semua jenis jamu tradisional dari bahan jahe, kunyit, asem, kencur, beras serta berbagai bahan baku pembuatan jamu. Beberapa jenis jamu produksi pabrik yang sudah dikemas juga dijualnya dilengkapi dengan royal jely, madu asli dan juga telur bebek dan telur ayam yang selalu dibawanya dalam gendongan.

Berjualan selama puluhan tahun, diakuinya dilakukan dengan berjalan kaki sembari menggendong “tenggok” atau bakul dengan botol-botol berisi cairan ramuan khusus kunyit, kunir asem, beras kencur serta ramuan jamu lainnya. Rute yang dilaluinya dari dusun ke dusun ke beberapa desa, di antaranya Desa Banjarmasin, Desa Pasuruan, Desa Klaten.

Mayoritas pelanggan jamu Supiati, saat ini meliputi kaum ibu rumah tangga, beberapa pegawai di lingkungan kantor pemerintahan kecamatan yang secara tetap didatanginya. Pada awalnya, Supiati hanya menjual beras kencur seharga Rp100, hingga kini beras kencur per bungkus plastik seharga Rp2.000.

Meski hanya berjualan jamu gendong berjalan kaki, Supiati mampu menyekolahkan kedua anaknya yang ada di Purwokerto hingga perguruan tinggi. Selain para ibu rumah tangga, sebagian ibu rumah tangga rata-rata membelikan jamu untuk anak-anak mereka. “Kalau anak-anak jamu yang banyak dibelikan oleh orangtua, di antaranya jamu penambah nafsu makan, jamu tolak angin, beras kencur serta jamu penambah stamina anak,” ungkap Supiati.

Sementara itu, pelanggan laki-laki dan sebagian ibu rumah tangga dominan membeli jamu sehat wanita, pegel linu, sari rapet serta jamu sehabis melahirkan. Dari beberapa pelanggan yang didatanginya, kini sudah memiliki cucu dan masih tetap menjadi pelanggan setia jamu gendongnya, karena sebagian besar mengaku jamu yang dibuat Supiati yang kerap dipanggil “Mbok Jamu Gaul” tersebut, cocok.

Selain disajikan dalam kondisi hangat, berbagai pilihan jamu yang disediakan juga disajikan dalam kondisi segar dan memiliki khasiat yang cukup mujarab menyembuhkan beragam penyakit.

Membawa sekitar 10 liter jamu seduh dengan tambahan jamu-jamu tradisional pabrikan, Supiati menyebut dalam sehari mendapatkan penghasilan ratusan ribu. Menjual jamu dengan harga mulai dari Rp2.000 hingga Rp10.000, sesuai jenis jamu dan tambahan kuning telur dan madu. Jadwal tetap berjualan secara keliling pun diakuinya hanya dilakukan pada hari tertentu, karena pada hari-hari tertentu, di antaranya Minggu, Jumat, Selasa, ia berjualan di pasar sejak pagi dan tak sampai siang, sudah habis.

Diana (27), salah satu pelanggan, mengaku sudah menjadi pelanggan jamu Supiati sejak masih SD, dan hingga kini selalu meminum jamu gendong dari Supiati. Saat kecil, Diana mengaku selalu dibelikan jamu beras kencur oleh sang ibu dan saat kini sudah menikah dan memiliki anak, tetap membeli jamu gendong, terutama untuk jamu sari rapet serta jamu pegal linu, sekaligus membelikan jamu beras kencur untuk anaknya. Ia menyebut, sudah tiga generasi yang berlangganan jamu dari jamu gendong Supiati, meski saat ini beraneka obat modern telah ditawarkan di apotik serta berbagai toko obat.

Ia juga menyebut, selain jamu pegal linu, bersama sang suami kerap meminta jamu pahitan atau brotowali untuk menambah nafsu makan. Jika sang penjual jamu gendong tak berkeliling, Diana menyebut tak sukar menemukan Supiati, karena setiap hari pasaran, Supiati selalu menempati sebuah lokasi di tengah pasar yang mudah ditemui oleh para penjual yang membeli berbagai kebutuhan di pasar tradisional Desa Pasuruan.

“Sejak kecil, penjual jamu gendong mampir di rumah saya dan kini juga masih tetap berkeliling. Tapi, saya sudah memiliki rumah dan usaha baru dekat pasar, jadi saya yang kerap memanggil jamu gendong untuk mampir,” ungkap Diana.

Diana juga menyebut, dengan meminum jamu dirinya bisa menjaga stamina badan, sehingga nyaris tak pernah mengeluhkan berbagai penyakit yang cukup parah atau hingga harus berobat ke dokter. Selain masih menggunakan bahan-bahan alami, jamu gendong yang dibuat dari berbagai rempah-rempah tersebut disukai oleh berbagai kalangan, dari anak-anak hingga dewasa. Teriakan “jamu, jamuuuu!” dari Supiati si penjual jamu gendong, hingga kini begitu akrab di telinga Diana dan warga lain saat Supiati si penjual jamu gendong menjajakan jamu gendong miliknya dengan berjalan kaki.

Jurnalis: Henk Widi/ Editor: Koko Triarko/ Foto: Henk Widi

Source: CendanaNews

Komentar